Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Silang Sengkarut Mercon; Potensi Lokal di Balik Ancaman Keselamatan

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 13 April 2025 | 12:40 WIB
Masyithah Mardhatillah, dosen IAIN Madura
Masyithah Mardhatillah, dosen IAIN Madura

 

Oleh MASYITHAH MARDHATILLAH

 

PESTA mercon di Proppo, Pamekasan, pada Senin (31/3) semakin menegaskan kegandrungan masyarakat terhadap ingar bingar selebrasi. Meski dilaksanakan pada hari H Lebaran, tak sedikit yang menyempatkan waktu untuk menghadirinya.

Mercon memang identik dengan momentum sukacita seperti pernikahan, akikah, kedatangan haji atau umrah, hingga haflatul imtihan. Meski begitu, ia sering kali justru membawa duka lara. Tak lama dan tak jauh dari pesta mercon yang memakan satu korban jiwa di atas, mercon jenis balon udara membakar bangunan sekolah.

Berbagai insiden serupa telah demikian lazim di lini masa masyarakat Madura. Pada 2024 lalu, dua rumah masing-masing di Bangkalan dan Sumenep meledak tersebab mercon rakitan yang ”memakan tuannya”. Belakangan, penangkapan pembuat mercon atau handak (bahan peledak) di berbagai daerah ramai diberitakan.

Baca Juga: Tajwid Kehidupan

Fenomena Global

Mercon dipercaya sebagai fenomena pembakaran (burn) paling universal yang bisa ditemukan di seluruh penjuru dunia. Peringatan acara-acara kenegaraan, festival budaya, dan seremonial keagamaan diketahui menjadi momentum kemunculannya, meski luka dan cedera karenanya menjadi masalah nasional di banyak negara (Al-Qattan dkk, 2008).

Di Indonesia, larangan menyalakan mercon sudah ditetapkan sejak 1951. Terakhir, Kapolri merilis Peraturan Nomor 17 Tahun 2017 tentang Perizinan, Pengamanan, Pengawasan, dan Pengendalian Bahan Peledak. Akan tetapi, semua seperti menguap di tengah kegandrungan masyarakat dan berbagai momentum yang seperti mengharuskan dentuman mercon.

Lain dari itu, meski belum ada rilis resmi perihal jumlah korban mercon tiap tahunnya, diketahui bahwa angka tersebut meningkat drastis menjelang perayaan Lebaran (Kurniawan, 2023). Ini tampak bertalian dengan yang terjadi di Madura, meski tidak tersebar rata di seluruh penjuru dan cenderung menunjukkan berbagai ciri khas yang distingtif.

Baca Juga: Gerak Cepat Membangun Kampung Batik Klampar

Soliditas dan Kompetisi Kultural

Bagi perakit non-komersial, mercon adalah simbol soliditas dan solidaritas kultural. Pengadaan logistik hingga perakitan dilakukan secara swadaya dengan keahlian yang ditransmisikan antargenerasi. Saat dinyalakan, ia menjadi semacam mahakarya yang dibanggakan, branding sebuah komunitas, bahkan dilombakan meski tanpa wasit dan piala.

Lebih jauh, mercon juga menjadi representasi kampung halaman. Konon, para perantau begitu merindukan dentumannya sehingga saat pulang kampung, mereka tak berpikir dua kali untuk mendanai perakitan mercon. Ini juga berlaku untuk perakitan mercon yang cukup menghabiskan dana seperti lazim disebut lukban.

Sayangnya, manajemen risiko dan mitigasi relatif luput dari perhatian, termasuk empati pada anggota masyarakat yang kurang berkenan dengan kebisingannya. Mercon akan tetap menyala di jam-jam istirahat ataupun di lokasi permukiman dengan segala risiko yang mungkin ditimbulkan, mulai suara menggetarkan kaca hingga ancaman keselamatan jiwa dan kerugian material.

Baca Juga: Menyangga Iman, Menjaga Lingkungan

Imunitas

Selayaknya hiburan, tak semua masyarakat terhibur dengan mercon. Sebagian justru merasa terganggu karena persoalan selera, timing yang tidak tepat, bunyi beruntun yang terlalu menggelegar, momentum yang tidak pas, atau alasan lain. Kendati begitu, mercon memiliki semacam imunitas kultural yang melegitimasi keberadaan dan membuatnya kebal dari kritik.

Imunitas tersebut ditopang berbagai excuse yang berkisar dari asumsi perihal keberadaannya sebagai simbol maskulinitas, kemunculannya yang hanya insidental, jenis yang tak berbahaya, fungsinya sebagai hiburan, hingga negosiasi dengan aturan terkait dan berdalih pelestarian sesuatu yang telanjur menjadi tradisi.

Di sisi lain, aparat penegak hukum tampak ragu memberlakukan larangan menyalakan mercon sebab bertabrakan dengan banyak hal. Paling tidak, penjual mercon eceran akan terkena imbasnya, sementara berbagai hiburan rakyat nyaris tidak bisa dilepaskan dari benda tersebut. Tampaknya, masyarakat memerlukan informasi valid dan detail perihal aturan pelarangan mercon.

Baca Juga: Riski Kalimantan Barat Potret Gagalnya Pendidikan

Hiburan dan Aset Lokal

Di tengah pasang surut penegakan hukum terhadap pembuat/pengedar/pengguna mercon, kegandrungan terhadapnya menyiratkan kebutuhan masyarakat akan hiburan yang populis. Ia menjadi semacam pelarian dari berbagai impitan ekonomi dan kesenjangan sosial. Bagi mereka yang terhibur, mercon memberi sukacita dan menjadi pelipur duka lara (Kurniawan, 2023).

Keahlian merakit mercon, di sisi lain, merupakan khazanah teknologi tradisional yang bertahan bahkan berkembang dari waktu ke waktu. Akan tetapi, minimnya apresiasi menempatkan keterampilan tersebut pada wadah yang tidak seharusnya. Padahal, jika pemerintah daerah lebih peka dan terbuka, potensi tersebut bisa tersalurkan ke hal-hal positif.

Di berbagai negara, pesta mercon dan atau kembang api tidaklah dilakukan secara sporadik, tetapi difasilitasi oleh pemerintah setempat dan karenanya berdampak positif terhadap sektor pariwisata. Keterlibatan ini meniscayakan pemberlakuan protokol keamanan, meski beberapa tragedi tetap tak terhindarkan. Setidaknya, ada upaya untuk mengimbangi ingar bingar sukacita dengan prosedur standar demi keselamatan penikmatnya.

Dalam konteks Madura, ada banyak terobosan yang bisa dilakukan agar potensi yang ada tidak justru menambah daftar korban jiwa atau material. Festival, perlombaan, atau demo perakitan mercon bisa menjadi wadah untuk merangkul para peminatnya. Komunikasi intensif dan penciptaan komunitas semacam ini juga akan memudahkan penegakan hukum dan literasi prosedur keamanan. (*)

*)Dosen IAIN Madura

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#kegandrungan masyarakat #peraturan #solidaritas kultural #insiden #jumlah korban #simbol maskulinitas #larangan #mercon #hiburan #ancaman keselamatan #simbol