Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Tak Ada Yang Sia-Sia: Kultur Pengajaran Bahasa Masyarakat Madura

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 16 Juni 2024 | 13:50 WIB

 

Muhri, Dosen STKIP PGRI Bangkalan.
Muhri, Dosen STKIP PGRI Bangkalan.

Oleh MUHRI

 

MENGAPA bahasa daerah? Mengapa bahasa Madura? Pertanyaan ini muncul sebagai bagian dari era pascamodern hari ini ketika bahasa daerah tidak lagi praktis sebagai alat komunikasi. Bahasa nasional, di sisi lain, menjamin seseorang bisa berkomunikasi dengan suku lain tanpa hambatan. Bahasa nasional juga diajarkan dan digunakan dalam proses belajar mengajar di sekolah dan madrasah, mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Ini juga salah satu alasan mengapa bahasa nasional Indonesia menjadi bahasa pertama seorang anak di kawasan urban yang cenderung multietnik.

Jawaban tersebut tampak benar dari satu sisi. Namun, dari sisi yang lain, jawaban tersebut menjadi janggal ketika bahasa dikaitkan dengan budaya dan keterampilan berbahasa itu sendiri. Dari sisi budaya, misalnya, bahasa daerah menentukan identitas seorang manusia. Salah satu identitas penting yang dipengaruhi oleh bahasa adalah cara seseorang bersikap ketika berkomunikasi. Dalam konteks Madura dan Jawa, misalnya, seorang anak dituntut tidak hanya bersikap sopan ketika berkomunikasi, tetapi juga memilih diksi yang sesuai dengan lawan bicara. Kebiasaan ini secara alamiah akan melatih kepekaan sorang anak dalam berkomunikasi dengan lawan bicara yang berbeda. Kepekaan ini secara alamiah membentuk sikap dan etiket dalam pergaulan.

Ditinjau dari sisi kebahasaan, bahasa daerah memiliki fungsi tersendiri. Setelah diusulkan Mohammad Tabrani, pahlawan nasional asal Pamekasan, bahasa Indonesia menjadi wadah untuk bahasa yang pada waktu itu belum ada. Awalnya, cangkang kosong bahasa Indonesia ini diisi bahasa Melayu. Kemudian, secara berkala diserap berbagai bahasa daerah dari seluruh wilayah Indonesia. Perbedaan penggunaan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia ditunjukkan dengan perbedaan bahasa roman-roman Balai Pustaka yang menggunakan bahasa Melayu dan roman-roman Pujangga Baru yang menggunakan bahasa Indonesia. Tanpa bahasa daerah, bahasa Indonesia akan sangat miskin dan menggunakan serapan asing sebagai solusi memperkaya bahasa.

Penjelasan tersebut tentu tidak menjelaskan pentingnya bahasa Madura. Secara kebahasaan, bahasa Madura mungkin bukan satu-satunya bahasa penting yang diserap bahasa Indonesia. Serapan bahasa Madura hanya 221 kata diserap ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V. Jumlah itu menempatkan bahasa Madura pada posisi ke-5 dari bahasa daerah yang kosakatanya diserap KBBI. Ada yang lebih penting dari itu. Budaya pengajaran bahasa pada masyarakat Madura.

Umumnya, ada dua bahasa yang diajarkan sejak usia dini pada masyarakat Madura, bahasa Madura dan baca tulis Arab. Yang pertama tentu untuk berkomunikasi, sedangkan yang kedua untuk membaca Al-Qur’an. Yang pertama bersifat kultural, sedangkan yang kedua bersifat ritual spiritual.

Ditinjau dari kekuatan pemertahanan, bahasa Madura termasuk kategori aman. Dengan 7.179.356 jiwa yang mengaku dari suku Madura, penutur bahasa Madura 7.743.533 jiwa berdasarkan sensus 2010. Berdasarkan data, ada 564.177 jiwa penutur bahasa Madura bukan dari etnis Madura. Tentu saja, data ini data ± 14 tahun lalu. Sampai hari ini tidak ada lagi sensus tentang etnis dan bahasa. Tidak ada kepastian apakah bahasa Madura kini menguat atau melemah.

Terlepas dari data di atas, bahasa Madura memiliki potensi kebahasaan yang membuat posisi bahasa Madura tidak tergantikan. Dari segi bunyi saja, bahasa Madura termasuk bahasa yang memiliki perbendaharaan bunyi bahasa yang mencakup sebagian besar bunyi dua bahasa utama di Indonesia, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Penutur Jawa akan sulit mengucapkan bunyi-bunyi bersuara tanpa aspirat, sedangkan penutur bahasa Indonesia sebaliknya akan sulit mengucapkan bunyi beraspirat. Penutur bahasa Madura akan dengan mudah mengucapkan dua bunyi tersebut, sebab keduanya ada dalam perbendaharaan bunyi bahasa Madura.

Kekurangan perbendaharaan bunyi w dalam bahasa Madura berhasil ditutupi dengan kebiasaan mengajarkan baca tulis Al-Qur’an sejak usia dini. Bunyi w dalam serapan dari bahasa Jawa selalu diubah menjadi b dalam bahasa Madura. Kemungkinan besar kata-kata serapan tersebut diserap oleh masyarakat Madura saat buta huruf masih tinggi. Baik buta huruf carakan, latin, maupun hijaiyah. Carakan Madura, tetap mengucapkan wa untuk huruf Jawa kesembilan. Bukan dengan ba. Ini menunjukkan bahwa penyerapan bahasa serumpun atau asing hanya soal kemampuan mengartikulasi bunyi-bunyi tersebut. Wâjib tidak diucapkan bâjib. Demikian juga wâfat, wâlimah, wâris, wâro’, wâsilah, wasit, witir, wortel, wudu’, wujud, dan wukuf.

Kebiasaan mengajarkan baca-tulis Al-Qur’an sejak dini membantu memudahkan pembelajaran bahasa asing. Kebiasaan belajar membaca tanpa pemahaman ini ternyata berdampak positif. Bunyi-bunyi dalam huruf hijaiyah ini memudahkan pengucapan bunyi f dan z. Yang tidak kalah pentingnya, pembelajaran huruf hijaiyah memudahkan bunyi yang dalam bahasa Inggris diwujudkan dengah huruf th. Orang Madura akan mudah mengucapkan jika mereka, dalam transliterasi lama, mampu mengucapkan huruf tsa’ dan dzal. Bunyi yang dalam bahasa kerennya disebut interdental.

Dulu ketika seorang kiai menyarankan agar mengajari anak bahasa Madura dan melanjutkan baca tulis hijaiyah, terpikir bahwa saran itu hanya untuk alasan kultural semata. Ketika pemahaman terhadap kebahasaan berkembang, jelas nyata bahwa saran tersebut merupakan suatu budaya yang memiliki potensi kemampuan bahasa di masa depan. Sebut saja misalnya potensi bunyi kha’ untuk bunyi-bunyi velar yang dimanifestasi dalam huruf g dan ch dalam bahasa Belanda; demikian bunyi velar ghain yang dimanifestasi dalam r pada bahasa Perancis; dan syin pada bunyi-bunyi palatal yang terealisasi dengan huruf sh pada bahasa Inggris dan ch pada bahasa Perancis dan Belanda. Yang mengherankan, kiai yang menyarankan tersebut bukan orang yang bisa berbahasa Inggris, apalagi bahasa Eropa lain. (*)

*)Dosen STKIP PGRI Bangkalan

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Bahasa Nasional #bahasa madura #bunyi #pembelajaran #berkomunikasi #indonesia #madura #melayu #bahasa daerah #Al-Qur'an