Learning Management System Kelas Digital Integrasikan KBM

Hera Marylia • Dipublikasikan Rabu, 4 November 2026 | 14:09 WIB
DIGITALISASI: Sejumlah guru mengikuti peluncuran LMS dan workshop media serta strategi pembelajaran interaktif di UPTD SMPN 2 Bangkalan, Selasa (27/10). (DISPENDIK BANGKALAN UNTUK JPRM)
DIGITALISASI: Sejumlah guru mengikuti peluncuran LMS dan workshop media serta strategi pembelajaran interaktif di UPTD SMPN 2 Bangkalan, Selasa (27/10). (DISPENDIK BANGKALAN UNTUK JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Dinas Pendidikan (Dispendik) Bangkalan meluncurkan Learning Management System (LMS) Kelas Digital di UPTD SMP Negeri 2 Bangkalan, Selasa (27/10).

Sistem tersebut dirancang untuk mengintegrasikan sejumlah kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam satu platform digital.

Kepala Dispendik Bangkalan Moch. Musleh mengatakan, peluncuran LMS tersebut disertai workshop media dan strategi pembelajaran interaktif.

Tujuannya, meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi di kelas.

Menurut dia, pemanfaatan teknologi perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran.

Perangkat digital juga tidak menggantikan peran guru dalam mendidik dan membimbing anak didik.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMP Dispendik Bangkalan Muhaimin menyebut LMS di SMPN 2 Bangkalan menjadi yang pertama diterapkan pada tingkat satuan pendidikan SMP di daerah tersebut.

Melalui sistem itu, sejumlah komponen pembelajaran dapat diintegrasikan. 

Mulai dari perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, sumber belajar, lembar kerja, hingga penilaian siswa.

”Semua aktivitas akan terekam dalam LMS secara akurat. Termasuk aktivitas siswa, baik secara individual, kelompok, maupun klasikal dalam pembelajaran,” katanya.

Namun, Muhaimin mengakui, pengembangan LMS tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan.

Sistem yang masih dalam tahap awal membutuhkan penguatan konten dan fitur. 

Dalam kegiatan tersebut, pemanfaatan LMS juga dipadukan dengan eksplorasi papan interaktif digital guna mendukung proses belajar mengajar.

Muhaimin menegaskan, pembelajaran digital tetap perlu diimbangi kegiatan nondigital.

Aktivitas fisik, pengerjaan proyek, kolaborasi, dan unjuk kerja siswa tetap dibutuhkan dalam proses pembelajaran.

Dia berharap, penerapan LMS di SMPN 2 dapat menjadi referensi bagi sekolah lain.

Namun, penerapannya perlu mempertimbangkan kesiapan sumber daya manusia dan pendanaan setiap satuan pendidikan.

”Ke depan, kami berharap praktik baik ini diikuti oleh satuan pendidikan lainnya yang mampu secara SDM maupun pendanaan,” pungkasnya. (ina/yan)

Editor : Hera Marylia
LMS kelas digital SMPN 2 Bangkalan KBM Pembelajaran Digital