Oleh ACH. NURHOLIS MAJID
SETIAP kali satu Ramadan ditentukan, gempita kesalihan seketika memenuhi ruang publik, dan tidak sedikit menjadi komodifikasi kesalehan. Namun, di balik gempita ritual itu, Ramadan sering kali terjebak dalam anomali paradoksal. Di satu sisi, ia diagungkan sebagai bulan penuh berkah.
Namun di sisi lain, ia kerap dijadikan legitimasi kolektif penurunan aktivitas, dan normalisasi survival mode (menahan diri) sebagai inti ibadah. Mindset ini kemudian menjadi legitimasi “tidur adalah ibadah” sebagai mentalitas seorang shaim.
Jika kita membedah esensi takwa yang menjadi output Ramadan (QS. Al-Baqarah: 183), kita akan menemukan bahwa takwa bukanlah status kesalehan yang statis.
Takwa adalah generator. Dalam diskursus pemikiran Islam kontemporer, setidaknya ada dua tingkatan fundamental bagi orang yang berpuasa (shaim) dalam mengejar takwa. Yakni, tingkatan menahan (pasif) dan tingkatan beramal produktif (aktif).
Mentalitas Menahan Diri
Sebenarnya, mentalitas menahan diri bukanlah suatu kesalahan. Memanglah benar, seorang shaim dituntut untuk melaksanakan al-Imsak al-shuri, atau menahan diri secara formal.
Seseorang dapat disebut berpuasa, jika telah melaksanakan disiplin fiqh, dengan menahan diri dari apa yang masuk dan keluar dari rongga tubuh. Secara teologis, fase ini adalah hal penting. Namun jika hal ini dianggap sebagai fase akhir, tentu perlu dikaji ulang.
Muhammad Abduh, dalam magnum opusnya Tafsir al-Manar, memberikan perspektif penting tentang fase ini. Menurutnya, penahanan diri dari makan, minum, dan syahwat, adalah sebuah latihan Taqwiyat al-Iradah atau penguatan kehendak.
Abduh berargumen bahwa puasa adalah instrumen untuk memerdekakan manusia dari perbudakan materi dan keinginan dasar. Ketika seseorang mampu berkata tidak pada kebutuhan dasar biologisnya, ia sebenarnya sedang membangun fondasi karakter untuk mampu memikul beban tanggung jawab yang lebih besar.
Namun, banyak orang yang berpuasa terjebak dalam apa yang disebut sebagai keberagamaan pasif. Mereka menahan diri, namun sekaligus mematikan potensi intelektual dan produktivitasnya. Dalam tinjauan psikologi, fenomena ini sering dikaitkan dengan penurunan motivasi karena tidak mampu mengelola energinya.
Secara medis, tubuh manusia yang berpuasa sebenarnya memasuki mode autofagi—sebuah proses pembersihan yang dapat meningkatkan kejernihan mental. Sayangnya, potensi biologis ini sering dikalahkan oleh sugesti budaya, terutama di Indonesia, yang menganggap puasa sebagai beban fisik yang melelahkan.
Akibatnya, tingkatan menahan diri sering kali berakhir menjadi masa dormansi massal, sehingga membuang waktu produktif demi menunggu detik-detik berbuka, kadang juga hanya menjadi ritual ngabuburit di hari senja. Padahal, penahanan diri ini modalitas penting sebagai dasar perjalanan spiritual Ramadan ke tahapan berikutnya.
Dari Lapar ke Amal Produktif
Jika modalitas menahan diri sudah terlaksana, seharusnya ia dapat dilanjutkan ke tingkatan kedua. Yakni transformasi dari imsak menjadi amal produktif. Ketika seseorang yang berpuasa hanya berhenti pada tingkatan pertama, maka ia masuk dalam konteks “energi terbuang”.
Orang yang berpuasa namun membiarkan pekerjaannya terbengkalai, atau seorang mahasiswa yang membiarkan diri tanpa membaca buku, karena alasan lemas, sebenarnya telah gagal memahami ruh Ramadan sebagai amal produktif.
Amal produktif dalam konteks ini disebut sebagai amal muta’addi, yaitu amal yang kebermanfaatannya berdampak secara luas kepada banyak orang, yang secara derajat, jauh lebih tinggi daripada amal yang bersifat individual (amal qasir).
Tentu, kita bisa membaca dan memahami suatu diktum bahwa produktivitas kerja adalah bentuk pengabdian tertinggi kepada Allah.
Hal ini ditegaskan dalam hadis riwayat Tabrani, "Jika ia keluar bekerja untuk menafkahi anaknya yang kecil, maka ia berada di jalan Allah (fi sabilillah). Jika ia keluar untuk menafkahi kedua orang tuanya yang renta, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia keluar untuk menafkahi dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka ia berada di jalan Allah."
Hadis di atas, menunjukkan suatu bukti bahwa amal produktif adalah ibadah penting. Ramadan seharusnya menjadi puncak dari implementasi Islamic work ethic. Artinya, kesadaran akan pengawasan Tuhan (Muraqabah) seharusnya memacu seseorang untuk bekerja dengan standar kualitas terbaik (ihsan).
Ketika seseorang meniatkan pekerjaannya sebagai bagian dari amalan Ramadan, setiap keringat yang menetes dan setiap solusi yang dihasilkan dari meja kerjanya berubah menjadi nilai ibadah yang setara dengan ribuan rakaat salat sunah.
Inilah yang oleh Dr. Yusuf al-Qaradawi dalam Fiqh al-Awlawiyyat disebut sebagai prioritas amal. Bahwa, menjaga produktivitas umat adalah kewajiban yang tidak boleh dikalahkan oleh ibadah sunah yang bersifat pasif.
Takwa, Menahan Diri, dan Amal Produktif
Pada akhirnya, segala dinamika antara menahan diri dan beramal produktif ini bermuara pada satu titik, yakni mencapai derajat takwa yang paripurna. Takwa sering kali disempitkan maknanya sebagai rasa takut kepada Tuhan dalam arti yang statis.
Namun, jika kita melihat konstruksi takwa kontemporer, takwa adalah suatu kesadaran dinamis yang menggerakkan pemiliknya dari kesadaran spiritual sebagai ketaatan dan rasa takut menjadi produktivitas sosial yang berdampak.
Orang yang bertakwa adalah mereka yang paling waspada terhadap tanggung jawabnya, baik itu tanggung jawab ritual maupun tanggung jawab sosial. Di sinilah letak derajat tertinggi orang yang berpuasa, lulus dalam menahan diri, dan unggul dalam produktivitas yang berdampak sosial.
Dengan demikian, produktivitas sosial adalah indikator kualitas puasa seseorang. Ketika nilai-nilai agama diintegrasikan ke dalam etika profesional, hal ini akan menciptakan ekosistem kerja yang shalih sekaligus mushlih.
Sehingga, takwa yang dihasilkan dari madrasah Ramadan akan melahirkan ekosistem yang utuh di luar Ramadan. Inilah takwa yang berdaya. Sekali lagi, perlu ditegaskan, bahwa Ramadan tidak datang untuk membebani manusia dengan rasa lapar yang sia-sia.
Ia mendisiplinkan raga seseorang yang berpuasa agar dapat mengabdi kepada Sang Pencipta sekaligus memberi makna bagi sesama manusia. Wallahu a’lam. (*/han)
*)Pengurus Ma’had Universitas Al-Amien Prenduan
Editor : Hera Marylia Damayanti