Dari Pinggiran Bangkalan, Pantomim Menembus Layar Nasional

Hera Marylia • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 08:56 WIB
DARI PELOSOK UNTUK INDONESIA: Anak didik Ruang Pantomim Bangkalan tampil dalam acara The Little Talk Chow di Trans TV, yang dipandu oleh Wendy Cagur, Selasa (6/10). (R. NIKE DIANITA FEBRIYANTI UNTUK JPRM)
DARI PELOSOK UNTUK INDONESIA: Anak didik Ruang Pantomim Bangkalan tampil dalam acara The Little Talk Chow di Trans TV, yang dipandu oleh Wendy Cagur, Selasa (6/10). (R. NIKE DIANITA FEBRIYANTI UNTUK JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Sebelas tahun lalu, R. Nike Dianita Febriyanti menggagas nama. Yakni, Ruang Pantomim. Dia ingin mengenalkan seni pantomim kepada siswa-siswa di pelosok.

Kini nama itu telah membawa anak-anak didiknya menjuarai pantomim tingkat nasional. Bahkan, dua di antaranya tampil di Trans TV dalam acara The Little Talk Chow.

Ada satu pesan yang Nike ingat dari proses perjuangannya. Tepatnya saat dia masih kuliah teater di Unesa.

Saat itu, tepatnya 2012, dia mengikuti lomba pantomim di Surabaya. Salah satu jurinya adalah Septian Dwi Cahyo, maestro pantomim Indonesia. 

Pesan Septian saat itu sederhana, tapi sangat bermakna. ”Jangan berhenti berpantomim,” pesannya.

Baca Juga: Bupati Minta Orang Tua Waspadai Influenza A, Penularan Cepat, Kontak Anak yang Sakit Perlu Dibatasi

Kalimat itu menjadi pegangan bagi Nike. Keraguan yang sempat muncul perlahan ditepis.

Selama bertahun-tahun, dia mendatangi sekolah-sekolah, termasuk ke pelosok Bangkalan, untuk mengenalkan pantomim kepada siswa. 

”Bukan perkara mudah. Sebab, tidak semua sekolah melihat pantomim sebagai pilihan kegiatan yang menjanjikan prestasi,” ucapnya Kamis (8/10).

Perjalanan panjang itu akhirnya berbuah manis. Anak-anak yang dilatih Nike mulai mengukir prestasi di berbagai ajang FLS2N hingga FLS3N.

Puncaknya, sejumlah anak didiknya berhasil membawa pulang gelar tingkat nasional. 

Termasuk juara pertama FLS2N SD nasional pada 2024 dan juara pertama pantomim diksus tingkat nasional pada 2026.

Dari panggung lomba, nama Ruang Pantomim Bangkalan semakin dikenal. Bahkan, pada 6 Oktober lalu, dua anak didiknya mendapat kesempatan tampil di studio Trans TV dalam acara The Little Talk Chow.

Baca Juga: Warga Miskin Tetap Dapat Akses Kesehatan Gratis, Meskipun Tercatat Masuk dalam Desil 6–10 DTSEN

Mereka ialah Siti Rahmah, siswa kelas V SDN Janteh 1 Kwanyar, dan Muhammad Virzha Ramadhan, siswa TK B, TK Siti Khodijah Bangkalan.

Nike menuturkan, undangan itu datang cukup mendadak. Nike dihubungi pada 30 September dan diminta membawa dua anak dengan usia paling kecil. Dia sempat tidak percaya dengan undangan tersebut.

Bahkan, nomor yang menghubunginya dicek melalui aplikasi identifikasi nomor karena khawatir undangan itu palsu.

”Saya speechless. Nggak nyangka. Saya cek Getcontact karena takut hoaks. Ternyata benar,” kata Nike.

BAHAGIA: R. Nike Dianita Febriyanti bersama muridnya, Siti Rahmah dan Muhammad Virzha Ramadhan, berfoto dengan Wendy Cagur di studio Trans TV dalam acara  The Little Talk Chow, Selasa (6/10). (R. NIKE DIANITA FEBRIYANTI UNTUK JPRM)
BAHAGIA: R. Nike Dianita Febriyanti bersama muridnya, Siti Rahmah dan Muhammad Virzha Ramadhan, berfoto dengan Wendy Cagur di studio Trans TV dalam acara  The Little Talk Chow, Selasa (6/10). (R. NIKE DIANITA FEBRIYANTI UNTUK JPRM)

Sebenarnya, kesempatan tampil di televisi nasional bukan yang pertama. Pada Mei lalu, Nike juga mendapat undangan Brownis (Obrowlan Manis). Yakni, acara talk show komedi dan hiburan yang ditayangkan di Trans TV.

Namun, agenda itu berbenturan dengan tugasnya sebagai juri FLS3N SD-SMP tingkat Kabupaten Bojonegoro.

Akhirnya, dia memilih menuntaskan tanggung jawab sebagai juri dan membatalkan kehadiran di acara tersebut.

Kini kesempatan itu akhirnya datang lagi. Yang paling istimewa, di studio Trans TV Nike kembali bertemu Septian Dwi Cahyo.

Baca Juga: Tabrakan Scoopy dan L300, Dua Remaja Tewas, Pengendara Sepeda Motor Diduga Sedang Bergurau

Sosok yang sebelas tahun lalu memberinya pesan untuk tidak berhenti berpantomim itu hadir di tempat yang sama. 

”Dia bilang, ‘Lho, akhirnya kamu di sini’,” ucap Septian kepada Nike sambil mengajaknya berfoto.

Bagi Nike, perjalanan itu bukan sekadar soal memenangkan lomba. Pantomim, yang mengandalkan gerak tubuh dan mimik wajah, dinilai memiliki manfaat besar bagi perkembangan anak, terutama dalam mengasah imajinasi, motorik, dan kemampuan berpikir.

Karena itu, dia ingin pantomim tidak hanya dipandang sebagai jalan menuju kejuaraan.

Kini Ruang Pantomim Bangkalan mulai memiliki bentuk yang lebih nyata. Sejak Juli 2026, latihan rutin digelar setiap Selasa dengan anggota 25 anak.

Nike masih menjadi satu-satunya pelatih. Ke depan, dia ingin membangun kaderisasi agar lima tahun mendatang sudah ada pelatih baru yang mampu meneruskan gerakan tersebut.

Meski demikian, perjalanan panjang itu belum sepenuhnya mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan.

Nike tidak semata berharap dukungan berupa uang. Menurut dia, ucapan atau penghargaan sederhana sudah cukup menjadi bentuk pengakuan terhadap perjuangan anak-anak yang membawa nama sekolah, bahkan Bangkalan, di tingkat nasional.

”Kami harap pemkab bisa mengapresiasi dan menyetarakan kejuaraan seni dengan bidang yang lain. Sebab, kami juga membawa nama Bangkalan. Tidak harus uang, minimal ada perhatian dan dukungan moral,” ucapnya. (ina/han)

Editor : Hera Marylia
pantomim The Little Talk Chow Ruang Pantomim Bangkalan manfaat prestasi