Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Menyambut Keistimewaan Ramadan

Hera Marylia Damayanti • Jumat, 20 Februari 2026 | 10:08 WIB

Juwairiyah, M.Pd., CPLA. wakil ketua II PC Fatayat NU Sumenep
Juwairiyah, M.Pd., CPLA. wakil ketua II PC Fatayat NU Sumenep

Oleh JUWAIRIYAH, M.PD., CPLA.

 

BULAN Ramadan tiba. Hal pertama yang kita lakukan tentunya adalah bersyukur kepada Allah SWT telah memberikan kita usia panjang, berkah untuk bertemu Ramadan tahun ini. Ada yang lupa bersyukur? Yuk, mumpung ingat. Bersyukur.

Bulan Ramadan selalu istimewa. Selalu ditunggu oleh sebagian besar umat Islam untuk menyongsong dan menyambutnya.

Tak peduli sebagian umat Islam ada yang dengan sengaja meninggalkan ibadah puasa, ada yang tetap rajin bermaksiat dan melakukan dosa bahkan di bulan suci.

Akan tetapi, sebagian besar lainnya mendulang pahala dengan memperbanyak zikir, bersedekah, membaca Al-Qur’an dan melakukan kebaikan-kebaikan lainnya.

Apa saja keistimewaan bulan Ramadan?

Pada bulan Ramadan-lah kitab suci Al-Qur’an diturunkan. Sehingga, tanggal 17 Ramadan kita peringati sebagai malam Nuzulul Qur’an (malam turunnya Al-Qur’an).

Kitab suci yang kemudian menjadi pedoman umat Islam seluruh dunia dan hingga kini setelah melewati 400 tahun dari turunnya kitab langit terakhir ini, Al-Qur’an terus dibaca dan diamalkan.

Sebagian umat Islam menghafalkannya sebagai bentuk penjagaan dan pemeliharaan Al-Qur’an secara rohani. Tetapi, rajin membacanya saja sangatlah cukup. Kemudian, mengamalkan ajaran di dalamnya.

Ajaran yang mengatur hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesama manusia maupun hubungan manusia dengan sesama makhluk, seperti hewan dan tumbuhan serta semesta yang diciptakan-Nya.

Membaca Al-Qur’an mungkin tidak akan menyelesaikan masalah hidup, tetapi karena Al-Qur’an menjadi dawa (obat) bagi jiwa kita, maka akan terbit ketenangan luar biasa saat kita membacanya.

Baca Juga: Said Abdullah Berbagi Berkah Ramadan untuk Ribuan Abang Becak dan PKL Sumenep

Keistimewaan berikutnya adalah, bulan Ramadan merupakan bulan di mana pahala kebaikan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Kebaikan yang tampak jelas bermanfaat bagi orang lain adalah kebaikan bersedekah.

Ada banyak kaum duafa, kaum papa di sekitar kita. Ada banyak lansia dan anak yatim serta orang fakir miskin yang menunggu uluran tangan kita. Seperti yang diisyaratkan dalam kitab suci, bersedekahlah pada yang terdekat dari kita.

Kerabat yang duafa, tetangga yang duafa. Berbagi rezeki dalam bentuk uang atau barang yang akan berguna bagi mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Kebaikan lainnya adalah meningkatkan ibadah. Jika biasanya tidak rutin salat sunah, naik kelaslah sedikit dengan memperbanyak nyunnah. Jika misalnya jarang mengaji, buatlah tadarus.

Termasuk tadarus online. Dalam banyak relasi, sering ada grup WA (WhatsApp) dibentuk untuk memudahkan komunikasi dan informasi. Buatlah tadarus online minimal sebulan sekali saja.

Grup WA keluarga, teman seangkatan alumni sekolah atau pondok pesantren, grup WA organisasi, dan grup WA teman kantor, termasuk grup WA sosialita. Sempatkanlah mereguk keistimewaan Ramadan dengan memperbanyak tartil dan tadarus.

Dalam sebuah hadis dijelaskan tentang pelipatgandaan pahala ibadah bulan Ramdan.

Setiap amal kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya. (HR. Bukhori dan Muslim).

Kemudian, di bulan Ramadan ini, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup. Sebagian orang bertanya; kok masih subur ya kemaksiatan di bulan Ramadan? Demikianlah kehidupan.

Sesuatu yang lumrah jika ada manusia yang tak menghindari masuk neraka dan ada pula manusia yang gigih memperjuangkan surga. Sekalipun pintu neraka ditutup, tapi manusia sebagai makhluk yang tak lepas dari salah dan dosa akan tetap saja ada yang melakukan kesalahan dan dosa.

Sebagian umat akan memilih menjaga jarak dengan hal-hal yang berpotensi menjadi dosa. Tanpa terpengaruh dengan derasnya arus kemaksiatan yang tetap berjalan di mana-mana, umat yang lain fokus ibadah dan meningkatkan ketakwaan dalam bentuk beramal saleh.

Di bulan Ramadan ini, terdapat malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari 1.000 bulan. Sebagian orang mengejar momentum ini sekalipun mereka tidak dapat memastikan kapan malam Lailatul Qodar itu tiba? Ada yang menyebut malam ganjil setelah tanggal 20 Ramadan.

Maka yang dilakukan banyak orang adalah semakin menambah kekhusyukan ibadah pada 10 terakhir hari-hari bulan Ramadan. Sekalipun pada 10 hari terakhir bulan Ramadan nyatanya banyak orang yang lebih tersita pada berburu baju Lebaran, kue-kue Lebaran persiapan suguhan untuk tetamu.

Tetapi, banyak pula yang sibuk meningkatkan ibadah, memperbanyak sedekah, menguatkan silaturahmi, dan merencanakan untuk menunaikan zakat mal pada orang-orang yang berhak (mustahik). Tak sedikit pula yang bersedih akan kehilangan Ramadan suci saat jelang Lebaran Fitri.

Dalam surah Al-Baqarah ayat 183 diserukan: Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Jelaslah bahwa melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan sebagai puasa wajib akan turut menguatkan rasa ketakwaan seorang hamba kepada Tuhannya.

Keistimewaan berikutnya adalah, bulan Ramadan ini identik pula dengan bulan penuh ampunan. Bulan pengampunan dosa. Allah yang maha pemurah dan maha pengampun menunggu hamba-hamba-Nya untuk bertaubat, memohon ampun dan menghentikan segala macam sepak terjang kemaksiatan dan dosa-dosa yang dilakukan.

Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni segala dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhori Muslim).

Masyaallah tabarakallah. Allah maha pengampun dan mudah mengampuni. Tentu saja jika kita berdoa, memohon ampun, menghentikannya dengan taubatan nasuha dan menjaga jarak dengan kemungkinan untuk berbuat dosa kembali.

Bagaimana Ramadan tak akan istimewa dan tak kita istimewakan jika semanis ini janji Allah kepada kita hamba-Nya?

Kita hanya tinggal berpuasa, menjalankan ibadah dan menambah frekuensinya, meningkatkan amal saleh. Setelah itu, kita mendapatkan pahala berlipat ganda. Dan setelah bulan Ramadan lewat, diskon pahala itu pun lewat.

Bulan Ramadan ini semacam big sale bagi umat Islam yang pandai meraih rida-Nya. Akan sangat merugi jika selama sebulan Ramadan ini kita tak naik kelas sama sekali dalam urusan ibadah dan berbuat baik.

Dan saat Lebaran tiba bulan depan, kita akan bersama orang-orang yang meraih hari kemenangan. Menang menahan nafsu selama bulan suci Ramadan. Insyaallah. (*)

Karduluk, 18 Februari 2026

*)Wakil Ketua II PC Fatayat NU Sumenep

Editor : Hera Marylia Damayanti
#ramadan #Beramal saleh #Lailatul Qodar #Nuzulul Qur'an #bulan suci ramadan #bulan penuh ampunan #bersyukur #pelipatgandaan pahala #Meningkatkan ketakwaan #bersedekah #tadarus online #urusan ibadah #umat islam #Membaca Al-Qur'an #keistimewaan bulan Ramadan #big sale