Masyarakat Sumenep memperingati hari jadi kabupaten setiap tanggal 31 Oktober. Tanggal itu merujuk pada penobatan Arya Wiraraja sebagai adipati Sumenep pada 1269. Berikut catatan tim Jawa Pos Radar Madura yang berkunjung ke Makam Arya Wiraraja di Kabupaten Lumajang, Jumat (29/10).
….
DARI kejauhan lamat-lamat terdengar suara perempuan sedang menyanyikan lagu Syubbanul Wathan. Suara itu semakin jelas mengiringi langkah kaki mendekati tiga bangunan itu. Setelah sampai di bangunan itu, barulah ketahuan ternyata suara itu berasal dari para muslimat dan fatayat yang sedang ziarah kubur.
Tepatnya di makam Syekh Abdurrahman Assyaibani dan para senopati. Bangunan ini paling besar dibanding dua bangunan lainnya. Di sebelah timur bangunan itu terdapat bangunan lain. Di tempat itu ada satu makam. Di bagian depan atas tertulis ”Petilasan Makam/Pesareyan Arya Wiraraja”.
Bangunan lainnya lebih kecil. Posisinya di selatan bangunan makam Syekh Abdurrahman Assyaibani. Inilah pendapa tempat peziarah rehat. Di sekeliling tiga bangunan itu terdapat banyak kuburan umum dan pepohonan.
Suasananya jadi sejuk. Apalagi saat kami sampai bersamaan dengan butiran air turun dari langit. Langit mendung lumayan pekat. ”Dari mana?” tanya Siswanto, 54, peziarah asal Lamongan menyambut kedatangan kami.
Sore itu, pria kelahiran 1966 itu didampingi Imron Rosyadi, 47, warga Jogoyudan, Lumajang. Keduanya sudah lama ”tinggal” di Situs Biting tersebut. Karena itu, dua orang ini juga menjaga kebersihannya.
”Kalau di benteng jangan video. Sudah empat kali peristiwa kamera meledak,” tutur Siswanto yang biasa disapa Pak Diqi itu.
Dari kedua orang inilah Jawa Pos Radar Madura (JPRM) banyak mengorek informasi seputar makam Arya Wiraraja. Para peziarah datang dari banyak daerah dengan berbagai latar belakang. Termasuk dari Madura dan Bali.
”Dari Bali sering ke sini,” ujar Pak Diqi. Pria yang pulang tiga bulan sekali itu juga menyatakan bahwa dua payung di atas nisan dipasang orang peziarah dari Pulau Dewata. ”Yang tidak berubah hanya nisan yang terdiri atas tatanan batu bata. Pagar dan bangunan yang terbuat dari kayu itu terbilang baru,” imbuhnya.
Sore itu, saat kami tiba memang ada dua perempuan sedang mengaji di samping barat di makam Arya Wiraraja besama dua anak-anak. Sedangkan di makam Syekh Abdurrahman Assyaibani dan para senopati banyak anggota fatayat dan muslimat. ”Dari Jatiroto,” kata salah seorang dari mereka.
Obrolan kami sempat terhenti sejenak saat petir menyambar sangat lantang sekali. Hujan sore itu sangat lebat. Listrik tiba-tiba padam. Kami hanya saling pandang. Para perempuan berseragam hijau dan kerudung putih juga senyap. Langit pekat seperti hendak terbenam matahari. Padahal jarum jam baru menunjukkan pukul 15.45.
Pak Diqi sebenarnya bertanya dan siap mengantar jika kami hendak ke benteng. Posisinya berada di barat laut makam. Namun, hujan yang tak kunjung reda membuat kami mengurungkan niat. ”Kompleks pemakaman ini dikelilingi benteng. Mungkin dari dari kata itu kemudian dikenal dengan Situs Biting.
Situs Biting masuk wilayah Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Lumajang. Dari pusat kota tidak jauh. Hanya butuh lima atau enam menit dengan perjalanan santai. Begitu masuk di pintu utama, pengunjung disambut papan informasi tentang Perda Kabupaten Lumajang 02/2014 tentang Pelestarian Cagar Budaya.
Arya Wiraraja menjadi adipati Sumenep sejak 1269 hingga 1292. Tanggal 31 Oktober ditetapkan sebagai Hari Jadi Sumenep berdasar Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Sumenep Nomor 588 Tahun 1989.
Hairil Anwar dari Komunitas Sumenep Tempo Dulu mengatakan, Arya Wiraraja berperan mendirikan Majapahit. Karena itu, ada pelajaran yang bisa dipetik bahwa untuk menjadi besar tidak harus besar. Bisa diawali dari yang hal kecil.
Para momen hari jadi ini dia berharap generasi muda tidak hanya belajar sejarah. Tapi, juga belajar dari peristiwa sejarah. Menurut dia, pesona Sumenep sangat tinggi dalam berdirinya kerajaan era Hindu-Buddha di bawah kepemimpinan Arya Wiraraja. ”Kita berharap Sumenep mampu berbenah untuk bisa mewujudkan kejayaan Nusantara,” harap Hairil. (luq)
Editor : Administrator