Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Membumikan Pendidikan Politik Santun

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 14 Juli 2024 | 14:55 WIB
Zaitur Rahem, Dosen Universitas Annuqayah (UA) Guluk-Guluk, Sumenep.
Zaitur Rahem, Dosen Universitas Annuqayah (UA) Guluk-Guluk, Sumenep.

Oleh ZAITUR RAHEM

 

PERBINCANGAN tentang politik (lokal) mulai menjadi topik hangat di tengah masyarakat. Baik isu tentang politik dalam konteks provinsi atau kabupaten. Serunya membincang topik politik ini sama persis dengan meracik bumbu rujak kaum emak-emak. Isu politik ini secara umum menjadi relasi komunikasi sosial yang tidak boleh berlalu-lalang secara liar. Sebab, jika dibiarkan melaju liar akan mengusik kenyamanan hidup sebagian orang yang tidak suka dengan hiruk-pikuk politik. Apalagi, bagi mereka yang memang trauma tentang situasi politik telah melempar mereka pada dunia yang sangat menyedihkan. Semisal politik yang pernah digeluti sudah merampas kebahagiaan hidup bersama keluarga, melenyapkan sekian duit tabungan masa depan, dan merusak jalinan perkawanan yang sudah lama terbangun kuat.

Perbincangan hangat politik di meja makan dan warung kopi masyarakat setidaknya menjadi materi tentang sekolah politik. Politik sebaiknya menggiring nalar semua pihak, terutama arus bawah yang memang menjadi target politisi harus tercerdaskan. Sehingga, perbincangan mengenai isu politik, baik pusat atau lokal menjadi pemicu atas perubahan pola pandang dan gerakan semua elemen masyarakat ke arah yang lebih baik. Tak penting hari ini, dalam konteks perbincangan politik mendebat siapa dan dari unsur mana kandidat yang maju dalam panggung politik. Sebab, substansi dalam pentas politik adalah mereka yang mampu menarik simpati, menampung aspirasi, mengakomodasi dan mewujudkan kepentingan semua lapisan masyarakat. Selanjutnya, kepentingan pentas politik untuk mendewasakan mereka yang masih belum mampu menerima kenyataan akan runyamnya panggung ini.

Baca Juga: Pentingkah Menghidupkan Kembali Pemikiran Muktazilah Menuju Kejayaan Islam?

Panggung politik yang menggoda dan terkadang menyedihkan hari ini hadir di tengah masyarakat kita bukanlah suatu yang baru. Hampir setiap waktu pernak-pernik politik menghujani kehidupan masyarakat. Pesta-pesta yang terkadang menantang dan membikin lapisan masyarakat kita panas dingin ini sebaiknya menjadi jalan panjang untuk terbiasa menerima setiap kenyataan dalam dunia perpolitikan kita. Artinya, perjalanan politik yang sudah sekian lamanya ada di negeri ini tidak menjadi satu-satunya konsumsi dalam kehidupan masyarakat. Topik-topik politik yang hadir ke ruang kehidupan masyarakat biarkan berjalan secara alamiah. Misalkan ada topik politik yang membutuhkan bahan kajian, ya renungkan saja secara baik-baik. Konsep semacam ini menjadi salah satu tanda bahwa gaya berpikir kita sudah semakin terbuka. Konsep ini sebenarnya hendak membiasakan semua masyarakat agar bisa menerima kenyataan hidup dengan penuh ketenangan dan kesantunan.

Panggung Politik yang Mendidik

Tahun ini, masyarakat sudah melaksanakan sekian tahapan politik. Baru-baru ini pesta politik nasional berupa pemilihan presiden dan anggota legislatif sudah selesai. Pesta politik nasional kemarin secara tersurat sudah menyisakan banyak hal bagi masyarakat kita. Baik hal yang baik dan kurang baik. Semua itu, sekali lagi memang sudah menjadi bagian dari iklim politik yang tidak bisa ditolak. Layaknya dalam sebuah momen perlombaan, maka ada yang kalah dan ada yang menang. Secara rasional, kalah dan menang menjadi bagian penting dalam sebuah perlombaan. Tidak baik ceritanya jika di dalam perlombaan panitia menyatakan semua kontestan menang semua atau kalah semua. Karena jika demikian, pesta akan berakhir menjadi tidak menarik kembali. Pesta politik atau hajatan politik seharusnya memang penuh dengan hiruk pikuk, penuh warna.

Alasannya sangat sederhana, dengan pernak-pernik dan aneka warna yang hadir dalam hajatan politik ini, ruang bernalar masyarakat akan semakin kaya. Semakin berwarna hajatan politik kita, maka akan semakin tercerahkan semua komponen masyarakat yang terlibat dalam pesta. Biarkan saja semua terbawa arus dalam warna-warni hajatan politik yang menurut sebagian orang menyedihkan. Toh, pada akhirnya kesedihan mereka akan terobati sendiri dengan kenyataan hidup yang sangat menyakitkan. Masyarakat dengan segala beban hidupnya, setelah selesai momentum pemilihan semua pernak-pernik politik akan lalu-lalang dan pergi entah ke mana dengan sendirinya. Sewaktu-waktu masih mengingatnya mungkin sih iya, dan boleh-boleh saja. Namun, selalu larut dalam cerita politik kemarin, apalagi ceritanya menyesakkan dada itu jalan yang kurang baik.

Politik hanya menjadi ikhtiar seseorang menggapai mimpinya. Namanya ikhtiar atau pilihan hidup, sebaiknya harus dikembalikan ke jalurnya yang benar. Bahwa sesungguhnya tidak semua pilihan hidup yang sudah direncanakan akan tercapai dalam waktu sangat singkat. Sebab, bumi yang kita pijak adalah alam nyata, bukan alam dongeng. Meminjam nasihat orang-orang pandai, semua membutuhkan waktu dan proses. Tentu, terkadang proses itu melelahkan dan menyedihkan. Jika kita masuk dalam pusaran politik, lalu menang atau sesuai dengan mimpi, itu menjadi hadiah menyenangkan dan seharusnya disyukuri. Namun, jika Anda (kita) bertarung dalam hajatan politik kemudian kalah atau tidak sesuai harapan kita, jangan berputus asa. Sebab, dari sekian peserta hajatan, daftar yang kalah lebih banyak dari kontestan yang menang. Mungkin kita kalah secara hitung-hitungan suara, namun substansinya kita sudah menang menaklukkan keinginan-keinginan yang belum tentu sesuai dengan harapan kita. (*)

*)Dosen Universitas Annuqayah (UA) Guluk-Guluk, Sumenep

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#politik santun #iklim politik #pentas politik #pendidikan politik #pesta politik