Bertahan Hidup Dari Garam, Jasuli Menyekolahkan Anak hingga Sarjana

Amin Bashiri • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 08:52 WIB
PERANTAU: Jasuli, petambak garam, saat ditemui JPRM di gubuk tambaknya di Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Bangkalan, Senin (28/9).
PERANTAU: Jasuli, petambak garam, saat ditemui JPRM di gubuk tambaknya di Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Bangkalan, Senin (28/9).  

BANGKALAN, RadarMadura.id  - Sejak berusia lima tahun, Jasuli sudah akrab dengan panas matahari, air asin, dan kristal garam. Puluhan tahun kemudian, suasana tambak masih menjadi bagian dari hidupnya. Bahkan, ketika merantau ke Bangkalan 25 tahun lalu, dia membawa serta seluruh keluarganya untuk bertahan hidup dari garam.

Matahari sedang terik-teriknya ketika JPRM berangkat menuju Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, pada Senin (28/9). Sekitar 32,5 kilometer dari pusat Kota Bangkalan, hamparan putih di tengah petak-petak tambak mulai terlihat. Bukan salju, melainkan kristal garam yang sedang menunggu waktu untuk dipanen.

Memasuki area tambak, aroma asin langsung menyambut. Petak-petak garam membentang di antara pematang. Sesekali burung bangau melintas. Menambah ketenangan di tengah panas yang menyengat. Di tempat itulah Jasuli, 51, menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai petambak garam.

Bagi Jasuli, tambak bukan sekadar tempat bekerja. Sejak berusia lima tahun, dia sudah mengikuti sang bapak bertani garam. Pekerjaan itu diwariskan turun-temurun. Bahkan, dia mengaku lahir dan tumbuh di lingkungan tambak. 

Dia merantau ke Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, sekitar 25 tahun lalu. Aslinya saya dari Desa Pinggirpapas, Kecamatan Kalianget, Sumenep. ”Semua dibawa ke sini. Jangankan anak dan istri, ayam saja dibawa,” kenangnya.

Kehidupan di tambak tidak selalu mudah. Siang hari harus berpanas-panasan. Sedangkan malam harus melawan dingin. Tidur pun dilakukan di tengah tambak. 
Namun, kondisi itu tidak membuat Jasuli meninggalkan pekerjaan yang telah menjadi bagian hidupnya. Justru dari garam itulah dia membiayai keluarga hingga anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan di tanah rantau.

Anaknya bahkan telah menyelesaikan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep. Menurut Jasuli, pendidikan penting. Namun, pekerjaan juga harus dihargai. Dia tidak pernah membatasi anak-anaknya untuk memilih pekerjaan tertentu. 

”Yang penting usaha. Pekerjaan itu nasib. Kalau mau makan ya harus kerja. Apa pun pekerjaannya, semua tetap bernilai ibadah. Presiden juga pekerjaan, nelayan pekerjaan, petani dan petambak juga pekerjaan,” tuturnya.

Dalam mengelola tambak, Jasuli tidak bekerja seorang diri. Satu hektare lahan biasanya membutuhkan dua pekerja. Sementara harga sewa satu petak tambak yang luasnya sekitar tiga hektare bisa mencapai Rp 8 juta hingga Rp 12 juta. Proses produksi pun tidak sebentar. Sekitar 15 hari digunakan untuk persiapan. Kemudian, 15 hari berikutnya untuk pengelolaan air hingga kristal garam siap dipanen.

Jika cuaca mendukung, kata Jasuli, satu petak dapat menghasilkan sekitar 12 sak garam dalam sehari pada masa panen. Namun, hasil tersebut tidak bisa dilepaskan dari kondisi cuaca. Bagi Jasuli, hujan adalah musuh utama petambak. 

”Perjalanan garam seperti bayi. Semakin dewasa semakin kuat,” ujarnya menggambarkan proses terbentuknya kristal garam.
Pengalaman panjang sebagai petambak juga mempertemukan Jasuli dengan sejumlah pemilik modal.

Salah satunya investor asal Surabaya yang pernah memberinya modal sekitar Rp 500 juta pada 2015 untuk menyewa tambak. Dari hubungan itu, Jasuli mengaku mendapat pelajaran yang menurutnya jauh lebih berharga daripada modal. Yakni, kejujuran. Prinsip itulah yang terus dia pegang hingga sekarang.

Kini, bersama istrinya, Eva Widyawati, Jasuli tetap menjalani kehidupan di tengah tambak. Baginya, panas, dingin, gagal panen maupun naik-turunnya harga merupakan bagian dari perjalanan. ”Selama masih ada pekerjaan yang bisa dikerjakan, saya memilih bertahan demi keluarga,” ucapnya. (*/han)

Editor : Amin Bashiri
tambak garam