Oleh UMAR FARUK SUBAIRI
SAYA ikut mengantar jemaah haji kloter 99 dari Morsongai, Desa Sawah Tengah, Kecamatan Robatal, ke Pendopo Kabupaten Sampang. Ada perasaan haru ketika tangis keluarga jemaah haji dan orang-orang yang ikut serta mengantar pecah sejak keluar dari rumah bahkan sepanjang perjalanan, dan saya pun merasakan resonansi kesakralannya. Saya kira, semua orang yang ikut mengantar atau yang menyaksikan berjejer di pinggir-pinggir jalan pasti akan bergumam; ”Kapan saya akan diantar iring-iringan dan dikawal mobil patwal (patroli dan pengawal) seperti ini?” Jawabannya tentu ketika sudah mendapat panggilan sang Ilahi untuk menunaikan ibadah haji.
Setahu saya ada beberapa perayaan sakral di Madura yang seolah-olah menjadi kewajiban dalam setiap prosesinya. Antara lain, acara pernikahan dan acara ibadah haji. Kedua acara ini sangat tampak kesakralannya, dalam setiap rentetan acara yang digelar. Sehingga, tampak begitu khidmat bahkan tangis haru kerap kali pecah dalam setiap rangkaian acaranya. Cuman bedanya yang saya rasakan ketika mengantarkan jemaah haji dari kampung halaman sendiri, terasa memenuhi ubun-ubun bahwa Bapak Salam, Ibu Rif’ah, Bapak Sahri, Ibu Salama, dan Ibu Salami, mereka berlima dipanggil dan diundang langsung oleh Allah untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah untuk sowan ke Baitullah dan sowan ke Rasulullah di Madinah.
Pada dasarnya, ibadah haji ialah berkunjung ke Baitullah (Kakbah) untuk melaksanakan tawaf, sai, wukuf di Arafah dan amalan manasik lainnya, di dalam masa tertentu. Dalam pelaksanaan ibadah haji merupakan bentuk pengabdian yang mencakup seluruh unsur yakni unsur jasmaniah, rohaniah, dan maliah sekaligus. Sehingga khitab (titah) Allah dalam kewajiban haji hanya bagi orang Islam yang sudah akil balig yang mampu mengadakan perjalanan ke sana, mempunyai bekal yang cukup untuk dirinya dan keluarga yang ditinggalkan, kemampuan fisik, ada sarana pengangkutan dan aman dalam perjalanan.
Ibadah haji ini dianjurkan oleh Nabi Ibrahim dan tetap dilaksanakan umat Islam sampai sekarang sebagai rukun Islam yang kelima. Setiap muslim yang mampu diwajibkan menunaikan ibadah haji sekali seumur hidup. Perintah pelaksanaan ibadah haji bagi umat manusia bermula dari seruan Nabi Ibrahim di Jabal Abu Qubais setelah merampungkan pembangunan Kakbah atas perintah dari Allah SWT. Kemudian, seruan tersebut disambut oleh semua calon-calon manusia yang terdapat dalam tulang-tulang sulbi laki-laki dan rahim-rahim perempuan dengan pernyatan: ”labbaik Allahumma labbaika”.
Kemudian perintah tersebut disempurnakan dalam syariat Nabi Muhammad SAW setelah berhijrah dari Makkah ke Madinah. Selama 13 tahun Rasulullah diangkat menjadi pembawa risalah, Allah tidak memerintahkannya untuk melaksanakan haji, barulah setelah beliau pergi Hijrah ke Madinah, Allah mewahyukan perintah haji melalui ayat QS Ali Imran, 3: 97.
Pendidikan Akhlak
Menurut Ibnu Miskawaih bahwa akhlak merupakan ”keadaan jiwa yang mengajak seseorang untuk melakukan perbuatan tanpa dipikirkan dan diperhitungkan sebelumnya”. Dalam pelaksanaan ibadah haji terdapat banyak pendidikan berakhlak mulia, antara lain, berupa syukur, yakni melaksanakan ibadah haji dengan senang hati dan sepenuh hati tidak banyak komplain dan tidak mengeluh sana-sini. Maka dari itu, kata Al-Jurjawi, dalam haji terdapat dua wujud syukur, yakni syukur adanya harta dan sehatnya badan. Sebab, banyak orang melimpah ruah hartanya tapi tidak mendapatkan panggilan Allah untuk bisa menunaikan ibadah haji dan tidak sedikit cerita orang-orang yang sakit-sakitan ketika di rumahnya, namun sampai di Makkah sehat bahkan sempurna dalam menjalankan semua rangkaian prosesi ibadah hajinya.
Termasuk pendidikan akhlak mulia dalam ibadah haji ialah ”ikhlas” karena Allah SWT, dalam artian menjalankan ibadah haji semata-mata karena Allah, mengharap rida Allah. Intinya, berusaha sebaik mungkin untuk benar-benar memenuhi panggilan Allah bukan hanya panggilan haji, apalagi ingin dipanggil haji. Ikhlas seperti surah al-Ikhlas yang tidak ada kata-kata ”ikhlas” di dalamnya. Dan, dahsyatnya, apa pun yang dikerjakan dengan ikhlas akan sempurna, akan tampak bekasnya ketika sudah selesai menjalankan ibadah haji, khususnya ketika sudah kembali ke tanah air. Sebab, tantangan terberat jemaah haji adalah bagaimana membawa kebaikan-kebaikan yang dijalankan selama menunaikan ibadah haji ke kampung halaman.
Selanjutnya, takwa juga menjadi bagian dari pendidikan akhlak dalam ibadah haji, yakni melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Secara filosofis, kata takwa berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari ta’, tawaddhu’, rendah hati, tidak sombong, baik ketika mau berangkat haji maupun ketika sudah pulang dari Tanah Suci, qaf-nya bermakna qana’ah, menerima segala keputusan yang Allah takdirkan, lebih-lebih selama menjalankan ibadah haji, wawu-nya mengandung pengertian wara’. Kata Syaikh Izzuddin bin Abdissalam: ”Takwa yang benar pasti membuahkan warak. Sementara wara’ adalah meninggalkan sesuatu yang tidak dilarang (boleh) karena khawatir terjatuh dalam sesuatu yang dilarang”.
Baca Juga: Sekolah Bukan Mesin Cuci
Selain itu, pelaksanaan manasik haji dapat diibaratkan sebagai miniatur interaksi sosial umat Islam sejagat raya, serta pemicu kesadaran diri untuk kembali sebagai manusia seutuhnya guna menegakkan solidaritas dan nilai-nilai kemanusiaan. Sebab, orang yang menunaikan ibadah haji mengingatkan akan keberadaan manusia kelak di padang mahsyar dengan meninggalkan harta dan keluarganya. Dalam ibadah haji tersebut sangat kaya akan nuansa moral dan kaya akan pesan-pesan kemanusiaan guna mengangkat derajat kebinatangan menuju kemanusiaan, berlanjut kemalaikatan, dan pada puncaknya pada derajat ketuhanan.
Berkumpulnya umat Islam di seluruh penjuru dunia, dengan status sosial, ras, suku, budaya yang berbeda-beda, bahkan antar paham dan aliran yang berbeda-beda pula memungkinkan untuk saling berinteraksi antara satu dengan yang lain. Dengan demikian, akan terjadi jalinan ukhuah islamiah, persaudaraan antara sesama muslim di seluruh dunia, tanpa melihat perbedaan apa pun, baik itu warna kulit, bahasa, suku, bangsa, dan kewarganegaraan. Ukhuah islamiah merupakan bagian dari bentuk pendidikan akhlak dalam ranah sosial. Aktualisasi pembuktian semangat ukhuwah, tidak hanya dalam bentuk jiwa, tapi juga raga karena telah dipertemukan oleh Allah dalam satu tempat, maksud dan tujuan yang sama, bacaan yang sama hingga pakaian ihram yang sama, tak ada perbedaan suku, ras, warna kulit, bahasa, pangkat, kedudukan, dan sebagainya, semua harus menunaikan ibadah haji dengan ketentuan-ketentuan yang sama.
Sementara pendidikan akhlak terhadap alam. Jemaah haji diharamkan memotong pohon atau mencabut rumput yang hijau, baik di dalam maupun di luar ihram. Jemaah haji tidak boleh memotong pohon atau mencabut rumput yang hijau, baik ditanam maupun tumbuh sendiri. Jemaah haji wajib mengganti dengan harga yang sebanding dengan pohon atau rumput yang dirusak. Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Kota ini terhormat karena penghormatan Allah. Pohonnya tidak boleh ditebang. Binatang liarnya tidak boleh diburu. Rumput basahnya tidak boleh dibersihkan.”
Kesimpulannya, secara umum ada beberapa pendidikan akhlak yang bisa kita ambil dalam prosesi ibadah haji. Pertama, akhlak yang berhubungan dengan Allah yang diwujudkan dengan cara menauhidkan Allah, takwa, berdoa, zikrullah, dan tawakal. Kedua, akhlak terhadap diri sendiri berupa sabar, syukur, tawadu, dan benar. Ketiga, akhlak terhadap keluarga yang terpatri dalam salah satu syarat bisa menunaikan ibadah haji, yakni ”mempunyai bekal yang cukup untuk dirinya dan keluarga yang ditinggalkan”. Keempat, akhlak yang berhubungan dengan sosial-masyarakat bentuknya berupa ukhuah/persaudaraan, ta’awun atau saling menolong dalam kebaikan, adil, pemurah, pemaaf, menepati janji, dan musyawarah. Kelima, akhlak terhadap hewan dan alam, berupa larangan menjebak, berburu, dan menangkap binatang buruan. Sementara yang berkaitan dengan alam atau tumbuh-tumbuhan, yakni berupa larangan memotong pohon atau mencabut rumput yang hijau, baik di dalam maupun di luar ihram.
Semoga kita bisa mengambil pelajaran, manfaat, dan hikmahnya dari pendidikan akhlak dalam ibadah haji dan semoga menjadi pemudah bagi kita untuk bisa ziarah ke Makkah dan Madinah. Amin. (*)
*)Pengampu Mata Kuliah Akhlak Tasawuf & Teosofi di Kampus Cabang IAI Nazhatut Thullab PP Gedangan Kedungdung, Sampang
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti