Oleh UNTUNG WAHYUDI
BANYAK hal yang perlu dilakukan dan dikorbankan demi kemajuan pendidikan di Indonesia. Banyaknya temuan tentang anak sekolah usia SMP yang belum bisa baca-tulis hendaknya jadi perhatian khusus bagi para pemangku kebijakan. Apakah ada yang keliru dengan sistem pendidikan sehingga tingkat literasi kita begitu rendah? Langkah apa saja yang perlu dilakukan agar kondisi pendidikan tidak semengenaskan ini?
Sistem pendidikan di negara kita sebenarnya sudah mengalami peningkatan. Berbagai program yang digalakkan pemerintah harusnya sudah bisa mengubah hal-hal yang jadi perhatian khusus di dunia pendidikan. Namun, berbagai program yang telah digalakkan masih belum berjalan dengan maksimal. Karena itu, dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan agar program yang dicanangkan tidak hanya berjalan di tempat.
Dilansir dari detik.com (9/4/2025), bahwa ratusan siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Buleleng belum bisa membaca dengan lancar. Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Buleleng I Made Sedana mengungkapkan, berdasarkan data yang dihimpun dari Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Buleleng terdapat sekitar 400 siswa SMP yang mengalami kesulitan membaca. Ratusan siswa tersebut berasal dari 60 SMP di Kabupaten Buleleng.
Sedana menambahkan, faktor utama persoalan ini bisa terjadi karena kebijakan naik kelas otomatis atau program tuntas tanpa mengukur penguasaan kompetensi dasar siswa. Pemahaman yang keliru terhadap konsep pembelajaran tuntas menyebabkan siswa tetap naik kelas, meskipun belum menguasai kemampuan dasar seperti membaca. Hal ini menyebabkan beban pendidikan dasar berpindah ke jenjang SMP. Padahal, pendidikan dasar itu harusnya sudah tuntas di jenjang sekolah dasar (detik.com).
Dukungan Banyak Pihak
Kecanggihan teknologi yang saat ini merambah segala lini membuat banyak orang keranjingan media sosial. Nyaris semua kalangan sudah memiliki telepon pintar. Anak-anak yang seharusnya belum begitu membutuhkan gadget sudah bisa mengaksesnya dengan bebas. Orang tua tidak tega jika anaknya merengek minta dibelikan smartphone.
Efek dari itu semua adalah anak jadi keranjingan atau ketagihan segala macam permainan (game online) sehingga waktu belajar mereka tersita. Tak heran jika waktu anak-anak lebih banyak di depan handphone daripada mendaras buku-buku bacaan, atau sekadar mengulang pelajaran di sekolah.
Dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025, Kemendikdasmen menggelar upacara Hardiknas dengan mengusung tema ”Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Peringatan ini menjadi momentum untuk meneguhkan dan memperkuat tekad serta komitmen dalam memajukan pendidikan nasional.
Dalam upacara peringatan Hardiknas yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Kemendikdasmen tersebut, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa sesuai amanat konstitusi, pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan, membentuk watak, serta mewujudkan peradaban bangsa yang bermartabat.
Karena itu, kata Abdul Mu’ti, usaha untuk mewujudkan tujuan dan fungsi pendidikan tersebut tidak hanya menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga seluruh elemen masyarakat (kemendikdasmen.go.id).
Baca Juga: Dunia Islam Perlu Perkuat Demokrasi dan Perdamaian Dunia
Peran Orang Tua dan Lingkungan
Al-ummu madrasatul ula wal abu mudiruha. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak dan ayah kepala sekolahnya. Ungkapan pepatah Arab yang sangat populer ini jadi salah pedoman orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Sebelum mengenyam pendidikan di sekolah formal, anak-anak terlebih dahulu beradaptasi dengan orang tua. Bahkan, bagi seorang ibu, pendidikan anak sudah diterapkan sejak anak masih ada di alam rahim.
Pepatah Arab di atas sangat relevan dengan kondisi sekarang. Bahwa, suksesnya pendidikan seorang anak bergantung pada dukungan orang tua dan lingkungan. Jangan sampai orang tua membiarkan anak-anaknya bebas bermain sehingga lupa tugas-tugas sekolah. Orang tua harus lebih intens mengawasi pergaulannya sehari-hari. Tak sedikit anak yang terjerumus pergaulan bebas karena lalainya orang tua dalam mengawasi dan mendidik anak.
Untuk itu, sebagaimana harapan Mendikdasmen Abdul Mu’ti, dukungan semesta yang dimaksud adalah dukungan dari banyak pihak untuk meningkatkan pendidikan sangat diperlukan. Anak-anak jika dibiarkan bermain dengan bebas tanpa perhatian orang tua, maka tingkat kecerdasannya akan berbeda dengan anak-anak yang mendapat perhatian khusus dari orang tuanya.
Tingkatkan Kompetensi Guru
Sementara itu, di lingkungan sekolah, guru adalah kunci keberhasilan pendidikan anak didik. Guru harus memiliki keterampilan dan kompetensi yang lebih agar perkembangan anak didiknya bisa lebih diperhatikan.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Subang Badruzaman menyatakan bahwa guru adalah seorang pendidik profesional. Tugas utamanya adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini melalui jalur formal pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Tanpa kompetensi yang mumpuni, tentunya akan ada keterbatasan dalam mendidik siswa-siswinya (kemenag.go.id).
Berbicara tentang kompetensi guru, pemerintah telah memberikan dukungan berupa beasiswa bagi guru yang belum berkualifikasi pendidikan S-1 atau D-4. Mendikdasmen Abdul Mu’ti menjelaskan, program ini merupakan tindak lanjut dari arahan presiden dalam peringatan Hari Guru Nasional, dan menjadi langkah konkret untuk memastikan bahwa tidak ada guru yang tertinggal dari hak profesional maupun pengembangan kualifikasinya. (*)
*)Karyawan PT Link Data Sumber Barokah, Sumenep
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti