Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Gagal Menjadi Tuan Rumah yang Baik

Hera Marylia Damayanti • 2026-03-19 15:16:10
Moh. Subhan, Pemred Jawa Pos Radar Madura
Moh. Subhan, Pemred Jawa Pos Radar Madura

Oleh Moh. Subhan

 

"APA penyesalanmu yang paling besar hari ini?” tanya si Fulan kepada dirinya sendiri, saat takbir mulai dikumandangkan di masjid, musala dan surau-surau di kampung.

"Gagal menjadi tuan rumah yang baik,” jawabnya lirih. Sementara dadanya terasa sempit oleh sesal yang tak sempat terucap.

Ramadan telah datang ke rumahnya. Dia tidak datang sebagai bulan biasa, melainkan sebagai tamu agung yang membawa cahaya, ampunan, dan kesempatan hidup yang baru.

Pada sepuluh hari pertama, tamu itu datang dengan pakaian rahmat. Dia mengetuk pintu si Fulan dengan lembut: lewat azan yang merdu, lewat ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca, lewat panggilan salat dan ajakan berbagi.

Baca Juga: Spirit Memburu ”THR” di Sepanjang Ramadan

Namun si Fulan hanya membukakan pintu sedikit. Dia masih sibuk menghitung untung-rugi dunia. Masjid dia datangi sekadarnya, Al-Qur’an dia sentuh bila sempat, doa dia panjatkan sambil tergesa.

Fulan menyambut tamu itu, tetapi tidak memuliakannya. Lalu datanglah sepuluh hari kedua: fase magfirah, fase pengampunan.

Ramadan kembali mengetuk lebih kuat. Seolah berkata: "Masih ada waktu untuk memperbaiki diri.” Tetapi, si Fulan berpura-pura tuli. Dia menganggap Ramadan seperti tamu biasa: datang, singgah, lalu pergi.

Dia lupa bahwa setiap sujud dilipatgandakan nilainya. Setiap doa lebih dekat pada langit. Setiap air mata lebih mudah menghapus dosa.

Masjid mulai sepi. Langgar tidak lagi penuh. Musala kehilangan barisan jemaahnya. Dan hati si Fulan pun ikut kosong.

Hari-hari terus bergulir. Tanpa terasa, Ramadan memasuki sepuluh hari terakhir: fase pembebasan dari neraka. Malam-malamnya menyimpan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Namun si Fulan tetap terlambat menyadarinya.

Baca Juga: Puasa dan Krisis Inovasi Kepemimpinan

Suatu malam, dia melihat Ramadan mulai mengemas kopernya. Isinya adalah ampunan, pahala, dan keberkahan yang hampir tidak pernah dia sentuh.

Banyak orang menangis di masjid. Banyak jiwa bersujud lebih lama. Tetapi si Fulan baru terjaga saat pintu hampir tertutup.

Fulan mengejar tamunya sambil berkata: "Jangan pergi dulu, aku belum sempat berubah.” Namun Ramadan hanya tersenyum sedih. "Aku datang setiap tahun, tetapi tidak semua orang siap menerimaku.”

Saat itu, si Fulan benar-benar runtuh. Dia sadar, kesempatan tidak menunggu orang yang menunda. Dia pun berdoa, "Ya Allah, pertemukan aku lagi dengan Ramadan.”

Dia berjanji akan menjadi tuan rumah yang lebih baik: lebih rajin salat. Lebih tekun membaca Al-Qur’an. Lebih ringan bersedekah. Dan lebih takut berbuat dosa.

Tetapi, waktu terus berjalan. Janji itu terucap lagi dan lagi. Namun, selalu kalah oleh kesibukan dunia.

Baca Juga: Dari Kata ke Makna: Memahami Ayat-Ayat Puasa melalui Linguistik Arab

Hingga suatu hari, tamu bernama maut lebih dulu mengetuk pintunya. Sebelum Ramadan sempat kembali. Dan di saat itulah, si Fulan sadar, bahwa kesempatan yang disia-siakan tak pernah benar-benar kembali.

Dia menangis dengan keras. Penuh penyesalan. Namun, tak ada satu pun manusia yang mendengarnya. Sebab, dia sudah tidak ada di dunia manusia lagi.

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Allahumma taqabbal siyamana, wa qiyamana. Allahummaghfir dunubana. Wakaffir anna sayyiatina. Semoga kita semua selalu mendapatkan berkah dengan datangnya Ramadan. Aamiin. (*/han)

*)Pemred Jawa Pos Radar Madura

Editor : Hera Marylia Damayanti
#menghitung untung-rugi dunia #pengampunan #tamu biasa #kesibukan dunia #ramadan #Janji #Memperbaiki Diri #berkah #kesempatan #penyesalan