Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Madrasah Memanggil Cetak Madrasah Unggul

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 9 Juni 2024 | 18:30 WIB
Moh. Ali Muhsin, Ketua Umum PW PGMNI Jawa Timur
Moh. Ali Muhsin, Ketua Umum PW PGMNI Jawa Timur

Oleh MOH. ALI MUHSIN

 

KENAPA harus ada program Madrasah Memanggil?” Saya sengaja mengawali pertanyaan ini untuk mewakili Anda yang ingin tahu tentang program Madrasah Memanggil. Sebab, ini memang program inovasi dalam dunia pendidikan. Masih terbilang cukup baru. Baru di-launching pada 2022.

Jawaban sederhana dari pertanyaan itu begini; program Madrasah Memanggil digagas dengan alasan kuat, karena madrasah selama ini dinilai sebagai pendidikan second class yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat, pendidikan yang kolot, lulusannya tidak mampu bersaing dengan tuntutan zaman, minim fasilitas, SDM tidak berkualitas, dan konotasi-konotasi jelek lainnya. Lengkap. Apakah realitasnya memang begitu? Harus kita akui, iya. Meskipun, sebagian kecil ada pendidikan madrasah tidak seperti penilaian di atas.

Penilaian-penilaian itu membuat saya dan teman-teman aktivis madrasah yang tergabung dalam Punggawa Guru Madrasah Nasional Indonesia (PGMNI) gelisah. Gelisah sembari mencari cara agar image negatif itu tidak melekat dalam pandangan publik. Targetnya, berupaya mewujudkan madrasah unggul. Namun, kegelisahan itu akan sia-sia tanpa dibarengi dengan program nyata. Harapan untuk mewujudkan pendidikan madrasah yang unggul dan  berkualitas jauh api dari panggang.

Dalam suatu kesempatan, PGMNI Jawa Timur menggelar rapat kerja wilayah di Surabaya untuk menyusun program kerja. Raker ini menjadi sejarah awal mula munculnya gagasan program Madrasah Memanggil. Ide ini muncul untuk menjawab kegelisahan di atas. Harapannya, terwujud madrasah yang kompetitif. Program Madrasah Memanggil menjadi salah satu program unggulan PGMNI Jatim.

Program ini sudah menjadi brand yang cukup dikenal masyarakat luas, khususnya oleh para praktisi madrasah di Madura. Bahkan, hingga ke berbagai provinsi di luar Jawa Timur. Ratusan madrasah telah menerima manfaat yang luar biasa dari program ini. Sejak di-launching, sudah ada ratusan relawan yang dilepas untuk mengabdi ke madrasah-madrasah di Madura dan berbagai kabupaten lainnya di Jawa Timur. Seperti apa program ini bergerak? Tentu akan saya jelaskan.

Tantangan Madrasah

Diakui atau tidak, madrasah memang memiliki banyak kelemahan dan tantangan. Setidaknya Jamal Ma’mur Asmani dalam Kiat Melahirkan Madrasah Unggulan menyebut kendala dalam pengembangan madrasah. Pertama, madrasah minim SDM yang berkualitas. Hal itu berdampak pada kemampuan manajerial mereka yang pas-pasan, pengelolaan tidak rapi, sehingga berjalan tanpa arah dan target.

Ciri khas dari mereka, biasanya hanya memiliki semangat dan ketulusan dalam mengabdi. Hanya, jika tidak diimbangi dengan kemampuan knowledge, wawasan, dan keterampilan, maka kemajuan madrasah sulit untuk diwujudkan. Itulah pentingnya pengelolaan madrasah diisi oleh SDM yang berkualitas agar manajemen SDM, manajemen kurikulum, manajemen kesiswaan, manajemen keuangan, manajemen sarpras, dan lainnya bisa berjalan dengan profesional.

Kedua, fasilitas yang sangat terbatas. Mayoritas madrasah di Jawa Timur pasti tidak bisa menghindar dari masalah ini. Lebih-lebih madrasah diniyah. Kondisinya sangat memprihatinkan. Banyak bangunan gedung madrasah yang hampir roboh. Ada kelas yang terbuat dari bambu. Intinya, sangat tidak layak untuk dijadikan tempat belajar mengajar. Jadi, jangan membayangkan ruang belajar mengajar di madrasah dilengkapi AC, fasilitas lengkap, dan sebagainya. Terkait itu, Jawa Pos Radar Madura berkali-kali telah menerbitkan kondisi madrasah dalam rubrik Madrasatuna.

Baca Juga: Refleksi 15 Tahun Jembatan Suramadu (1); Belum Berdampak Signifikan terhadap Madura

Ketiga, minimnya spirit inovasi. Ketersediaan SDM yang rendah memang dapat menyebabkan guru miskin ide untuk berinovasi. Itulah kenapa SDM itu disebut sebagai investasi paling mahal dalam organisasi. Pengelola madrasah rata-rata ”pasrah” dengan kondisi yang ada. Spirit untuk berkompetisi, berinovasi, dan berkreasi hilang dari diri mereka. Akibatnya, pendidikan madrasah la yamutu wala yahya; berjalan tanpa mutu dan daya. Apalagi, memang tidak memiliki biaya. Duh! sangat mengenaskan.

Keempat, minim pendanaan. Untuk mengelola madrasah tentu butuh biaya operasional. Faktor keuangan bahkan menjadi salah satu pendukung yang sangat urgen dan motor penggerak organisasi. Tapi masalahnya, tidak semua pengelola madrasah memiliki kecukupan finansial. Rata-rata sektor ini menjadi penghambat dan sandungan pengelola dalam mengembangkan madrasah. Maklum, pendidikan ini lahir dari kehendak masyarakat dan dikelola sendiri oleh masyarakat, tanpa perhatian maksimal dari pemerintah.

Minimnya pendanaan secara otomatis berdampak pada semua sektor, termasuk jaminan kesejahteraan guru madrasah. Misal imbalan jerih payah untuk guru yang sangat tidak layak. Rata-rata mereka hanya menerima Rp 25 ribu, Rp 50 ribu, bahkan ada yang tidak menerima honor sama sekali setiap bulan. Cukup memprihatinkan, bukan? Padahal, jasa mereka dalam mencerdaskan anak bangsa tidak perlu diragukan lagi. Pemerintah harus serius memperhatikan kesejahteraan guru madrasah. Anggaran melalui APBD sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan dan pengabdian mereka. Saya yakin Anda juga setuju dengan usulan saya. (*)

*)Ketua Umum PW PGMNI Jawa Timur

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#guru #PGMNI Jatim #Memanggil #madrasah #program #dipandang sebelah mata #pendidikan #sdm