Adaptasi Santri di Tengah Arus Modernisasi

Hera Marylia • Dipublikasikan Kamis, 22 Oktober 2026 | 08:05 WIB
KH Imron Abd. Fattah, Pengasuh Ponpes Mambaus Salam Bangkalan
KH Imron Abd. Fattah, Pengasuh Ponpes Mambaus Salam Bangkalan

PESANTREN merupakan lembaga pendidikan tertua di Bumi Nusantara. Jauh sebelum adanya lembaga pendidikan formal seperti SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi, pondok pesantren (pesantren) telah lebih dulu hadir sebagai pusat pendidikan keagamaan di tanah air. 

Maka tidak berlebihan jika menyebut pesantren lebih dulu ada sebelum Indonesia merdeka. 

Banyak tokoh prakemerdekaan yang lahir dari rahim pesantren. Sebut saja, KH. Hasyim Asy'ari dan gurunya KH. Syaikhona Muhammad Kholil. 

Kedua sosok yang memiliki nasab keilmuan antara guru dan murid itu punya andil besar atas berdirinya Indonesia. 

Indikasinya, puluhan tahun sebelum Indonesia merdeka, Syaikhona Muhammad Kholil telah menanamkan nilai-nilai nasionalisme kepada para santrinya.

Baca Juga: Inspektorat Sumenep Ucapkan Selamat Hari Santri Nasional 2026

Itu dibuktikan dengan ditemukannya tulisan Hubbul Wathon Minal Iman (cinta tanah air bagian dari imam) pada salah satu kitab Syaikhona Muhammad Kholil. 

Sedangkan, salah satu kontribusi besar KH. Hasyim Asy'ari bagi bangsa Indonesia adalah dikeluarkannya Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945.

Yaitu, seruan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kolonialisme Belanda dan sekutunya.

Panggilan jihad itu membangkitkan nasionalisme kaum sarungan. Mulai dari para santri, kiai, dan umat Islam lainnya. 

Lewat pertempuran sengit dan berdarah di Surabaya, kaum sarungan akhirnya mampu mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa yang tercatat rapi dalam buku sejarah itu menjadi cikal-bakal lahirnya Hari Santri Nasional (HSN) yang diperingati setiap 22 Oktober sejak 2015 silam.

Itu sebagai bentuk apresiasi negara terhadap para santri dan lembaga pendidikan pesantren di Indonesia.

Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, tantangan para santri bukan lagi merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Baca Juga: Wabup Sumenep Pimpin Upacara Hari Santri Nasional 2026, Ingatkan ASN Tingkatkan Kedisiplinan

Namun, harus bisa beradaptasi di tengah arus modernisasi. Di era digital yang kian berkembang pesat, teknologi menjadi bagian penting dalam kehidupan, termasuk bagi ponpes.

Kehadiran teknologi membawa perubahan besar dalam cara santri belajar, berkomunikasi, dan memperoleh informasi.

Santri dan teknologi merupakan instrumen yang harus beriringan. Santri tidak boleh hanya terpaku pada metode pembelajaran tradisional, tetapi juga harus terbuka terhadap kemajuan zaman.

Yakni, dengan memanfaatkan teknologi demi bisa memperluas wawasan dan pengetahuan tentang keislamannya.

Seperti mengakses literasi kitab digital, mengikuti kajian para ulama, serta menyebarkan pesan-pesan kebaikan melalui berbagai platform media sosial (medsos). 

Pemanfaatan teknologi yang tepat dan positif dapat menjadi sarana dakwah yang efektif dalam menjangkau masyarakat secara lebih luas. 

Namun di sisi lain, perkembangan teknologi juga bisa mengancam santri terpapar dari konten-konten negatif. 

Maka, di situlah peran pentingnya pesantren untuk terus mencetak generasi yang bermoral dan memiliki nilai-nilai spiritualitas yang kuat. 

Selamat HSN 2026, Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas. (*)

Editor : Hera Marylia
kaum sarungan Santri dan teknologi pesantren hsn modernisasi