Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Menatap ke Luar, Meratap di Dalam

Hera Marylia Damayanti • Jumat, 27 Februari 2026 | 18:10 WIB

Abrari Alzael, mengajar Psikologi Universitas Annuqayah Sumenep
Abrari Alzael, mengajar Psikologi Universitas Annuqayah Sumenep

Oleh ABRARI ALZAEL

 

MENURUT survei, orang lebih khawatir dinilai sudah tua, dibanding tidak akan berumur panjang. Saat mendengar frasa pertama, seseorang bergegas, menoleh, mencari kaca, untuk bercermin; ingin membuktikan apakah benar-benar bermutu (bermuka tua), atau sebaliknya. Pada frasa kedua, orang akan bersikap biasa, menyadari bahwa tak ada yang abadi, siapa pun akan mati, pada waktunya. 

Kekhawatiran itu memicu terjadinya modifikasi. Yang rambutnya mulai memutih, di-repair, kembali menjadi hitam, atau sedikit pirang, untuk menutupi dirinya yang sudah mulai keluar dari aliran hitam.

Yang mulai keriput, bersijingkat ke salon, merawat diri dengan skincare, atau suntik lemak, atau silikon cair. Yang terlihat semakin kendur, bergerak ke operasi plastik, menghias diri. Tetapi, ada yang dilupakan bahwa tua itu takdir. Sedangkan yang boleh dipilih hanya menjadi dewasa.

Konsep diri yang seakan tidak pernah puas ini berefek domino terhadap pola mengejar isi dunia. Kebanyakan tidak pernah puas dan terus mencari, bahkan semakin tua semakin menjadi pemburu. Ini terjadi karena seseorang tidak atau belum menemukan titik takar yang menjadi patokan.

Ada banyak pihak yang memberi ukuran kecukupan itu pada sebuah gelas kecil. Gelas kecil ini ketika diisi mudah meluap dan tumpahan itu bisa menjadi berkah bagi orang lain.

Ada pihak yang lebih banyak menjadikan gelas sedang atau bahkan gelas besar sebagai takaran hidup dan karena itu hasil pencarian selalu kurang dan tak ada tumpahan yang bisa dinikmati yang lain. Bahkan, ada yang menjadikan termos sebagai ukuran pemenuhan kebutuhan dan itu sebabnya semakin sulit penuh, apalagi melahirkan tumpahan.

Target dari ukuran pemenuhan hasrat hidup ini, tidak disadari menjadikan ketimpangan yang luar biasa nganga antara satu pihak dengan pihak yang lain. Jurang ini terlihat dengan jelas di wajah bangsa ini. Yang kaya menjadi luar biasa dengan kekayaannya.

Sebaliknya, yang miskin kentara dengan kemiskinannya. Maka, benar kata warga yang cangkruan di warung kopi; kemiskinan di tanah ini menurun (dulu kakeknya, menurun ke ayah, anak, dan cucunya), miskin struktural. Ada yang menyebut bahwa penduduk pada level miskin struktural ini angkanya setara atau lebih besar dari 50 persen dari keseluruhan populasi penduduk.

Di Ramadan ini, agama mengingatkan dan menjadikan bulan puasa sebagai guidance. Ada yang harus dibagi karena agama ”memaksa”. Bagi fakir, puasa adalah religiusitas hari-hari, baik di bulan atau di luar Ramadan. Bagi yang tidak terbiasa berpuasa, maka puasa adalah sesuatu banget, sesuatu yang tidak biasa dalam rutinitas hari-hari.

Makna yang sesungguhnya dalam konteks berbagi sejatinya telah ditahbiskan Sayyidina Ali; realitas yang sesungguhnya tidak ada orang miskin, sebab yang terjadi hanya orang kaya yang enggan berbagi.

Keengganan berbagi ini ditunjukkan dalam kenyataan politik yang bermuara pada oligarki. Kaum oligarki dalam lingkar kenyamanan ini tidak memiliki takaran sebagaimana disebutkan. Syahwat berkuasa atas dinasti, terus-menerus berkutat pada atmosfer yang mengorbit di lingkaran mereka.

Negara dari perspektif kuasa oligarki dianggap milik mereka. Celakanya, kuasa menjadi lemah syahwat dan terkesan membiarkan kesaksian antiklimaks itu terjadi. Kuasa tak berdaya ketika ada yang hendak berkuasa di bumi sambil meruntuhkan langitnya.

Menjadi penting untuk mengingat kembali falsafah yang dipopulerkan Sunan Drajat, dadiyo wong seng iso rumongso, ojo dadi wong seng rumongso iso.  Seseorang yang merasa dirinya bisa dibanding bisa merasa, acapkali tercermin dalam tonil kuasa.

Narasi yang dibangun kadangkala menggelitik, menjadi isyarat hermeneutik bahwa sesungguhnya ia sedang mempertontonkan diri sebagai pribadi yang tak miliki kapasitas untuk memimpin. Kalimat yang disampaikan Samsul misalnya, tenang Pak Prabowo, saya sudah di sini; memberi tanda bahwa itu lontaran kontra produktif terhadap statement Sunan Drajat.

Ada sikap bajik, bijak, dan radik yang dilupakan bahwa narasi itu menggergaji pihak lain yang seolah-olah tidak mampu dan butuh pendampingan. Kalimat itu merendahkan, kalimat itu miskin nilai, bukan saja soal arogansi, tetapi ini menyangkut tata nilai yang terabaikan. Kealpaan ini berlanjut dan melahirkan syahwat baru dengan menempatkan dirinya di suatu tempat yang sejatinya ia tidak mampu jika berdiri di situ.

Jadi teringat saat belajar di madrasah dulu bahwa ada tiga kategori tentang manusia dan ketidaktahuan diri. Pertama, tahu bahwa dirinya tidak tahu. Kedua, tidak tahu jika dirinya tidak tahu. Ketiga, tidak mau tahu bahwa dirinya tidak tahu dan tidak mau tahu. Karena itu, mesti diberi tahu, dididik supaya mengerti bahwa ada banyak warga yang terjungkal nasibnya, baik di altar ekonomi, kuasa, maupun dalam kehidupan sosial lainnya. Karena itulah, Ronggo Warsito mengingatkan, sak bejo-bejone wong kang lali, isih bejo wong kang eling lan waspodo.

Oleh karena itu, sebelum segalanya menjadi lebih buruk, bumi, air, dan kekayaan yang terdapat di dalamnya, silakan dikuasai tetapi sebesar-besarnya tetap untuk kemaslahatan rakyat. Ini tidak semata-mata kalimat yang tertera begitu saja, tetapi ada implikasi residu manakala tidak didengar dan tidak dilihat dengan kearifan revolusioner.

Manakala jerit rakyat tidak terdengar dan tidak terlihat, sekali lagi, kuasa sedang mempertontonkan diri yang tidak menggunakan logikanya sebagai anak bangsa yang seharusnya berjiwa besar, shummun bukmun ’umyun fahum la ya’qilun.

Kuasa, saatnya eling bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak biasa di negeri ini. Rakyat yang sudah miskin secara ekonomi dan pendapatan, suaranya yang parau tidak terdengar. Mereka yang hanya memiliki suara dan ekspresi, masih juga dirampas, dibungkam, dan terkesan diintimidasi. Orang miskin memang tak melimpah harta-benda atau kuasa.

Tetapi, mereka jangan dilupakan sebagai pihak yang berniat untuk berbagi dari kekayaan idealisme yang dimiliki; kritik dan gagasan kebangsaan. Bila ide, kritik, dan gagasan juga diamputasi, lalu apalagi yang mereka punya.

Mungkin terkesan sarkas, tetapi itulah cara mereka peduli dan memberi kasih pada bangsanya. Bahwa, mungkin kedengarannya membuat telinga kuasa panas, hal ini harus disadari, jangan-jangan kuasa saat ini juga telah melempar bola panas kepada mereka.

Mungkin juga, awalnya kritik pedas warga soft landing, namun akhirnya berubah agak garang justru karena dugaan perilaku kuasa yang bengis (meminjam istilah Rocky Gerung) terhadap rakyatnya. Kuasa, dalam nyanyian Anang, Separuh Jiwaku Pergi; benar ku mencintaimu, tapi tak begini, kau khianati hati ini, kau curangi aku.

Di Bandara Singapura, Changi, seorang yang duduk di peron berbicara sinis: Indonesia, kaya. Eh, kaya benar gak sech. Ia ragu meski di televisi Presiden RI Prabowo Subianto berpidato berapi-api untuk meningkatkan banyak hal yang dibutuhkan msyarakatnya.

Tetapi, dari TV lain, terdengar suara Iwan Fals menyanyi: Ethiopia, selaksa doa penjuru dunia, mengapa tak ubah bencana, menjerit Afrika, mengerang Ethiopia. Indonesia, sama saja. Cobalah Mengerti, kata Ariel Peterpan, aku berdarah untukmu. (*/han)

*)Mengajar Psikologi Universitas Annuqayah Sumenep

Editor : Hera Marylia Damayanti
#ramadan #agama #falsafah #PEDULI #madrasah #kuasa #perspektif kuasa oligarki #miskin #ketimpangan #belajar #berbagi #kaya #berkuasa