Oleh: SALAMET WAHEDI (Esais, pencinta senja, dan penikmat tarkam)
CATATAN, RadarMadura.id - SEHARI jelang partai final Warna Agung Cup I, pada Minggu (18/5/2025) malam, seorang teman di pelosok Desa Lanjuk, Kecamatan Manding, Sumenep, Kholil, mengirim pesan suara:
”Kek, benar ya, (PBV) Anggun akan mendatangkan Rivan dan Rama Faza?” Ia ingin konfirmasi kebenaran informasi yang berseliweran di berbagai platform media sosial.
Rivan Nurmulki dan Rama Fazza Fauzan, dua atlet bola voli yang sudah tidak asing lagi. Rivan Nurmulki, yang baru saja pulang dari Jepang, tidak hanya dikenal sebagai salah satu pemain langganan timnas bola voli Indonesia.
Sepak terjangnya di berbagai turnamen, baik lokal (tarkam), regional, hingga luar negeri, seperti menghadirkan magnet dan kharisma tersendiri bagi pecinta bola voli.
Sementara Rama Fazza Fauzan, yang tampil gemilang bersama Surabaya Samator pada perhelatan Proliga 2024/2025, disebut-sebut sebagai opposite hitter masa depan klubnya –dan mungkin timnas bola voli Indonesia.
Saat Kholil mengonfirmasi kebenaran keduanya akan di-bon PBV Anggun, saya jadi maklum. Pertama, informasi mesti dicek dan di-ricek.
Perlu disaring sebelum di-sharing. Perlu dipastikan, kalau perlu berulang, sebelum kita mengiyakan dan membenarkannya.
Arus informasi di era digital tidak hanya membeludak, memasuki ruang-ruang percakapan kita. Lebih dari itu, informasi yang berseliweran melalui media sosial begitu beragam:
pengumuman darurat negara yang tidak baik-baik saja, kabar iseng-komedi yang menertawakan kenyataan, intermezzo orang-orang gabut yang ngelive, jual-beli promo produk yang membuncahkan gairah belanja, hingga berita hoaks yang memuakkan. Karena itu, kita mesti hati-hati mengonsumsi dan mengunyah berbagai kabar.
Kedua, kehadiran Rivan dan Rama Fazza –mungkin atlet idola lainnya– selalu menjadi daya tarik yang memengaruhi keputusan masyarakat untuk menonton.
Bagi Kholil, kehadiran Rivan dan Rama Faza tidak hanya sebagai air penghapus dahaga untuk bisa menyaksikan langsung para pemain ”hebat-timnas” berlaga.
Baca Juga: Ribuan Nelayan Pamekasan Belum Ter-Cover Asuransi, Ini Kendalanya
Tapi juga sebagai ”penjamin” akan atraksi pertandingan yang berkualitas dan sportif. Nilai kehadiran Rivan dan Rama Faza bukan hanya pada sosoknya sebagai idola. Tapi juga ada vibes positif yang memengaruhi suasana pertandingan.
Sportivitas dan Seni Pertunjukan
Meski berlabel turnamen kelas dua, venue pertandingan tarkam tetap dipenuhi kalimat-kalimat motivasi, seperti ”Selamat Bertanding”, ”Bertandinglah secara Sportif”, ”Mari Junjung Tinggi Sprotivitas”, dan kalimat sponsor lainnya.
Sayangnya, kalimat-kalimat penuh motivasi itu tak sepenuhnya menghapus riwayat kampungan sebagian peserta dan penonton bola voli tarkam.
Gengsi dan ambisi sering kali menghadirkan pertandingan yang tegang: protes berlebihan, selebrasi yang penuh vibrasi negatif, juga umpatan dan siulan yang kebablasan.
Jika kita cermati, kata sport, sportif, dan sportivitas tak sepenuhnya hanya bisa diterjemahkan sebagai olahraga.
Sport bukan sekadar pertandingan meraih skor dan merebut kemenangan. Begitu juga dengan sportif dan sportivitas, tak bisa diandaikan hanya sebagai batas hiruk pikuk dan dinamika pertandingan.
Lebih dari itu, kata-kata tersebut juga mengandung sikap, nilai dan proses menjadi seorang atlet.
Sikap sportif bukan sekadar jago ngeblock atau spike-boom. Juga sikap sportivitas, bukan sekadar berjiwa besar untuk menerima kekalahan.
Sportif-sportivitas juga menyiratkan jiwa ksatria yang berani dan jujur dalam menjalani pertandingan.
Sebagai seorang ksatria, setiap atlet harus sungguh-sungguh menampilkan kemampuan terbaiknya.
Lapangan bukan sekadar arena pertandingan, tapi panggung pertunjukan atas proses panjang menjadi atlet.
Sebagai seorang ksatria, setiap atlet akan mempertontonkan seni spike atau ngeblock yang menghibur.
Sebab, pertandingan yang berkualitas bukan sekadar mempertontonkan kelebat jagoan, akan tetapi juga melahirkan seniman lapangan yang layak dikenang.
Tarkam: Gairah Kaum Pinggiran
Cerita bola voli tarkam tak sepristise cerita Livoli, Proliga atau pertandangan nasional, bahkan internasional.
Tapi cerita bola voli tarkam tetap menyuguhkan keriuhan, gairah dan hasrat kaum pinggiran untuk menikmati arena pertandingan yang berkualitas.
Seperti pada Minggu malam final Warna Agung Cup I itu, orang-orang berduyun-duyun untuk menjadi saksi sejarah.
Mereka tumpah ruah memenuhi jalan-jalan Desa Aeng Dake. Area parkir full. Tribun dekat lapangan PBV Warna Agung sudah sesak sejak sore.
Di belakang kursi-bambu tribun, beribu pasang mata berdiri, leher-leher menjulur, mencari celah di tengah sesak-ramai penonton.
Saat Rama Fazza dan Rivan masuk lapangan, pecahlah sorak-sorai. Dahaga keinginan untuk menyaksikan langsung pemain timnas bola voli tampil, seperti diguyur air hujan. Para penonton bersorak.
Para penonton mengeluk-elukan. Ribuan kamera mengabadikan Rama Fazza dan Rivan melakukan warming-up. Singkatnya, kehadiran Rama Fazza dan Rivanul Mulki benar-benar menjadi magnet luar biasa.
Tidak hanya itu, sepanjang pertandingan, para penonton seolah tidak mau beranjak. Saban kali Rama Fazza atau Rivan unjuk kebolehan, sorak sorai penonton memenuhi langit. Mereka benar-benar menunaikan dahaga kemarau penantiannya.
Rama Fazza dan Rivan memang menunjukkan kelasnya. Tapi dewi fortuna tidak berpijak. PBV Anggun yang dibela keduanya harus mengakui keunggulan PBV Dewa Agung dengan skor 1:3. Apakah penonton kecewa?
Tidak. Di sinilah, tarkam menunjukkan sisi lainnya: kekalahan sang idola bukan akhir cerita. Para penonon seperti disadarkan akan nilai ksatria dalam pertandingan: proses itu penting.
Latihan, komunikasi, kekompakan tim menjadi kunci untuk tampil menjadi hebat. Selain itu, untuk menjadi atlet nasional, butuh disiplin dan kerja keras.
Selain itu lagi, selalu ada dewi fortuna dalam setiap pertandingan. Selalu ada takdir yang tak bisa dielakkan.
Sambil berdesak-desakan pulang, para penonton melemparkan komentarnya.
”Satu tim (bola voli) tidak mungkin bisa menang hanya mengandalkan dua orang. Sementara tim lawan, pemainnya merata,” ujar seorang lelaki, lalu buru-buru menghisap rokoknya.
”Kalau kemampuan Rama dan Rivan sudah level timnas. Lihat saja, kalau umpannya pas, spike-nya tidak bisa ditahan,” yang lain menimpali.
”Ke depan, semua atlet ya harus sering latihan. Rama dan Rivan main empat set tidak ngos-ngosan atau pegang perut,” yang lain lagi menimpali.
”Tidak bisa mengandalkan pemain bintang, kalau kerja timnya kedodoran,” yang lain lagi menimpali.
Komentar-komentar para penonton seperti menyiratkan harapan. Kekalahan pada satu pertandingan harus menjadi pelajaran untuk pertandingan berikutnya. Kekalahan bukan akhir cerita, tapi ia guru terbaik untuk mencapai kemenangan. (*)
Editor : Amin Basiri