Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Batik Madura Gunakan Warna Alam hingga Lambangkan Kasih Sayang

Berta SL Danafia • Senin, 2 Oktober 2023 | 23:07 WIB
WARISAN LELUHUR: Dua perajin sedang membatik di Rumah Batik Tresna Art Bangkalan, Sabtu (30/9). (ZEINAL ABIDIN/JPRM)
WARISAN LELUHUR: Dua perajin sedang membatik di Rumah Batik Tresna Art Bangkalan, Sabtu (30/9). (ZEINAL ABIDIN/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Pamekasan merupakan salah satu kabupaten yang memiliki ribuan perajin batik. Salah satu motif khas Kota Gerbang Salam ini adalah per-kapper. Yakni, sepasang kupu-kupu yang melambangkan kasih sayang.

Hanif Alimwijaya, perajin batik asal Desa Gladak Anyar, Kecamatan Pamekasan, menyampaikan, keunikan batik Pamekasan adalah warnanya yang menarik. Meski yang dikenal masyarakat adalah batik sekar jagad, tapi batik khas Kota Gerbang Salam yang sebenarnya adalah motif per-kapper atau kupu-kupu.

”Sekar jagad itu bukan dari Pamekasan, tapi motif ini sering dijadikan dasar oleh perajin. Batik khas Pamekasan itu motif per-kapper,” katanya.

Motif batik tersebut menggambarkan dua kupu-kupu yang berhadapan. Filosofinya, melambangkan dua pasangan yang sedang bercumbu. Motif ini dikenal dengan makna cinta abadi yang terjalin pada pasangan tersebut.

”Dua kapper (kupu-kupu) itu melambangkan cinta abadi dua sejoli,” tambahnya.

Konon ceritanya, batik tersebut sering digunakan para bangsawan. Juga, digunakan masyarakat untuk acara pernikahan.

”Punya Bapak Baddrut Tamam (mantan bupati Pamekasan) waktu pengambilan sumpah janji jabatan juga menggunakan batik tersebut. Dari dulu apa pun acara kegiatan kebangsawanan, batik ini pasti digunakan,” terangnya.

Seiring berkembangnya zaman, batik tersebut banyak diinovasi. Selain dibuat baju, kini dikembangkan menjadi odheng. Meski banyak perkembangan, batik tersebut tetap berwarna cokelat dan hitam dengan guratan merah.

”Saat ini banyak perajin batik yang beralih menjadi buruh rokok. Kerajinan batik kurang diminati kalangan anak muda. Apalagi, pendapatan dari hasil membatik tidak pasti, bergantung dari pesanan dan kualitas baik yang dihasilkan,” sambung Fadilatul Jannah, ibunda Hanif Alimwijaya.

Di Bangkalan, motif khasnya adalah batik gentongan. Yakni, batik legendaris berasal dari Kecamatan Tanjungbumi. Produksinya masih manual dan menggunakan warna alam. Waktu yang dibutuhkan untuk produksi batik tersebut sekitar enam bulan.

Supik Amin, owner Tresna Art menyampaikan, produksi satu lembar batik gentongan paling cepat enam bulan. Bahkan, ada yang diproduksi hingga satu tahun untuk menghasilkan kualitas yang bagus.

Batik tulis gentongan ini awal mulanya diproduksi oleh para ibu rumah tangga di Kecamatan Tanjungbumi. Saat itu, para ibu rumah tangga tidak memiliki aktivitas apa pun, mereka hanya menunggu para suami pulang melaut.

”Suatu ketika suami yang pergi melaut itu membawakan oleh-oleh kepada istrinya berupa batik, tapi belum diketahui batik itu berasal dari daerah mana,” terangnya.

Dari situlah ibu rumah tangga itu mulai tertarik membuat batik sendiri. Saat itu, produksi batik gentongan tidak diproyeksikan sebagai bisnis dan industri batik. Namun, dijadikan sebagai aktivitas untuk mengisi kekosongan para ibu rumah tangga saat ditinggal melaut oleh suaminya. ”Awalnya, batik gentongan itu digunakan sendiri, tidak untuk dijual,” katanya.

Batik gentongan ini diproduksi dengan warna alam. Bahan-bahan pewarna alami yang digunakan berupa dedaunan serta kulit dan akar pohon. Gambar batik gentongan juga tidak ada pakem. Perajin biasanya berkreasi sesuai yang diinginkan.

”Menggunakan batik gentongan ini memiliki kebanggaan tersendiri dan lebih percaya diri saat menggunakannya,” katanya.

Seni batik itu dinilai patut dihargai mahal. Selain prosesnya yang rumit, ada nilai seni yang luar biasa di dalamnya.

Thoha, salah satu perajin batik di Sumenep mengatakan, ciri khas karya seni batik tidak pernah lepas dari situasi dan kondisi sekitar. Mulai dari sisi kebudayaan hingga lingkungan alam. Khusus batik Sumenep, cenderung mengangkat motif bertema flora dan fauna.

Sebab, mayoritas aktivitas kehidupan masyarakat Kota Keris bersentuhan langsung dengan alam. Seperti bertani dan nelayan sebagai pekerjaan utama untuk memenuhi kebutuhan. ”Maka, wajar jika motifnya itu biasanya berkaitan dengan flora dan fauna,” ujar Owner Dhamar Kambhang (DK) Batik asal Desa Matanair, Kecamatan Rubaru itu.

Seiring perkembangan zaman, gambar yang dituangkan dalam batik itu mengalami peningkatan pesat. Seperti yang dia lakukan, baru-baru ini membuat batik dengan gambar bangunan ikon Sumenep dan hewan langka khas Kota Keris.

Thoha mengatakan, batik bukan sekadar pakaian, melainkan karya seni yang cukup rumit. Butuh ketelatenan dan keahlian. Untuk itu, sangat pantas jika batik dipatok dengan harga yang cukup tinggi.

Selama ini, Thoha tidak sembarang memasang harga atas karya seni batiknya. Paling murah, dibanderol harga Rp 750 ribu sampai di atas Rp 1 juta per lembar. Sementara untuk batik seragam, paling murah dipatok harga Rp 500 ribu per lembar.

”Saya tidak hanya menjual kualitas bahan. Tapi, saya juga menjual karya seni. Harga yang saya pasang tentu sebanding dengan karya seni yang dihasilkan,” ujarnya.

Dengan demikian, batik harus terus di-branding sebagai karya seni. Bukan sebatas fashion pada umumnya. Apalagi, hanya dimaknai sebagai selembar kain biasa. Karya batik harus diposisikan sebagai fashion yang unik dan estetik.

”Jadi, yang mahal bukanlah kainnya. Tapi, ide, proses, dan apresiasinya bahwa batik merupakan warisan budaya leluhur. Dan, itu telah diakui oleh dunia melalui UNESCO,” pungkasnya. (ay/za/bus)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Berta SL Danafia
#bangkalan #Kupu-Kupu #sumenep #batik #pamekasan #Motif #radar madura