Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Pentingkah Menghidupkan Kembali Pemikiran Muktazilah Menuju Kejayaan Islam?

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 7 Juli 2024 | 14:05 WIB
Hamdan Muafi, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya.
Hamdan Muafi, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya.

Oleh HAMDAN MUAFI

 

UMAT Islam pada umumnya sering mengagungkan cerita masa keemasan Islam. Hampir semua mazhab pemikiran dan kelompok Islam bangga dengan masa keemasan Islam dengan segala kemajuan yang menempatkan peradaban kala itu telah berpengaruh banyak terhadap dunia saat ini.

Masa keemasan Islam atau yang disebut golden age berlangsung pada abad ke-8 dan 13 Masehi telah menjadikan rujukan banyak keilmuan dalam berbagai bidang. Masa keemasan Islam disebut-sebut sebagai penyambung peradaban Yunani terutama dalam perkembangan filsafat. Masa keemasan Islam ini lahir dari pemikir-pemikir yang dipengaruhi oleh filsafat Yunani.

Era keemasan Islam yang ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan ilmuan saat itu banyak diperbincangkan karena sumbangsih bagi dunia. Bahkan ada sebuah penelitian, andaikan Baghdad tidak diserang bangsa Mongol, diprediksi pencapaian ilmu sains maju lebih cepat seribu tahun.

Masa keemasan Islam jalan panjang namun sulit sekali saat ini mengembalikan masa kejayaan. Para pemikir Islam dari penjuru dunia sudah banyak membuat argumen dan pandangan serta cara agar kejayaan umat Islam bisa kembali. Akan tetapi, adanya fragmentasi mazhab dan aliran pemikiran bahkan terkadang menjadi penghalang dalam menyatukan umat untuk mencapai kemajuan bersama.

Perlu diketahui, jika dirunut ke belakang, masa keemasan Islam ternyata banyak dipengaruhi oleh pemikiran Muktazilah. Pemikiran Muktazilah menjadi dasar penting bagi kemajuan peradaban Islam pada masa itu, terutama dalam aspek pemikiran rasional, filsafat, dan teologi.

Pemikiran Muktazilah merupakan salah satu aliran kalam yang pernah memainkan peran penting dalam kemajuan peradaban Islam di masa kejayaannya. Pemikiran Muktazilah meletakkan dasar sebagai pijakan dalam membangun pada masa keemasan.

Mengapa dengan jalan pemikiran Muktazilah? Muktazilah dalam memandang manusia memberikan peran bagi akal sebagai jalan penting akal manusia dalam memahami kebenaran. Cara pandang Muktazilah yang menekankan rasionalitas dan penggunaan akal sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman modern, saat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi kunci masa kejayaan umat Islam kala itu. Artinya, rasionalitas dan konsep kebebasan berkehendak manusia menciptakan jurang pertama dengan kelompok Islam yang lain.

Konsep pemikiran ini menciptakan iklim intelektual yang dinamis dan melahirkan pandangan yang lebih terbuka dan toleran terhadap perbedaan pemikiran serta bidang keilmuan yang lain. Hal Ini berkontribusi pada suasana intelektual yang kondusif bagi perkembangan ilmu pengetahuan di zaman keemasan Islam.

Meski banyak diakui sebagai masa kejayaan umat Islam dan selalu dibanggakan oleh umat Islam, akan tetapi pemikiran Muktazilah sebagai dasar pemikiran era keemasan rupanya tidak banyak diterima, terutama di Indonesia.

Baca Juga: Untung/Rugi Konsesi Tambang bagi Ormas

Mazhab di Indonesia secara tradisional adalah Sunni dengan banyak bersandarkan pada Mazhab teologi Asy’ariyah dan Maturidiyah, yang memiliki perbedaan mendasar dengan pemikiran Muktazilah. Hal ini membuat pemikiran Muktazilah sulit diterima. Pemikiran Muktazilah memiliki kontroversi tersendiri di kalangan umat Islam. Ada kelompok yang menganggapnya terlalu liberal dan menyimpang dari ajaran Islam yang otentik.

***

Saya berpandangan, kemajuan Islam tidak akan pernah tercapai jika stagnasi dalam pendidikan dan inovasi ilmiah, terutama era saat ini dalam menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dengan warisan intelektual Islam.

Sekali lagi, apa yang terjadi pada umat Islam saat ini, seperti cap terorisme, terbelakang dalam pendidikan, puritan, ekonomi bahkan militer masih tertinggal jauh dari kata maju. Mengapa umat Islam saat ini sulit bersaing dengan negara Barat? Saya berpandangan mindset ”urusan dunia tidak akan dibawa mati” atau ”urusan dunia jangan dikejar”.

Cara pandang seperti ini cenderung pasrah pada nasib dan tidak memiliki kompetensi SDM kompetitif. Jika dibandingkan dengan negara-negara yang sudah maju, kemampuan SDM dan kompetensi yang harus dimiliki. Maka tidak heran bila negara-negara Islam saat ini sudah kewalahan menghadapi hegemoni Barat dan Tiongkok. Ekonomi dan ketergantungan politik, negara-negara Islam belum mempunyai nilai tawar yang cukup.

Apa yang saya sampaikan di atas tentang pemikiran Muktazilah sebagai langkah untuk mengembalikan kejayaan Islam bukan tajuk paling utama. Paling tidak, kejayaan Islam pernah ada bukti, bahwa cara dan konsep pemikiran Mu’tazilah dapat diimplementasikan.

Poin utamanya adalah, pembaruan dan kemajuan umat Islam harus dilandasi oleh semangat ijtihad yang terbuka, kritis, dan kontekstual. Umat Islam dapat menemukan formula yang sesuai untuk menjawab tantangan zamannya, tanpa harus terjebak dalam perdebatan mazhab yang rigid. Jadi tidak harus dengan pemikiran Muktazilah . Dengan mindset terbuka dan kompetitif, insyaallah kejayaan umat Islam bisa diraih kembali. (*)

*)Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#kejayaan islam #peradaban #Mazhab #ilmu pengetahuan #muktazilah #masa #Pemikiran #perkembangan #zaman