Heri Yanto Rela Bantu Guru meski Hari Libur, Keikhlasan dan Kepedulian Juga Bagian dari Prestasi

Hera Marylia • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 06:00 WIB
TEKUN: Heri Yanto (depan kiri) berada di ruang kelas IX SMPN 1 Kokop Senin (28/9). (SAFIRA NURFIANI SAFITRI FAUZI UNTUK JPRM)
TEKUN: Heri Yanto (depan kiri) berada di ruang kelas IX SMPN 1 Kokop Senin (28/9). (SAFIRA NURFIANI SAFITRI FAUZI UNTUK JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Hari libur menjadi momen yang ditunggu-tunggu bagi sebagian siswa untuk bersantai di rumah. Namun, tidak demikian bagi Heri Yanto.

Siswa kelas IX SMPN 1 Kokop itu justru datang ke sekolah ketika ada guru yang membutuhkan bantuan.

Bagi Heri, membantu guru bukan sesuatu yang perlu dipikirkan berulang kali.

Selama dirinya mampu, dia memilih datang dan membantu dengan sukarela.

Bahkan, sekolah terasa lebih nyaman baginya dibandingkan harus berlama-lama di rumah.

Baca Juga: Pastikan Layanan Kesehatan Berjalan Optimal, Wabup Fauzan Monev di Puskesmas Tanah Merah

Remaja asal Desa Tramok, Kecamatan Kokop, itu merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

Ayahnya, Sudar, bekerja sebagai kuli bangunan. Sementara sang ibu, Rifa, merupakan ibu rumah tangga (IRT).

Kondisi itu membuat Heri memahami bahwa kehidupan keluarganya tidak mudah.

Bahkan, kakaknya sudah bekerja di Malaysia. Sementara adiknya masih duduk di bangku kelas III SD.

Heri sendiri memilih tetap bersekolah dan mengejar cita-cita meski sesekali diminta membantu bekerja.

”Saya ingin membantu. Ikhlas saja. Kalau di sekolah bisa bantu-bantu guru,” tuturnya Senin (28/9).

Heri mengaku lebih senang menghabiskan waktu di sekolah. Ketika berada di rumah, dirinya sering diminta bekerja.

”Ibu sering menyuruh saya mengikuti jejak kakak, jadi TKI ke Malaysia. Tapi, saya masih ingin belajar dan melanjutkan pendidikan sampai jadi tentara,” ucapnya.

Baca Juga: Camping Dua Hari Tanpa Khawatir Kehabisan Listrik? Menguji Seberapa Awet Schneider OffGrid PPS330 

Dia berencana melanjutkan sekolah ke SMAN 1 Tanjungbumi. Pendidikan tersebut ingin ditempuh sebagai jalan untuk mengejar cita-citanya menjadi anggota TNI.

Di sela kegiatan sekolah, Heri tetap menikmati hobinya bermain layangan dan sepak bola.

Safira Nurfiani Safitri Fauzi, guru IPA SMPN 1 Kokop, menilai, Heri memang belum menonjol dari sisi akademik dibandingkan sejumlah teman sekelasnya.

Namun, ada hal lain yang menurutnya jauh lebih berharga dari sekadar nilai rapor.

”Dia memiliki sesuatu yang sangat berharga. Yaitu, kepedulian dan keikhlasan membantu orang lain,” tuturnya.

Menurut Safira, Heri hampir selalu bersedia ketika guru membutuhkan bantuan.

Bahkan, dia terkadang datang tanpa harus diminta terlebih dahulu. Sikap tersebut juga tidak berubah ketika sekolah sedang libur.

Yang membuat Safira terkesan, Heri tidak menunjukkan sikap seolah-olah sedang mengejar pujian maupun imbalan.

Dia membantu karena memang ingin membantu. Bagi Safira, kemauan tersebut merupakan bentuk prestasi yang tidak selalu tercermin dalam bidang akademik.

Baca Juga: Zeekr Kembali Menunda Penjualan Mobil Listrik di Indonesia, 009 dan 7X Baru Meluncur Awal 2027

”Prestasi seorang anak bukan hanya tentang nilai rapor. Sikap, kepedulian, tanggung jawab, dan kemauan membantu orang lain juga merupakan bentuk prestasi,” ucapnya.

Kini Heri masih menyimpan impian tinggi. Yakni, terus bersekolah, membantu orang-orang di sekitarnya, dan suatu hari mengenakan seragam TNI.

Di tengah keterbatasan keluarga dan pilihan untuk bekerja, dia memilih bertahan di bangku sekolah. 

Sebab, dari sanalah (sekolah) masa depan yang diinginkan Heri harus diperjuangkan. (*/han)

Editor : Hera Marylia
membantu guru kepedulian Keikhlasan SMPN 1 Kokop prestasi