Membaca Cara Pejabat Kolonial Eropa Melihat Kehidupan Masyarakat Madura, Tiga Aspek Jadi Perhatian

Hera Marylia • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 09:02 WIB
DISKUSI: Dari kiri, Lestari Puji Rahayu, Tedy Harnawan, dan Wildan Habibi membedah buku Ketika Eropa Melihat Madura di Kopi Kelud, Jumat (25/9) malam. (ABDUL ADHIM UNTUK JPRM)
DISKUSI: Dari kiri, Lestari Puji Rahayu, Tedy Harnawan, dan Wildan Habibi membedah buku Ketika Eropa Melihat Madura di Kopi Kelud, Jumat (25/9) malam. (ABDUL ADHIM UNTUK JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Madura pernah ditulis di meja para pejabat kolonial. Tentang garam, sapi, tentara, hingga karakter masyarakatnya.

Namun, di balik laporan yang diwariskan dari masa itu, ada pertanyaan penting. Seberapa utuh gambaran Madura yang ditulis orang Eropa?

Pertanyaan tersebut menjadi pembahasan dalam bedah buku Ketika Eropa Melihat Madura: Arsip dan Kekuasaan: Memori Serah Jabatan Residen Madura, 1905–1931 di Kopi Kelud, Jumat (25/9).

Kegiatan yang dimulai pukul 18.30 itu menghadirkan penerjemah Tedy Harnawan dan penyunting Wildan Habibi. Diskusi tersebut dipandu Lestari Puji Rahayu.

Baca Juga: Mengikuti Bedah Buku Madura, Aku Pernah Jauh, Puisi Jadi Medium Sampaikan Kegelisahan dan Perlawanan

Lestari Puji Rahayu menjelaskan, sejumlah stigma terhadap masyarakat Madura tidak lepas dari laporan Memorie van Overgave (MVO) yang dibuat pejabat kolonial. Laporan tersebut dinilai subjektif.

Sebab, para residen cenderung menonjolkan keberhasilan selama masa tugasnya.

Salah satunya terlihat dari perbedaan catatan mengenai korban malaria antara laporan residen dan dokumen lain.

Pada masa itu, perhatian residen banyak tertuju pada tiga hal. Yakni, garam, sapi, dan tentara. Produksi garam menjadi salah satu sektor yang dinilai berhasil.

Sapi Madura juga mendapat perhatian khusus hingga melahirkan sejumlah kebijakan, sedangkan loyalitas tentara terhadap bangsawan dimanfaatkan dalam politik divide et impera.

Namun, kata Rahayu, dari berbagai catatan tersebut, Madura lebih kuat dilekatkan sebagai Pulau Garam karena komoditas tersebut memberikan keuntungan besar bagi pemerintah kolonial.

Baca Juga: Pengelolaan Taman Mangrove Labuhan Terkendala Anggaran, Disbudpar Imbau Setorkan Data Pokdarwis

Menurut Rahayu, cara pandang tersebut kemudian menjadi salah satu warisan yang masih terasa hingga sekarang.

Karena merupakan terjemahan arsip, buku tersebut tidak banyak memasukkan opini penulis. 

Pembaca justru diberi kesempatan untuk membaca laporan kolonial sekaligus menyaring sendiri informasi yang terdapat di dalamnya.

Menurut dia, buku tersebut bagus dibaca kalau tertarik dengan sejarah Madura. Karena buku ini adalah terjemahan, jadi tidak ada opini.

Pembaca bisa menafsirkan sendiri dari adanya laporan-laporan residen- residen itu.

Buku tersebut sama seperti buku Kuntowijoto tentang perubahan sosial dalam masyarakat agraria Madura, tapi versi mini.

”Periodenya juga jelas, yakni 1905–1931. Terbagi menjadi beberapa laporan. Yaitu, kondisi agraria, ekonomi, kesehatan, dan sebagainya dari tiap residen.  Jadi, buku ini recommended untuk dibaca pemerhati sejarah,” ucapnya.

Sementara itu, Wildan Habibi sebagai penyunting menjelaskan, buku itu memuat terjemahan MvO dari tujuh Residen Madura dan satu kontrolir Sampang.

Baca Juga: Kanim Dekatkan Layanan melalui Program Eazy Passport, CJH dari Sumenep Tak Perlu ke Pamekasan

Isinya menggambarkan kondisi Madura pada 1905–1931. Mulai sektor agraria, ekonomi, kesehatan hingga pemerintahan.

Wildan menyebut buku itu dapat membantu pembaca melihat bagaimana kolonialisme bekerja sekaligus memahami cara pejabat kolonial memandang Madura.

Buku tersebut mengajak pembaca menengok kembali warisan kolonial yang membentuk masyarakat Madura hari ini.

Arsip tidak hanya dibaca sebagai kumpulan data sejarah, tetapi juga sebagai jejak kekuasaan. 

”Yang perlu dibaca kritis agar cara pandang masa lalu tidak begitu saja diwariskan menjadi kebenaran hari ini,” tuturnya. (ina/han)

Editor : Hera Marylia
pejabat kolonial warisan kolonial bedah buku stigma masyarakat Madura