Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Jadi Outfit Presiden, Batik Madura Warnai Pasar Nasional

Berta SL Danafia • Senin, 2 Oktober 2023 | 17:50 WIB
BERDAYA SAING: Rofiah Dewi menunjukkan keindahan motif batik khas Sumenep hasil produksi DK Batik, Desa Matanair, Kecamatan Rubaru, Sumenep Sabtu (30/9). (MOH. ERWIN MAULIDIN M./JPRM)
BERDAYA SAING: Rofiah Dewi menunjukkan keindahan motif batik khas Sumenep hasil produksi DK Batik, Desa Matanair, Kecamatan Rubaru, Sumenep Sabtu (30/9). (MOH. ERWIN MAULIDIN M./JPRM)

SUMENEP, RadarMadura.id – Batik Sumenep cukup terkenal. Mahakarya seni itu dipakai berbagai kalangan. Mulai dari orang biasa hingga presiden. Bahkan, pemasarannya menguasai pasar regional hingga nasional.

 Secara umum, motif batik khas Sumenep terbagi atas tiga macam. Meliputi motif klasik, tematik, dan kontemporer. ”Batik khas Sumenep itu coraknya cenderung cerah,” kata Kabid Perindustrian Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan (Diskop UKM Perindag) Sumenep Agus Eka Hariyadi.

Motif klasik memiliki dua bagian gambar utama. Terletak pada bagian dada dan punggung. Gambar utama itu bisa berupa apa saja, sesuai imajinasi perajin. Kemudian, pada bagian lain, di luar gambar utama, motif bergaris.

”Motif garis mengisi bagian kosong di luar gambar utama. Sampai semua bagian kain yang kosong, penuh dengan motif bergaris,” ungkapnya.

Kemudian, motif tematik menyesuaikan keinginan pemesan. Biasanya mengangkat tema ikon Sumenep, seperti keris, Masjid Jami’, hewan, dan sebagainya. Gambar utama terdapat pada beberapa bagian.

Meliputi, bagian dada, punggung, lengan, pergelangan tangan, kerah leher, hingga saku. Sedangkan pada bagian yang lain dibiarkan kosong alias hanya sekadar warna dasar. ”Batik tematik ini yang sampai sekarang banyak peminatnya. Seperti yang sering dipakai Pak Presiden,” katanya.

Sementara batik motif kontemporer, tidak ada ketentuan khusus yang mengikat. Estetika motif yang dituangkan cenderung bebas sesuai imajinasi perajin. Biasanya, batik tersebut berupa semi abstrak.

Strategi pemasaran yang diterapkan variatif. Ada sebagian yang memasarkan secara online dan sebagian lain offline. ”Strategi pemasarannya bergantung pengusaha. Masing-masing orang punya cara pemasaran sendiri,” ujarnya.

Untuk mendorong pemasaran batik khas Sumenep, pemerintah sering mempromosikan melalui pameran. Diskop UKM Perindag Sumenep sempat berencana membangun pasar khusus batik. ”Tapi, rencana itu belum berhasil dilaksanakan karena tidak tersedia anggaran,” pungkasnya.

Sementara itu, dorongan untuk pelestarian batik cukup masif di Bangkalan. Perajin batik meminta pemerintah turun tangan. Salah satunya, dengan memasukkan edukasi batik dalam pembelajaran di sekolah.

Owner Tresna Art Supik Amin mengatakan, cara yang paling efektif untuk menjaga dan melestarikan batik yakni dengan mengedukasi peserta didik di sekolah. Edukasi itu berlaku di seluruh jenjang pendidikan.

Di luar sekolah, kegiatan membatik ini juga dilakukan dengan cara sosialisasi dan edukasi kepada siapa saja yang ingin mengetahuinya. Langkah konkret yang dilakukan perempuan paro baya itu, dengan menyediakan tempat untuk belajar membatik.

”Kami ajak siswa ini untuk mengenal, mencintai, dan menggunakan batik asli Kabupaten Bangkalan,” terangnya.

Supik tidak menampik jika regenerasi muda yang menyukai industri batik mulai berkurang. Salah satu penyebabnya, sebagian perajin batik menginginkan anaknya memiliki kehidupan yang lebih layak dengan tidak bekerja di bidang batik.

”Rata-rata perajin batik yang tingkat ekonominya menengah ke atas, tidak menurunkan keahlian membatik kepada anak-anaknya, mereka lebih ingin anak-anaknya berkarier di bidang lainnya,” katanya.

Pelestarian batik tulis tidak bisa dilakukan secara mendiri oleh para perajin. Perlu sentuhan dari pemerintah dengan cara menjadikan budaya membatik ini sebagai muatan lokal dalam pendidikan.

Berkaitan dengan pemasaran, para perajin memang sudah melakukan secara online maupun offline. Tapi, Supik sendiri lebih memilih menjual batik secara langsung. Dia mengaku tidak pernah gentar di tengah gempuran pasar digital.

”Saya pribadi memilih memasarkan batik tulis ini secara offline, meskipun banyak yang dipasarkan melalui marketplace. (bus/za)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Berta SL Danafia
#sumenep #radar madura