Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Solidaritas Santri dalam Konflik Pesantren dan Media

Hera Marylia Damayanti • Selasa, 21 Oktober 2025 | 19:53 WIB

 

Sairil Munir, mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya
Sairil Munir, mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya

Oleh SAIRIL MUNIR

 

DURKHEIM (1933) memiliki pandangan tentang agama yang paling mendasar dalam suatu budaya. Durkheim berangkat untuk melakukan dua hal, menetapkan fakta bahwa agama tidak diilhami secara Ilahi atau super alami. Dan pada kenyataannya merupakan produk masyarakat. Durkheim juga berusaha mengidentifikasi hal-hal umum yang ditekankan oleh agama, serta apa dampak kepercayaan agama itu terhadap kehidupan semua orang dalam suatu masyarakat.

Termasuk pandangannya mengenai agama sebagai solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Berbagai lapisan masyarakat bekerja layaknya "perekat sosial" yang berupa nilai, adat istiadat, dan kepercayaan yang dianut bersama. Solidaritas mekanis dimaknai sebagai orang yang diikat dalam bentuk solidaritas yang memiliki "kesadaran kolektif" yang sama dan kuat. Karena itu individualitas tidak berkembang.

Misalnya, masyarakat pra-industri dan masyarakat pedesaan. Sedangkan ketika masyarakat semakin kompleks melalui pembagian kerja, solidaritas mekanik runtuh digantikan dengan solidaritas organik. Ketika hal tersebut terjadi, maka pembagian kerja akan timbul spesialisasi yang menimbulkan ketergantungan setiap orang. Hal ini juga menggairahkan orang untuk meningkatkan kemampuannya secara personal. Sehingga "kesadaran kolektif" semakin redup kekuatannya. Dan solidaritas ini ada pada masyarakat Industri.

Melihat studi kasus pemberitaan yang memicu kemarahan publik. Tidak lama pasca masyarakat disuguhi tayangan pejabat publik yang kurang elok. Sehingga masyarakat bereaksi dengan demo di jalanan. Tayangan program Xpose Uncensored yang disiarkan oleh Trans7 pada 13 Oktober 2025 mengguncang jagat media sosial dan publik Indonesia, khususnya kalangan pesantren.

Program yang Menyorot Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiat Lirboyo

Kediri dan beberapa pesantren lainnya serta menampilkan sosok KH Anwar Manshur secara tidak proporsional dan bernada negatif. Tayangan yang seharusnya berfungsi sebagai sarana edukasi publik malah berubah menjadi alat framing yang mengandung penghinaan terhadap kehormatan ulama dan lembaga pendidikan Islam tradisional.

Kejadian ini menunjukkan betapa berbahayanya kekuatan narasi media dalam membentuk persepsi sosial. Ketika sebuah media besar melakukan kesalahan framing terhadap lembaga keagamaan, dampaknya bukan hanya menimpa satu individu atau satu pesantren, melainkan seluruh ekosistem sosial yang hidup dari nilai-nilai keislaman dan keadaban. Maka, persoalan ini bukan sekadar insiden jurnalistik, tetapi juga tragedi moral di tengah bangsa yang menjunjung tinggi adab dan kehormatan ulama.

Narasi media bukan hanya sekumpulan kata dan gambar. Ia adalah konstruksi makna yang terbentuk dari pilihan visual, intonasi, gaya narator, dan potongan konteks yang sengaja disusun untuk menggiring emosi penonton. Dalam kasus Xpose Uncensored, seluruh elemen ini berkolaborasi menciptakan citra negatif terhadap pesantren dan pengasuhnya.

Narator menggunakan gaya komunikasi merendahkan, sementara visual dan caption memperkuat kesan glamor, seolah pesantren adalah tempat kemewahan yang berseberangan dengan nilai kesederhanaan yang dipegang para kiai.

Baca Juga: Ketika Guru Tidak Takut Gagal: Sebuah Refleksi

Reaksi keras pun muncul dari masyarakat, alumni pesantren, dan para santri di seluruh Indonesia. Media sosial dipenuhi gelombang protes, sampai ada Tagar #BoikotTrans7 yang ramai di media sosial bukan sekadar ekspresi kemarahan publik secara spontan, tetapi bentuk kegelisahan kolektif.

Istilah mirror exposure effect. Sebuah situasi di mana kelompok sosial mulai memahami dirinya setelah melihat bagaimana pihak luar memandangnya. Reaksi keras dari pesantren terhadap tayangan Trans7 menunjukkan bahwa komunitas ini sedang mengalami benturan antara identitas lama dan dunia baru, antara kesunyian kitab kuning dan hiruk pikuk dunia digital.

Di luar pendidikan formal dan kajian kitab, salah satu nilai paling berharga yang ditawarkan oleh pesantren adalah mmbangun solidaritas dan persaudaraan yang abadi di antara santri. Hidup bersama dalam satu atap, berbagi suka dan duka, serta saling mendukung dalam proses belajar adalah pengalaman yang unik dan membentuk ikatan yang sangat kuat.

Lingkungan pesantren secara inheren dirancang untuk membangun solidaritas. Santri dari berbagai latar belakang, suku, dan daerah berkumpul, tinggal bersama di asrama yang sama. Mereka berbagi kamar, makanan, dan ruang belajar.

Dalam lingkungan ini, mereka belajar untuk saling menghormati, mengatasi perbedaan, dan bekerja sama. Konflik kecil pun dapat menjadi pelajaran berharga tentang kompromi dan empati.

Kegiatan sehari-hari di pesantren juga dirancang untuk membangun solidaritas. Santri saling membantu dalam pekerjaan rumah tangga, seperti membersihkan asrama, mencuci pakaian, dan membantu di dapur.

Kegiatan ini, yang dikenal sebagai khidmah atau pengabdian, bukan hanya tentang tugas, tetapi juga tentang kerja sama dan rasa saling memiliki. Mereka belajar bahwa keberhasilan satu orang adalah keberhasilan semua, dan bahwa tidak ada yang bisa berhasil sendirian.

KH. Mustofa Bisri, atau yang akrab disapa Gus Mus, pernah menyampaikan bahwa santri bukanlah hanya mereka yang pernah mondok di pesantren. Beliau menegaskan bahwa siapa pun yang memiliki akhlak seperti santri, dialah santri.

Solidaritas Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) di seluruh Indonesia menegaskan, jika pesantren diusik dan di-framing negatif maka para alumni pesantren atau santri akan mempunyai solidaritas yang tinggi untuk membelanya. 

Pada akhirnya, adanya konflik media dan pesantren membangun solidaritas di kalangan santri dan pesantren dalam menciptakan jaringan yang abadi.

Jaringan ini tidak hanya sebatas pertemanan, tetapi juga sebuah sistem dukungan yang kuat. Alumni pesantren sering kali tetap terhubung, saling membantu dalam karier, bisnis, atau bahkan dalam masalah pribadi. Mereka adalah keluarga kedua yang dapat diandalkan. (*)

*)Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya

Editor : Hera Marylia Damayanti
#trans7 #agama #Kesadaran Kolektif #Xpose Uncensored #pesantren #solidaritas #ulama #media sosial #santri #kehormatan ulama