Oleh MASYITHAH MARDHATILLAH
21 kelompok musik ul-daul yang memeriahkan haflatul imtihan dan tasyakuran selesainya rehabilitasi gedung sekolah sebuah lembaga pendidikan di Plakpak, Pegantenan, pada Selasa (6/5) malam sukses mencuri perhatian. Kegandrungan masyarakat terhadap khazanah kesenian tradisional tersebut tak terbantahkan. Pengalihan arus lalu lintas menuju titik utama tidak menghalangi antusiasme penonton yang menyemuti sepanjang rute performanya.
Ul-daul adalah ekspresi kesenian yang merakyat karena benar-benar menggambarkan proses dari, untuk, dan oleh rakyat. Konon, kemunculannya bertujuan untuk membangunkan orang yang berpuasa agar tidak kesiangan untuk makan sahur. Bentuk awal ini masihlah sederhana dan lazim disebut tongtong atau patrol.
Baca Juga: Memberdayakan Seni
Selanjutnya, tongtong juga muncul di luar bulan Ramadan dengan tampilan dan komposisi yang lebih advanced bernama ul-daul. Ul-daul mengandalkan alat musik tradisional dengan sentuhan perkusi sekaligus berbagai properti modern. Salah satunya adalah sasis, kerangka mobil bekas yang disulap sedemikian rupa untuk mengangkut alat musik, musisi serta berbagai dekorasi dengan segala aksesorinya.
Dalam banyak hal, ul-daul mempertahankan beberapa karakter dasar tongtong, seperti mobilitas dengan mengandalkan tenaga manusia, meski terkadang ia dipentaskan di panggung. Lain dari itu, ia menggunakan berbagai alat musik tradisional seperti gamelan, tram-tam, gendang, kenong, gong, seruling, dan dug-dug. Meski belakangan trompet kerap dipakai, dominasi bunyi alat-alat musik tradisional masih sangat terasa.
Baca Juga: Pentingnya Partisipasi Semesta bagi Kemajuan Pendidikan
Madura dan Musik Tradisional
Berbagai ekspresi kesenian Madura memang tidak lepas dari musik tradisional, mulai dari berbagai tarian hingga yang bersifat rutinitas atau perlombaan. Karapan sapi, saronen, dan sape sono’ adalah tiga di antara kesenian populer yang diiringi musik tradisional. Karena itu, kemunculan maupun bertahannya popularitas ul-daul bukanlah suatu kebetulan.
Namun demikian, ada beberapa hal yang menjadikan ul-daul istimewa. Performanya identik dengan kemegahan kereta artistik dari properti hingga gerakan sasis yang mengikuti irama lagu. Ini menambah daya tariknya sebagai ekspresi seni yang berakar kuat dari tradisi namun begitu total menghibur penonton. Ia sukses menjadi trendsetter seperti tampak dalam perlombaan miniatur (kereta) ul-daul yang kerap digelar di berbagai kesempatan.
Ul-daul juga menghindari pengeras suara berupa mikrofon atau yang sejenisnya untuk keperluan vokal. Sebagai gantinya, para musisilah yang bernyanyi setengah berteriak sambil memainkan alat musik masing-masing. Komposisi ini menjadikan musik ul-daul semakin akrab di telinga pendengar.
Yang tak kalah penting, ul-daul berhasil dengan apik mempertahankan sentuhan tradisional dengan tetap adaptif terhadap selera kekinian. Ini bisa dilihat dari komposisi alat musik, preferensi lagu, dekorasi, hingga kehadiran penari. Kombinasi yang demikian menjadikannya disukai masyarakat dari semua usia dan kelas sosial.
Seni Rakyat; Masihkah Merakyat?
Kelompok musik ul-daul biasanya didirikan dan dibina dengan swadaya. Sumber pendapatan utamanya adalah honor memeriahkan berbagai acara. Performa musik, tampilan, dan jejak rekam suatu kelompok ul-daul berbanding lurus dengan popularitas, jam terbang, bahkan tarif sewanya. Acara yang biasa dimeriahkan berkisar dari pernikahan, berbagai seremonial dan peringatan, hingga—yang paling sering—haflatul imtihan.
Dengan properti yang rumit dan megah serta pemain yang tidak sedikit, harga sewa sebuah kelompok ul-daul terbilang fantastis. Untuk sekali pertunjukan, tuan rumah harus merogoh kantong dari angka Rp 5 juta hingga Rp 20 juta. Dari nilai ini, bisa dibayangkan berapa anggaran untuk acara di Plakpak pekan lalu tersebut. Konon, dana berasal dari donatur para saudagar lokal yang merupakan alumni dan simpatisan lembaga.
Karenanya, karakter ul-daul sebagai kesenian rakyat layak dipertanyakan karena harga sewanya yang melambung tinggi. Meski bisa jadi sepadan dengan kemeriahan yang dibawa dan kreativitas para pemainnya, jelas tidak sembarang orang yang mampu me-nanggap kesenian tersebut.
Di sisi lain, ul-daul sebenarnya tetap menjadi ekspresi seni yang lahir dan besar di akar rumput karena minimnya apresiasi maupun dukungan pemerintah. Meski kerap diaku sebagai kesenian tradisional ikonik sebuah daerah, paling banter, ia hanya dilibatkan dalam seremonial kedinasan seperti peringatan hari jadi atau untuk penyambutan tamu. Konon, honor manggung untuk acara-acara semacam itu masih di bawah nominal yang biasa diterima.
Ul-Daul dan Prospek ke Depan
Kemeriahan pawai ul-daul di Plakpak, meski hanya berlangsung tidak lebih dari 24 jam, begitu berdampak terhadap perekonomian masyarakat. Sejak sehari sebelumnya, lapak-lapak semipermanen bermunculan dan aktivitas ekonomi mulai terlihat begitu sasis di-install di sepanjang rute parade. Berbagai kantong parkir dadakan serta pedagang asongan juga terlihat di beberapa titik.
Namun demikian, siapa pun tahu bahwa momentum semacam itu tidak akan terjadi setiap tahun. Dengan kata lain, meski berdampak dalam banyak hal, sulit membayangkan acara demikian akan terselenggara lagi dalam waktu dekat, apalagi menjadi rutinitas.
Karena itulah, meski sampah setelah pelaksanaan acara membentang sepanjang rute performa ul-daul menyajikan sisi lain, pemerintah daerah layak ”tersindir” dengan inisiatif masyarakat dan kesuksesan acara tersebut. Jika masyarakat secara swadaya bisa menggelar pawai megah ul-daul yang berdampak luas, pemerintah seharusnya bisa melakukan lebih banyak hal.
Kelompok ul-daul yang tersebar di berbagai penjuru layak mendapat pembinaan dan fasilitasi jangka panjang, misalnya, unjuk kebolehan dalam momentum khusus yang dirancang dalam rangka mempromosikan pariwisata. Dengan perencanaan dan eksekusi yang tepat, bukan tidak mungkin momentum semacam itu dapat mendongkrak pariwisata daerah sekaligus ekonomi lokal.
Kesuksesan berbagai daerah lain seperti Jember atau Banyuwangi dalam menyelenggarakan acara serupa layak menjadi blueprint dengan berbagai penyesuaian. Tawaran ini menjadi layak dipertimbangkan, karena selain menyanyikan lagu-lagu daerah, ul-daul belakangan juga diiringi tarian tradisional dengan baju adat, berbagai aksesori dan kekhasannya sehingga ia menyajikan paket lengkap untuk branding daerah maupun preservasi khazanah adat. (*)
*)Dosen IAIN Madura
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti