Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puasa dan Roh Kerja Jurnalistik

Hera Marylia Damayanti • Rabu, 18 Februari 2026 | 09:50 WIB
Moh. Subhan, Pemred Jawa Pos Radar Madura
Moh. Subhan, Pemred Jawa Pos Radar Madura

Oleh MOH. SUBHAN

 

DATANGNYA bulan Ramadan selalu disambut dengan sukacita. Ada rindu yang hanya dirasakan orang-orang beriman.

Sebab, Ramadan bukan sekadar penanda waktu ibadah, melainkan momentum turunnya rahmat dan ampunan.

Puasa Ramadan adalah ibadah yang istimewa melampaui ibadah lain. Allah memberikan kedudukan yang tak dimiliki ibadah lain.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman bahwa semua amal anak Adam adalah untuk dirinya, kecuali puasa.

Puasa adalah milik-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Sebuah pengakuan yang menempatkan puasa pada singgasana kemuliaan.

Namun, puasa sering dipahami sebatas menahan lapar dan dahaga. Padahal, maknanya jauh lebih dalam.

Imam al-Ghazali dalam kitab Asraru Ash-Shaum membagi puasa dalam tiga tingkatan: puasa umum, puasa khusus, dan puasa yang terkhusus.

Puasa umum adalah menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami-istri. Sementara puasa khusus melampaui itu: menjaga pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa.

Adapun puasa terkhusus adalah puasa hati. Yakni, menyucikan niat dari kepentingan rendah dan membebaskan diri dari segala sesuatu selain Allah SWT.

Puasa menjadi ujian kejujuran tingkat tinggi. Sebab, hanya diri sendiri dan Tuhan yang benar-benar tahu apakah seseorang berpuasa atau sekadar berpura-pura sahur, lalu makan diam-diam sebelum waktu berbuka.

Baca Juga: Jejak Panjang sang Wakil, Kiai Muchlis Nasir Nakhodai PCNU Pamekasan

Nilai kejujuran ini pula yang menjadi roh dalam kerja jurnalistik. Wartawan bisa keliru, tetapi tidak boleh berbohong.

Sebab, berita yang tidak jujur bukan sekadar kesalahan profesional, melainkan pengkhianatan terhadap publik.

Ramadan juga bukan alasan untuk menurunkan standar kinerja.

Justru di bulan inilah integritas diuji: apakah puasa membuat kita lebih disiplin atau malah memberi ruang bagi kemalasan.

Islam tidak pernah mengajarkan bahwa ibadah harus mengorbankan tanggung jawab sosial.

Nabi Muhammad SAW berdagang, memimpin umat, bahkan berjuang di medan perang dalam keadaan berpuasa.

Dengan demikian, Ramadan bukan bulan penurunan produktivitas, melainkan bulan peningkatan kualitas diri.

Dalam semangat itulah Jawa Pos Radar Madura menghadirkan rubrik khusus Ramadan sebagai bagian dari ikhtiar syiar dan literasi publik.

Tahun ini, redaksi membuka ruang partisipasi seluas-luasnya melalui rubrik Tadarus, yang menggantikan rubrik Suara Santri pada Ramadan sebelumnya.

Jika dahulu ruang ini terbatas pada kalangan pesantren, kini Tadarus hadir sebagai forum terbuka bagi siapa pun yang ingin berbagi gagasan, refleksi, dan pengalaman Ramadan.

Akademisi, santri, guru, tokoh masyarakat, hingga pembaca umum diundang untuk ikut menulis dan memperkaya sudut pandang.

Tulisan bertema Ramadan dapat dikirimkan ke email jprmsasbud@yahoo.com dengan panjang minimal 3.000 karakter dan maksimal 6.000 karakter.

Selain Tadarus, redaksi juga kembali menghadirkan Khazanah Pesantren. Rubrik khas yang menelusuri sejarah, sistem pendidikan, dan nilai-nilai keilmuan pesantren Madura yang telah membentuk karakter dan peradaban lokal selama berabad-abad.

Tak kalah penting, Harmoni Ramadan akan mengulas aktivitas para pejabat di empat kabupaten di Madura selama bulan puasa. Rubrik ini dihadirkan untuk mendekatkan masyarakat dengan para pemimpinnya.

Sekaligus menampilkan sisi humanis dan inspiratif di tengah kesibukan menjalankan amanah negara.

Melalui tiga rubrik ini: Tadarus, Khazanah Pesantren, dan Harmoni Ramadan, Jawa Pos Radar Madura berharap Ramadan menjadi momentum bersama untuk saling belajar, saling menguatkan, dan menumbuhkan optimisme.

Sebab sejatinya, syiar Ramadan tidak hanya hidup di mimbar dan masjid, tetapi juga di ruang publik, tempat gagasan, nilai, dan keteladanan bertemu. Marhaban ya Ramadan. (*)

*)Pemred Jawa Pos Radar Madura

Editor : Hera Marylia Damayanti
#puasa #ramadan #tulisan #ruang partisipasi #rubrik #jawa pos radar madura #Khazanah Pesantren #Harmoni ramadan #tadarus #rubrik khusus Ramadan