Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puasa di Kuala Lumpur

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 31 Maret 2024 | 18:35 WIB
Mohamad Fathollah
Mohamad Fathollah

Oleh MOHAMAD FATHOLLAH

 

SUATU hari saya ditantang seorang teman untuk berpuasa di luar Indonesia. Tantangan yang menyenangkan. Awalnya yang ditawarkan di negara wilayah Skandinavia atau Asia Tengah yang minim populasi muslim. Dengan sedikit omon-omon saya mencoba meyakinkan di wilayah Asia Tenggara saja dulu.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya memilih ke Malaysia saja. Langsung ke jantung kotanya, Kuala Lumpur. Senang, tapi sedikit waswas sih. Bagaimana tidak, saya ke luar negeri tanpa guide, di bulan puasa lagi. Plus ini pertama kalinya saya bepergian jauh menggunakan paspor. Dengan sedikit keberanian mencoba memantapkan hati.

Pengalaman yang saya tulis ini mungkin sepele bagi yang udah bolak-balik mancanegara, tapi bagi yang tak pernah ke luar negeri, ulasan saya barangkali jadi referensi. Yah, minimal bila ditanya pihak imigrasi perihal pekerjaan saya dapat menjawab bahwa saya seorang travel-writer. Dan, ini terbukti ampuh loh.

Setelah mengurus beberapa dokumen perjalanan, dalam waktu singkat saya menyusun travel itinerary atau rencana perjalanan. Travel itinerary seperti ”rukun” perjalanan yang harus dibuat, utamanya bagi traveller pemula seperti saya. Saya membuat itinerary mulai tanggal 23 hingga 28 Maret 2024, pulang pergi Indonesia–Malaysia. Beberapa destinasi seperti Menara Petronas (KLCC), KL Tower, Aquaria KLCC, Masjid Jamek, Jalan Alor Food Street, dll, sudah disematkan dalam perjalanan.

Alhamdulillah, selama di Kuala Lumpur saya dapat berpuasa penuh. Kecuali perjalanan berangkat dan pulangnya mokel alias membatalkan puasa. Saya ngambil ”jatah” musafir. Paling tidak pegangan saya adalah hadis riwayat Muslim dari Sayyidah Aisyah, ra, berkata bahwa Hamzah bin Amr Al-Aslami suatu hari bertanya pada Rasulullah SAW, mengenai puasa dalam perjalanan. Nabi Muhammad SAW, menjawab, ”Jika kamu menghendaki maka berpuasalah, dan jika kamu menghendaki maka batalkanlah.” Mengenai mana yang lebih utama terus berpuasa atau membatalkannya, mungkin kita diskusikan di lain waktu.

Setibanya di Kuala Lumpur saya langsung jalan-jalan di sekitar hotel, tempat saya menginap. Sekitar 300 meter dari Petronas Twin Tower. Kebetulan akhir pekan, banyak turis mancanegara berseliweran di pinggir jalan. Setiap orang yang saya temui hampir semua non-Melayu. Sempat bertanya ke salah seorang turis dari Rusia, apa yang dicari di Kuala Lumpur. Mengapa pilihan destinasi wisatanya ke sini? Dengan gamblang dia menjawab bahwa liburan Asia Tenggara lebih murah daripada liburan ke Jepang. Dia dan beberapa temannya ke Kuala Lumpur untuk selanjutnya menikmati sunset di Bali.

Berpuasa di Kuala Lumpur dimulai dari pukul 06.00 dan berbuka sekitar pukul 19.30 waktu setempat. Bila kita penyuka kuliner, sangat pas memburu takjil di berbagai tempat di Kuala Lumpur. Misalnya di sekitar wilayah Jalan Alor, kita dapat menemukan berbagai macam menu makanan, mulai yang ringan-ringan seperti gorengan, buah segar hingga yang berat seperti nasi berkuah santan, berkari, dan lainnya. Rata-rata makanan berat yang disajikan adalah seafood. Berbagai menu makanan yang tersaji lebih bernuansa China, Thailand, dan Malaysia (Melayu).

Melihat Jalan Alor ini agak mirip Kya-Kya di Kembang Jepun, Surabaya. Kya-Kya adalah lokasi kuliner khas Chinatown yang buka malam hari saja. Dulu saat awal-awal tahun 2003–2004, Kya-Kya sangat ramai dan menjadi destinasi wisata kuliner unggulan di Surabaya. Entah sekarang, nampaknya sudah semakin merosot atau mungkin sudah tidak ada. Entahlah.

Ada nuansa berbeda di Kuala Lumpur. Saat bulan Ramadan seperti sekarang, beberapa mal memutar lagu islami. Tapi, saat waktu berbuka, lantunan azan diganti dengan bel dan pemberitahuan dari information center. Nuansa ini saya rasakan saat memasuki waktu berbuka di Mega Mall. Kalau di Jakarta atau Surabaya misalnya, kita terbiasa dengan suara azan dan tadarusan, tapi di Kuala Lumpur nampak seperti hening. Untungnya aplikasi keagamaan yang tertanam di gadget membantu saya mengetahui kapan waktu sahur dan berbuka.

Orang Madura di Kuala Lumpur

Selama di Kuala Lumpur saya lebih banyak mencicipi menu makanan yang biasa seperti nasi lemak dan berkunjung ke ”perkampungan Madura”. Mengenai menu makanan ini, terus terang masih lebih enak makanan Madura. Maklum, lidah saya tidak ”kompatibel” dengan menu Melayu. Menu masakan Melayu tidak sedikit menggunakan rempah-rempah bervariatif. Misalnya, apa-apa harus berkari dan bersantan. Dalam satu santapan makanan di Kuala Lumpur, kita dapat merasakan sekaligus perpaduan etnis Melayu, Cina, dan India.

Bila kita ingin merasakan menu makanan yang sesuai lidah Madura, kita dapat berkunjung ke wilayah yang banyak orang-orang Madura, seperti di Kampung Baru, Kampung Pandan, Klang Lama, atau Kampung Datuk Keramat. Di ”perkampungan” tersebut kita mudah menjumpai warung makanan milik orang Madura atau Jawa. Bahkan, dekat LRT di Kampung Datuk Keramat terdapat pasar yang isinya banyak penjual orang Madura. Sayangnya, kedai atau toko kelontong di kampung-kampung Kuala Lumpur sebagian besar berasal dari Aceh, bukan orang Madura seperti di kota-kota besar di Indonesia.

Orang Madura di Kuala Lumpur sekitar tiga ribuan. Mereka tersebar di berbagai wilayah dan jenis pekerjaan. Tidak sedikit yang saya jumpai adalah sebagai cleaning service di LRT, fasilitas publik, atau hotel. Ada pula yang sudah mapan menjadi pengusaha, seperti pengusaha kain dan lainnya. Jika kita berada di kampung ”Madura”, berpuasa di Kuala Lumpur tak ubahnya berada di negeri sendiri. Selama di Kuala Lumpur, saya tak menemukan tantangan yang sulit, kecuali tantangan yang ada pada diri sendiri. Pengin berpuasa atau tidak. Itu saja. (*)

*)Sekretaris Dewan Kesenian Sumenep

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#puasa #ramadan #tantangan #orang madura #kuala lumpur #makanan #Perjalanan