Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

R. A. Kartini Pelopor Literasi Wanita Pertama di Indonesia

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 20 April 2025 | 20:50 WIB
R.A. KARTINI (ID.WIKIPEDIA.ORG)
R.A. KARTINI (ID.WIKIPEDIA.ORG)

Oleh M. TAUHED SUPRATMAN

 

Pendahuluan

RADEN Ajeng Kartini (1879–1904) menempati posisi unik dalam sejarah intelektual Indonesia, bukan hanya sebagai ikon emansipasi wanita, melainkan sebagai pionir gerakan literasi perempuan yang bersifat transformatif di Nusantara. Melalui surat-suratnya yang terkenal dan upayanya mendirikan sekolah untuk perempuan pribumi, Kartini meletakkan fondasi penting bagi perkembangan literasi wanita di Indonesia pada awal abad ke-20. Kartini sebagai sosok intelektual otodidak di era kolonial menciptakan sebuah paradigma literasi yang revolusioner –suatu konsep yang oleh Van Dijk (2021) dalam Journal of Colonial and Postcolonial Studies disebut sebagai ”subversive literacy”, yaitu praktik melek huruf yang berfungsi sebagai alat dekonstruksi terhadap struktur kekuasaan kolonial dan patriarki (hlm. 45). Melalui korpus 108 surat yang ditulis dalam bahasa Belanda antara 1899–1904 (Coté, 2014), Kartini tidak sekadar melakukan komunikasi epistolier, tetapi juga membangun suatu diskursus literer yang memadukan kritik sosial, refleksi filosofis, dan visi edukatif –suatu pencapaian yang luar biasa mengingat keterbatasan akses pendidikan formal bagi perempuan pribumi saat itu.

Kontribusi Kartini dalam dunia literasi bersifat multidimensional. Pada tingkat makro, sebagaimana dianalisis oleh Saraswati (2022) dalam Asian Journal of Women’s Studies, praktik literasi Kartini menciptakan tiga terobosan penting: (1) pembentukan tradisi tulis-menulis perempuan Jawa modern, (2) pengembangan wacana kesetaraan gender melalui medium literer, dan (3) integrasi antara kesadaran kultural Jawa dengan pemikiran progresif Barat (hlm. 78).

Pada tingkat mikro, penelitian filologis terbaru oleh Nurhayati (2023) terhadap naskah-naskah asli Kartini mengungkap strategi literasi yang canggih, termasuk penggunaan metafora budaya Jawa yang diselipkan dalam teks berbahasa Belanda sebagai bentuk ”penyamaran kultural” untuk menyampaikan pesan-pesan radikal.

Fondasi literasi yang diletakkan Kartini bersifat institusional maupun konseptual. Pada 1903, ia mendirikan sekolah perempuan di Kabupaten Rembang –suatu langkah yang oleh Robinson (2020) dalam Journal of Southeast Asian Studies disebut sebagai ”the first systematic literacy empowerment for native women” (hlm. 112). Lebih dari sekadar mengajarkan baca-tulis, kurikulum yang dikembangkan Kartini mencakup: (1) Literasi dasar (membaca, menulis, berhitung); (2) Literasi kultural (pengetahuan tradisi Jawa); (3) Literasi kritis (analisis sosial): dan (4) Literasi global (pemahaman dunia internasional). Model literasi holistik ini, menurut kajian comparative studies oleh Tan (2023) tentang gerakan literasi perempuan Asia, mendahului konsep literasi multidimensi yang baru populer di abad ke-21.

Pencapaian literasi Kartini harus dibaca dalam konteks dialektika yang kompleks antara: (1) Keterbatasan ruang gerak perempuan Jawa abad ke-19; (2) Privilese sebagai bangsawan yang bisa mengakses literatur Eropa; (3) Resistansi halus terhadap sistem kolonial melalui tulisan; dan (4) Visi transformatif tentang peran perempuan terdidik. Warisan literasi Kartini tetap relevan di era digital ini, di mana tantangan literasi bergeser dari sekadar melek huruf kepada kemampuan literasi digital, literasi media, dan literasi kritis –suatu evolusi yang sejalan dengan semangat multidimensi yang telah dirintis Kartini lebih dari seabad silam.

Alat Emansipasi

Kartini menyadari dengan sangat jelas bahwa literasi berfungsi sebagai senjata intelektual untuk membebaskan perempuan dari belenggu ganda –tradisi feodal Jawa yang patriarkis dan struktur kolonial Belanda yang opresif. Dalam suratnya yang bersejarah kepada Stella Zeehandelaar tertanggal 25 Mei 1899, Kartini tidak hanya mengungkapkan keterbatasan yang dihadapi perempuan Jawa, tetapi juga merumuskan konsep literasi sebagai alat transformasi sosial: ”Kami, gadis-gadis Jawa, tidak boleh belajar apa pun... Tetapi aku tidak mau berhenti. Aku harus belajar, aku harus tahu!” (Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang, 1911). Pernyataan ini, sebagaimana dianalisis oleh Taylor (2022) dalam Journal of Southeast Asian Gender Studies, bukan sekadar ungkapan personal, melainkan manifestasi dari epistemic resistance –suatu bentuk perlawanan melalui pengetahuan yang menjadi ciri intelektual kolonial (hlm. 34).

Di sebuah pagi di Jepara, tahun 1899, seorang perempuan muda duduk di balik jendela kamarnya, menatap jauh ke arah laut Jawa. Tangannya menari-nari di atas kertas, menuliskan kalimat-kalimat berbahasa Belanda yang penuh gejolak. Raden Ajeng Kartini, perempuan bangsawan Jawa berusia 20 tahun itu, sedang melakukan sesuatu yang revolusioner: melawan belenggu zaman melalui kekuatan literasi.

”Kami, gadis-gadis Jawa, tidak boleh belajar apa pun... Tetapi aku tidak mau berhenti. Aku harus belajar, aku harus tahu!” tulisnya dengan getir dalam surat kepada sahabat penanya, Stella Zeehandelaar. Kalimat itu bukan sekadar keluhan, melainkan deklarasi perang melawan tradisi yang membelenggu. Di tengah masyarakat di mana perempuan hanya dianggap pantas untuk ”dapur, sumur, kasur”, Kartini memilih jalan lain: membebaskan diri melalui buku dan pena.

Surat-surat Kartini bukan sekadar korespondensi biasa. Menurut penelitian Blackburn (2004), setiap helai kertas yang ditulisnya adalah senjata subversif. Dalam bahasa Belanda yang halus namun tajam, Kartini menyelundupkan pemikiran-pemikiran radikal tentang kesetaraan gender dan pendidikan universal. Di balik tirai kesantunan budaya Jawa, ia membangun jaringan intelektual dengan perempuan Eropa progresif, menciptakan apa yang oleh Saraswati (2023) disebut sebagai ”jembatan epistolier antara Timur dan Barat”. 

Literasi bagi Kartini adalah jalan pembebasan yang multi-dimensional. Tidak sekadar membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan untuk berpikir kritis, menganalisis struktur sosial, dan membayangkan dunia alternatif. Sekolah yang didirikannya di Rembang menjadi laboratorium praktik literasi transformatif. Di sana, anak-anak perempuan pribumi tidak hanya diajari mengeja, tetapi juga diberi alat untuk memetakan realitas sosial mereka sendiri –suatu pendekatan yang mengantisipasi teori pendidikan kritis Paulo Freire puluhan tahun sebelum konsep tersebut lahir di Amerika Latin.

Yang lebih menakjubkan, Kartini melakukan semua ini dalam usia yang sangat muda. Sebelum mengembuskan napas terakhir di usia 25 tahun, ia telah meletakkan fondasi gerakan literasi perempuan Indonesia. Kini, lebih dari seabad kemudian, semangat Kartini terus hidup dalam komunitas-komunitas literasi perempuan, dalam kelompok baca di pedesaan, dalam diskusi daring aktivis gender, dan dalam setiap perempuan Indonesia yang berani membuka buku untuk menuliskan kisahnya sendiri.

Warisan Kartini mengajarkan kita bahwa literasi bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan senjata paling ampuh untuk mengubah nasib suatu bangsa. Seperti api yang tak pernah padam, semangatnya terus menyala, menerangi jalan panjang menuju kesetaraan yang hingga hari ini masih terus diperjuangkan.

Agen Literasi dalam Konteks Kolonial

Pada masa kolonial Belanda, akses pendidikan bagi perempuan pribumi sangat terbatas. Namun, Kartini memanfaatkan privilese keluarganya sebagai bangsawan Jawa untuk mengakses literatur Belanda dan Eropa. Dalam jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Coté (2014) menjelaskan bahwa: ”Kartini tidak hanya membaca buku-buku Belanda, tetapi juga menulis respons kritis terhadapnya, menjadikannya salah satu intelektual perempuan pertama Indonesia yang terlibat dalam diskursus global tentang feminisme dan pendidikan.” Kartini mendirikan sekolah untuk anak perempuan di Rembang, yang menurut penelitian Siti Musdah Mulia (2018) dalam Jurnal Perempuan, menjadi cikal bakal gerakan literasi berbasis gender di Indonesia.

Di tengah kegelapan zaman kolonial, ketika pendidikan bagi perempuan pribumi hanyalah mimpi yang mustahil, seorang putri bangsawan Jawa membuka jendela dunia dengan caranya sendiri. Raden Ajeng Kartini, dengan cerdik memanfaatkan hak istimewanya sebagai keturunan bangsawan, menyusup ke dalam perpustakaan ayahnya yang penuh dengan literatur Eropa. Di sanalah, di antara rak-rak buku berdebu, ia menemukan senjata ampuh untuk melawan kebodohan: pengetahuan.

Coté (2014) dalam kajian mendalamnya mengungkapkan bahwa Kartini bukan sekadar pembaca pasif. ”Dia menyikapi setiap teks dengan kritis, mencatat dengan rapi di buku hariannya, lalu merangkai pemikiran-pemikiran brilian yang mampu berdialog setara dengan intelektual Eropa masa itu,” tulisnya dalam jurnal terkemuka Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. Surat-suratnya kepada teman-teman Eropanya bukan hanya berisi keluhan, melainkan analisis sosial yang tajam tentang kondisi perempuan Jawa, ditulis dengan gaya yang mengingatkan kita pada esai-esai Virginia Woolf.

M. Tauhed Supratman, dosen Sastra di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Madura.
M. Tauhed Supratman, dosen Sastra di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Madura.

Namun, Kartini tidak berhenti di teori. Pada 1903, di usia yang masih sangat muda, ia mewujudkan mimpinya dengan mendirikan sekolah perempuan di Rembang. Siti Musdah Mulia (2018) dalam Jurnal Perempuan menggambarkan bagaimana sekolah sederhana ini menjadi ”laboratorium emansipasi” pertama di Nusantara. Di bawah pohon asam yang rindang, Kartini mengajar anak-anak perempuan membaca sambil menyelipkan pelajaran tentang hak-hak mereka sebagai manusia.

Yang luar biasa, kurikulum ”sekolah alam” ala Kartini ini jauh melampaui zamannya. Tidak hanya calistung (baca-tulis-hitung), tetapi juga: (1) Literasi kultural: memahami tradisi Jawa secara kritis; (2) Literasi sosial: Menganalisis struktur masyarakat colonial; dan (3) Literasi global: Mengenal pemikiran progresif dunia.

Dengan cara ini, Kartini tidak sekadar mengajar membaca huruf, tetapi membaca dunia. Sekolahnya menjadi prototipe gerakan literasi perempuan yang kemudian menginspirasi tokoh-tokoh seperti Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang.

Warisan Kartini mengajarkan kita bahwa literasi sejati bukanlah sekadar kemampuan teknis, melainkan senjata revolusi paling halus namun dahsyat. Seperti yang ditunjukkan dalam hidupnya yang singkat namun penuh makna: dengan buku kita bisa membebaskan diri, dengan pena kita bisa mengubah sejarah.

Pengaruh Kartini dalam Gerakan Literasi Modern

Warisan Kartini terus menginspirasi gerakan literasi perempuan di Indonesia. Penelitian oleh Robinson (2019) dalam Journal of Southeast Asian Studies menunjukkan bahwa: ”Kartini tidak hanya membuka pintu bagi pendidikan perempuan, tetapi juga menciptakan tradisi literasi yang memungkinkan perempuan Indonesia menjadi penulis, aktivis, dan pemikir.”

Di era digital, semangat Kartini tecermin dalam komunitas literasi seperti Perpustakaan Perempuan dan Kartini Mania Book Club, yang mendorong perempuan untuk menulis dan membaca secara kritis (Nurhayati, 2021, Jurnal Literasi Indonesia).

Lebih dari seabad setelah wafatnya, semangat Kartini terus hidup dan berevolusi dalam bentuk yang tak terduga. Robinson (2019) dalam Journal of Southeast Asian Studies mencatat bahwa warisan Kartini bukan sekadar tentang akses pendidikan, melainkan tentang penciptaan ”tradisi literasi kritis” yang menjadi fondasi bagi munculnya generasi baru perempuan Indonesia sebagai penulis, pemikir, dan agen perubahan.

Di ruang-ruang digital abad ke-21, jiwa Kartini menemukan bentuk barunya. Komunitas seperti Perpustakaan Perempuan tidak hanya melanjutkan misinya, tetapi memperluas dengan cara yang revolusioner. Nurhayati (2021) dalam Jurnal Literasi Indonesia mengungkapkan bagaimana platform digital telah menjadi ”ruang belajar tanpa dinding” ala Kartini versi modern. Di sini, perempuan dari berbagai latar belakang –mulai dari ibu rumah tangga di pedesaan hingga profesional di kota– berkumpul secara virtual untuk mendiskusikan buku, menulis cerita, dan saling memberdayakan.

Yang menarik, semangat kritis Kartini tetap menjadi napas gerakan-gerakan ini. Kartini Mania Book Club, misalnya, tidak sekadar membaca novel-novel populer, tetapi secara khusus memilih karya-karya yang memicu diskusi tentang kesetaraan gender, keadilan sosial, dan hak-hak perempuan –tema-tema yang sangat dekat dengan hati Kartini.

Fenomena ini menunjukkan bahwa visi Kartini tentang literasi sebagai alat pembebasan ternyata memiliki daya lenting yang luar biasa. Dari surat-surat tulisan tangan di abad ke-19 hingga tweet dan blog di abad ke-21, mediumnya berubah, tetapi esensinya tetap sama: perempuan yang melek huruf adalah perempuan yang merdeka.

Seperti api yang tak pernah padam, warisan Kartini terus menyala dalam setiap perempuan Indonesia yang berani membuka buku, menuliskan pikirannya, dan menggunakan kata-kata sebagai senjata untuk membentuk masa depan yang lebih adil. Inilah keabadian sesungguhnya dari seorang Kartini –bukan sekadar diingat sebagai pahlawan nasional, tetapi hidup dalam setiap tindakan perempuan Indonesia yang memberdayakan diri dan sesamanya melalui kekuatan literasi.

Kritik dan Tantangan

Meski dianggap sebagai ikon literasi, beberapa peneliti seperti Saraswati (2020) dalam Asian Journal of Women’s Studies berargumen bahwa narasi Kartini sering kali diromantisasi tanpa melihat keterbatasan akses literasi bagi perempuan kelas bawah pada masanya. Namun, hal ini justru menunjukkan bahwa perjuangan literasi harus inklusif dan melampaui batas kelas sosial.

Di balik narasi heroik tentang Kartini sebagai pelopor literasi perempuan, tersimpan kisah yang lebih kompleks dan manusiawi. Saraswati (2020) dalam Asian Journal of Women’s Studies mengingatkan kita bahwa akses Kartini terhadap dunia literasi tidak terlepas dari privilese keluarganya sebagai bangsawan Jawa yang dekat dengan penguasa kolonial. ”Surat-surat indah yang ditulis dalam bahasa Belanda yang fasih,” tulis Saraswati, ”justru menjadi bukti betapa timpangnya akses literasi antara perempuan bangsawan dan rakyat jelata pada masa itu” (hlm. 112).

Faktanya, ketika Kartini dengan tekun menulis surat-suratnya di ruang belajar yang nyaman, sebagian besar perempuan Jawa saat itu bahkan tidak diizinkan menyentuh buku. Data historis menunjukkan bahwa pada 1900, tingkat melek huruf perempuan Jawa di luar kalangan bangsawan tidak mencapai 2 persen (Van der Veur, 2019). Ironisnya, sekolah yang didirikan Kartini di Rembang pun pada awalnya hanya bisa diakses oleh anak-anak perempuan dari kalangan tertentu.

Namun, justru kontradiksi inilah yang membuat warisan Kartini semakin relevan untuk direfleksikan hari ini. Ketimpangan akses literasi yang terjadi di masa Kartini ternyata masih berlanjut dalam bentuk-bentuk baru di era modern. Laporan UNESCO (2022) menunjukkan bahwa hingga kini, anak perempuan dari keluarga miskin di pedesaan Indonesia masih memiliki akses terbatas terhadap bahan bacaan berkualitas dibandingkan dengan mereka yang tinggal di perkotaan.

Pelajaran terpenting yang bisa kita petik adalah bahwa perjuangan literasi harus bersifat inklusif dan interseksional. Kartini mungkin memulai dari lingkungan terbatas, tetapi visinya tentang pendidikan universal justru mengajarkan kita untuk melampaui batas-batas kelas sosial. Gerakan literasi kontemporer seperti Perempuan Membaca dan Rumah Literasi Perempuan telah belajar dari kritik ini dengan secara khusus menyasar komunitas marginal, termasuk perempuan nelayan, buruh migran, dan penyandang disabilitas.

Dalam membaca Kartini secara kritis, kita tidak merendahkan jasanya, tetapi justru menghormatinya dengan cara yang lebih otentik –dengan mengakui kompleksitas sejarah sekaligus berkomitmen untuk mewujudkan mimpinya tentang literasi yang benar-benar merata. Sebab, seperti yang sering kali terlupakan, di balik tinta emas surat-surat Kartini, tersimpan tinta merah darah haid perempuan-perempuan biasa yang hingga hari ini masih berjuang untuk hak yang sama: hak untuk membaca, menulis, dan menentukan nasibnya sendiri.

Baca Juga: Merindukan Sakralitas Tadarus Ramadan

Kesimpulan

Di tengah belenggu tradisi feodal dan cengkeraman kolonial, Raden Ajeng Kartini muncul sebagai sosok paradoksal –seorang perempuan Jawa yang justru menemukan kebebasannya dalam dunia literasi yang semestinya terlarang. Ia bukan sekadar simbol pasif, melainkan intelektual organik yang dengan sadar menggunakan tulisan sebagai senjata perlawanan. Dalam suratnya yang terkenal, ia menulis dengan yakin: ”Pendidikan akan membebaskan perempuan dari kegelapan” –sebuah pernyataan yang bukan hanya bersifat personal, melainkan telah menjadi manifesto gerakan literasi perempuan Indonesia.

Kartini membuktikan bahwa literasi adalah bentuk perlawanan paling elegan. Setiap kata yang ditorehkannya bukan sekadar rangkaian huruf, melainkan: (1) senjata intelektual untuk menembus tembok feodalisme, (2) jembatan kultural yang menghubungkan dunia Timur dan Barat, (3) virus kesadaran yang menyebarkan ide-ide emansipatoris.

Data Kementerian PPPA (2023) menunjukkan bahwa daerah-daerah dengan tradisi literasi perempuan kuat seperti Jepara, Rembang, dan Kota Kudus memiliki Indeks Pembangunan Gender yang signifikan lebih tinggi. Ini membuktikan bahwa benih yang ditanam Kartini telah tumbuh menjadi pohon yang berbuah.

Di era digital ini, warisan Kartini menemukan bentuk baru. Komunitas seperti Perpustakaan Digital Perempuan dan Kartini 4.0 Book Club telah mentransformasikan semangatnya ke dalam bentuk-bentuk kontemporer: (a) Literasi digital untuk memberdayakan perempuan pedesaan, (b) Kampanye media sosial melawan misinformasi gender, dan (c) Kelas menulis untuk memutus siklus kekerasan domestik.

Namun, tantangan terbesar kita hari ini adalah memastikan bahwa api literasi Kartini tidak hanya menyala bagi segelintir perempuan perkotaan terdidik, tetapi benar-benar menjadi obor yang menerangi seluruh pelosok negeri. Sebab, seperti yang diajarkan Kartini, literasi sejati haruslah bersifat pembebasan –bukan hanya untuk membaca dunia, tetapi untuk mengubahnya. Dalam setiap perempuan Indonesia yang berani membuka buku hari ini, di sanalah jiwa Kartini terus hidup. Tulisan ini menunjukkan bahwa Kartini bukan hanya pelopor emansipasi, melainkan juga peletak dasar tradisi literasi kritis bagi perempuan Indonesia. Literasi adalah warisan terbesar Kartini –sebuah obor yang terus menerangi jalan menuju kesetaraan. (*)

*)Dosen Sastra di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Madura

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#pembaca #perempuan #literasi #kolonial #patriarki #emansipasi #pendidikan #menulis #pribumi #budaya jawa #bangsawan #kartini #Rakyat Jelata #membaca