Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

MH Said Abdullah Bentengi Pemuda dari Arus Ideologi Global melalui Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan

Dafir. • Senin, 22 Desember 2025 | 18:32 WIB

 

Photo
Photo

SUMENEP — Di tengah derasnya arus informasi digital dan menguatnya narasi transnasional yang kerap mengaburkan jati diri bangsa, penguatan ideologi kebangsaan bagi generasi muda dinilai semakin mendesak. Berangkat dari kegelisahan itu, Anggota DPR RI dari Dapil Jawa Timur XI (Madura), MH Said Abdullah, menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bagi pemuda dan mahasiswa Kabupaten Sumenep, Senin (22/12) pagi.

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Pertemuan Arya Wiraraja, Hotel de Baghraf Sumenep tersebut tak sekadar menjadi forum penyampaian materi. Tetapi lebih dari itu, sosialisasi dikemas sebagai ruang dialog kritis untuk meneguhkan kembali makna berbangsa dan bernegara di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat.

Empat pilar kebangsaan terdiri atas Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika. Penguatan empat pilar kebangsaan tersebut ditekankan sebagai fondasi utama kehidupan kebangsaan. Dua tenaga ahli MH Said Abdullah, yakni Moh. Fauzi, M.Pd., dan Slamet Hidayat, S.H., turut mendampingi jalannya kegiatan.

Narasumber Amir Syarifuddin menegaskan bahwa empat pilar kebangsaan harus dipahami sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan. Dia mengibaratkan Indonesia sebagai sebuah bangunan besar yang hanya akan kokoh jika seluruh pilarnya dirawat dan dijaga bersama.

“Berpancasila tidak cukup hanya dihafal, tetapi harus dihidupi. Kesadaran dan kecintaan terhadap negara menjadi kunci agar generasi muda tidak mudah terpengaruh paham-paham yang merusak persatuan,” ujarnya.

Amir juga menekankan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan ajaran agama. Menurutnya, nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan persaudaraan yang terkandung dalam Pancasila justru sejalan dengan prinsip universal agama.

“Dalam sejarahnya, para ulama telah menerima Pancasila sebagai dasar negara. Sejak 1983, ditegaskan bahwa Pancasila sejalan dengan nilai keagamaan dan menjadi perekat kehidupan berbangsa di Indonesia,” tegasnya.

Sementara itu, narasumber yang lain Khoirussoleh juga menyampaikan bahwa Pancasila sebagai hasil ijtihad para pendiri bangsa dalam merumuskan dasar negara yang mampu merangkul kemajemukan Indonesia. Ia menyebut Pancasila lahir dari musyawarah panjang yang mempertimbangkan realitas sosial, budaya, dan keagamaan bangsa.

“Pancasila adalah identitas dan karakter bangsa Indonesia. Di dalamnya terdapat nilai moderasi yang relevan untuk menjawab tantangan global hari ini,” katanya.

Khoirussoleh juga mengajak generasi muda untuk tidak memandang empat pilar kebangsaan sebatas konsep normatif. Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus menjadi pedoman sikap dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di ruang digital.

“Kecintaan terhadap negara tercermin dari keterlibatan aktif warga negara dalam menjaga demokrasi, menghormati perbedaan, dan berpartisipasi dalam pembangunan. Keberagaman adalah keniscayaan, dan dari sanalah persatuan dibangun, sebagaimana semangat Bhinneka Tunggal Ika,” pungkasnya. (*)

Editor : Dafir.
#sosialisasi #MH Said Abdullah #empat pilar kebangsaan