Oleh SURAJI, M.PD.
BULAN suci Ramadan adalah anugerah Allah SWT yang selalu dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Ia bukan hanya momentum ibadah individual, tetapi juga ruang pendidikan rohani untuk memperkuat keimanan sekaligus mempererat ukhuwah islamiah.
Karena itu, menyambut Ramadan seharusnya dilakukan dengan hati yang gembira, penuh keyakinan yang mantap, dan sikap persaudaraan yang lapang.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriyah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Yakni, berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Penetapan ini berpijak pada prinsip bahwa satu bulan Qamariah berlaku untuk seluruh bumi.
Ketika hilal telah wujud dan memungkinkan terlihat di suatu wilayah bumi, maka secara syar’i bulan baru telah dimulai bagi seluruh umat Islam.
Prinsip ini berangkat dari pemahaman terhadap firman di dalam surah Al-Baqarah ayat 189 yang artinya, ”Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: hilal itu adalah penentu waktu bagi manusia dan (ibadah) haji.”
Selain itu, Al-Qur’an juga menegaskan keteraturan peredaran bulan sebagai sistem waktu yang pasti. Yakni, sebagaimana tertuang dalam surah Yasin ayat 39.
Artinya, ”Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah (fase-fase), sehingga (pada akhirnya) ia kembali seperti tandan kurma yang tua.”
Kedua ayat itu menunjukkan bahwa perjalanan bulan berlangsung secara astronomis dan terukur. Artinya, penentuan waktu ibadah tidak bergantung pada dugaan, tetapi pada hukum alam yang pasti dan dapat dihitung secara ilmiah.
Hal ini juga sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi, ”Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Makna ”melihat” dalam pemahaman ulama tidak selalu terbatas pada penglihatan mata di setiap daerah. Tetapi, mencakup kepastian keberadaan hilal yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
Karena itu, dalam pendekatan hisab hakiki wujudul hilal, ketika secara astronomis hilal telah berada di atas ufuk dan memenuhi kriteria kemungkinan terlihat hilal (imkanur rukyat), maka ia sudah dianggap masuk bulan baru.
Secara ilmiah, ketinggian hilal yang memenuhi syarat visibilitas —meskipun tidak terjadi di Indonesia— tetap menunjukkan bahwa bulan baru telah dimulai. Sebab, bulan hanya satu untuk seluruh bumi.
Maka, ketika di suatu tempat di bumi hilal sudah dapat terlihat berdasarkan standar astronomi, hal itu sudah cukup untuk menetapkan awal bulan bagi umat Islam secara global.
Perbedaan awal Ramadan yang mungkin terjadi di tengah masyarakat bukanlah persoalan baru dalam sejarah Islam.
Sejak masa sahabat telah terjadi perbedaan rukyat antar wilayah, sebagaimana riwayat Ibnu Abbas RA yang tidak mengikuti rukyat Syam.
Para ulama menjadikannya sebagai dalil bahwa perbedaan metode adalah bagian dari ijtihad yang dibenarkan syariat.
Karena itu, warga Muhammadiyah melaksanakan maklumat Pimpinan Pusat dengan penuh keyakinan dan ketaatan.
Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bangkalan mengajak seluruh warga persyarikatan untuk menjalankan keputusan ini dengan mantap sebagai wujud disiplin organisasi dan tanggung jawab keagamaan.
Namun lebih dari itu, perbedaan tidak boleh merusak persaudaraan. Ramadan justru hadir untuk menyatukan hati.
Allah SWT berfirman dalam surah Al-Hujurat ayat 10, ”Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”
Persaudaraan iman berada di atas perbedaan metode. Kita boleh berbeda hari memulai puasa, tetapi tidak boleh berbeda dalam menjaga kasih sayang dan saling menghormati. Ukhuwah islamiah harus lebih kuat daripada perbedaan ijtihad.
Ramadan juga mengajarkan kepedulian sosial. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan membangun empati kepada sesama.
Allah SWT berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 2 yang berbunyi, ”Tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.”
Karena itu, menyambut Ramadan harus diiringi semangat berbagi, membantu fakir miskin, memperbanyak sedekah, serta mempererat hubungan antar tetangga dan masyarakat.
Kebahagiaan Ramadan bukan hanya dirasakan pribadi, tetapi harus menebar manfaat bagi orang lain.
Akhirnya, mari kita sambut Ramadan dengan penuh kegembiraan, keyakinan beribadah, serta kelapangan hati dalam perbedaan.
Semoga puasa kita tidak hanya melahirkan orang yang lapar, tetapi melahirkan umat yang bertakwa, bersatu, dan saling mencintai.
Ramadan datang untuk menguatkan iman dan mempererat persaudaraan. Semoga kita semua dipertemukan dengan Ramadan dalam keadaan terbaik, menjalankannya dengan keyakinan, dan keluar darinya sebagai pribadi yang lebih bertakwa. Aamiin. (*)
*)Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bangkalan
Editor : Hera Marylia Damayanti