Oleh MOH. SAMSUL ARIFIN
SIAPA yang tidak tahu sepak bola? Hampir semua orang di seluruh dunia tahu, tapi siapa yang tahu bagaimana sepak bola menjadi mata uang baru dan tetap laku di mana-mana? Mari kita diskusikan.
Sebagai contoh kecil, (di Eropa) sepak bola menghasilkan pendapatan yang sangat besar dibandingkan olahraga lain. Pada musim 2022/2023, total pendapatan sepak bola mencapai Rp 587 triliun (€35,3 miliar). Sebagai perbandingan, NFL (American Football) menghasilkan sekitar Rp 293 triliun ($18,6 miliar), sementara NBA (basket) menghasilkan Rp 167 triliun ($10,58 miliar) di musim yang sama. Formula 1, olahraga balap mobil global, mencatatkan pendapatan sekitar Rp 40 triliun (sumber: Deloitte United States). Dengan angka-angka tersebut, terlihat jelas bahwa sepak bola tidak hanya merupakan olahraga paling populer secara global, tetapi juga yang paling menguntungkan secara ekonomi, jauh melampaui olahraga-olahraga besar lainnya.
Untuk menjaga daya tarik dan dominasi, sebenarnya bagaimana federasi bekerja sama dengan media dalam menerapkan beberapa strategi yang mendalam dan jarang diketahui publik umum untuk tetap melambungkan sepak bola sebagai mesin uang terbaik bagi mereka?
Personalisasi Penciptaan Cerita
Federasi sepak bola atau media sering kali menciptakan narasi seputar tim, pemain, atau momen-momen tertentu. Misalnya, kisah seorang pemain muda yang berasal dari lingkungan miskin dan berhasil mencapai puncak prestasi, atau cerita comeback suatu negara yang pernah mengalami kekalahan besar dalam turnamen sebelumnya. Narasi ini memberikan elemen drama yang sangat disukai media, karena menyentuh sisi emosional dan human interest dari penonton. Kisahnya mungkin memang benar adanya, namun media sering kali mendramatisasi kisah-kisah ini dan menciptakan keterikatan lebih besar antara penonton dan pemain.
Penciptaan Rivalitas dan Konflik
Rivalitas adalah salah satu unsur utama yang menciptakan daya tarik sepak bola. Yang paling sukses adalah rivalitas antara Cristiano Ronaldo vs Lionel Messi. Beberapa unsur yang dikelola media sebagai unsur perdebatan abadi mereka adalah; pencapaian pribadi, statistik goal, latar belakang, rivalitas klub, nama besar Negara asal atau federasi Eropa dan Amerika dll. Rivalitas ini memang ada, tapi media membantu membesar-besarkannya berkali lipat dari semula, menarik perhatian bahkan fanatisme seluruh dunia.
Kontroversi dan Teknologi Tingkatkan Drama
Pengenalan teknologi seperti VAR (video assistant referee) tidak hanya untuk meningkatkan keadilan dalam pertandingan, tetapi juga secara tidak langsung menciptakan lebih banyak drama. Keputusan-keputusan yang dipertimbangkan ulang melalui VAR sering menimbulkan kontroversi yang berlarut-larut, memberikan media lebih banyak bahan untuk dibahas. Momen-momen saat gol dianulir atau diberikan setelah tinjauan VAR sering menjadi headline berita utama, memicu diskusi dan perdebatan di kalangan penggemar.
Sedikit kontroversi bisa meningkatkan minat terhadap pertandingan. Bahkan, ketika keputusan yang diambil dengan VAR atau wasit dipertanyakan, hal ini dapat memperpanjang durasi liputan media dan memicu keterlibatan lebih besar dari penonton.
Tokoh Ikonik sebagai Pusat Drama
Media sering mengangkat pemain-pemain tertentu sebagai wajah utama turnamen atau klub. Pemain-pemain seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, atau Neymar, selain berbakat, juga diposisikan sebagai ikon global yang mewakili cerita-cerita besar dalam sepak bola. Kehidupan pribadi mereka, seperti gaji besar-besaran. Dalam hal ini, federasi bekerja sama dengan media untuk memastikan bahwa cerita-cerita tentang pemain bintang ini tetap berada di garis depan liputan mereka.
Medsos sebagai Platform Konten Naratif
Federasi sepak bola kini sangat mengandalkan media sosial untuk memperkuat drama dalam sepak bola. Melalui platform seperti Twitter, Instagram, dan TikTok, yang membuat mereka dapat langsung terhubung dengan penggemar dan menciptakan konten yang viral. Mereka memanfaatkan cuplikan-cuplikan video emosional, wawancara dengan pemain, serta momen-momen unik dari balik layar untuk menciptakan kedekatan yang lebih dalam antara penggemar dan klub/tim nasional.
Lihatlah fenomena akhir-akhir ini, saat akun resmi klub-klub dunia banyak sekali mengunggah konten dengan backsound viral di Indonesia, baik lagu jawa, sound lucu di Indonesia atau hal lain yang berhubungan dengan Indonesia (negara dengan pengguna media sosial terbanyak di dunia).
Narasi Sosial dan Politik
Penggunaan isu-isu sosial dan politik sebagai bagian dari narasi yang lebih besar dalam turnamen besar. Misalnya, Piala Dunia FIFA sering menjadi platform bagi negara tuan rumah untuk memamerkan kekuatan politik atau ekonomi mereka. Selain itu, kampanye-kampanye anti-rasisme, atau inisiatif lingkungan yang diluncurkan FIFA pada event besar, meski memiliki tujuan mulia, juga menjadi bagian dari strategi untuk memperluas daya tarik sepak bola di luar batas-batas olahraga.
Dengan menggunakan berbagai elemen ini, media sepertinya berhasil menciptakan ekosistem sepak bola yang terus menarik minat media global, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Media telah membuat sepak bola jadi lebih berkilau daripada koin emas, yang tak hanya membuat orang saling berkejaran di lapangan, tetapi juga berkejaran di luar sana: mengejar tiket pertandingan, mengejar momen foto dengan atlet idaman, mengejar gengsi tim nasional, mengejar jersey terbaru sebelum yang lain punya, bahkan mengejar kursi ketua federasi lewat politik internasional. Semua ini menjadikan sepak bola lebih dari sekadar olahraga; sepak bola akan tetap menjadi mata uang baru bagi kita karena dampaknya yang begitu besar. (*)
*)Dosen Ilmu Komunikasi dan Dakwah STIT Al-Ibrohimy (STITAL) Bangkalan
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti