Bedah Buku Raden Trunodjoyo: Jejak Kepahlawanan Madura, Hapus Stereotipe tentang Masyarakat Madura

Hera Marylia • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 08:00 WIB
FOKUS: Dari kiri, M. Helmi,  M. Ainul Ghufron,  Tadjul Arifien R, Hidrochin Sabarudin, dan Hendra Gemma Dominant membedah buku Raden Trunodjoyo: Jejak Kepahlawanan Madura di Aula Perpustakaan Daerah Bangkalan, Kamis (24/9). (INA HERDIYANA/JPRM)
FOKUS: Dari kiri, M. Helmi,  M. Ainul Ghufron,  Tadjul Arifien R, Hidrochin Sabarudin, dan Hendra Gemma Dominant membedah buku Raden Trunodjoyo: Jejak Kepahlawanan Madura di Aula Perpustakaan Daerah Bangkalan, Kamis (24/9). (INA HERDIYANA/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Nama Raden Trunodjoyo tidak asing di telinga masyarakat Madura. Namun tidak banyak yang mengetahui tentang perjalanan hidupnya.

Jejak kepahlawanannya dibahas dalam buku berjudul Raden Trunodjoyo: Jejak Kepahlawanan Madura.

Suasana aula Perpustakaan Daerah (Perpusda) Bangkalan ramai pada Kamis (24/9) pagi.

Pengunjung yang datang di ruang literasi itu berasal dari berbagai lembaga di Bangkalan, jumlahnya sekitar 200 orang.

Baca Juga: Dispendik Sumenep Sebut FTBI Jadi Ruang Kecintaan pada Bahasa Daerah

Ratusan pengunjung itu datang untuk mengikuti kegiatan bedah buku Raden Trunodjoyo.

Diskusi terbuka yang dipimpin M. Helmi itu menghadirkan penulis buku, Tadjul Arifien sebagai pemateri 1. Juga Hendra Gemma Dominant sebagai pemateri 2.

Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan. Salah satu yang banyak disorot ialah sebab musabab Raden Trunodjoyo dalam sejumlah catatan sejarah lebih dikenal sebagai pemberontak daripada pahlawan.

Bagi Tadjul, ramainya tanggapan justru menjadi bagian penting dari perjalanan buku yang telah ditulis.

Dia mengapresiasi Dispusip Bangkalan yang memberikan ruang untuk mendiskusikan karya tersebut secara terbuka.

Menurutnya, buku yang ditulis bukan sekadar untuk terbit, melainkan juga dibaca, dipahami, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Tadjul berharap, pembahasan mengenai Trunodjoyo terus dikembangkan, sehingga masyarakat memiliki sudut pandang yang lebih utuh terhadap sejarah Madura.

Dia ingin buku tersebut ikut mengikis stereotipe terhadap masyarakat Madura.

Baca Juga: Polda Jatim Dinilai Tertutup, Terkait Penggerebekan di Desa Trapang dan BB 1 Kilogram Narkoba

”Yang ingin saya sampaikan dari isi buku, Raden Trunodjoyo adalah pejuang, pahlawan, bukan pemberontak,” ujarnya.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Bangkalan M. Ainul Ghufron menyatakan, bedah buku dilaksanakan bagian dari kegiatan Festival Literasi Bangkalan 2026.

Itu menjadi bagian dari upaya perpusda dalam mengikuti arahan Perpusnas.

Yakni, mempercepat peningkatan indeks pembangunan literasi masyarakat. Menurut Ainul, diskusi tentang Trunodjoyo penting dilakukan dengan menghadirkan penulis secara langsung.

Peserta bisa mengajukan pertanyaan dan menggali informasi dari sumber yang menulis buku tersebut sehingga pembahasan sejarah tidak berhenti pada pemahaman sepihak.

Selain itu, momentum tersebut diharapkan dapat memperkaya khazanah kepahlawanan Madura sekaligus mempererat rasa kebersamaan masyarakat Madura.

Antusiasme peserta menjadi penanda bahwa sejarah lokal masih memiliki ruang untuk dibicarakan.

”Semoga bedah buku ini menjadi ruang untuk membaca kembali masa lalu dan memperkaya pemahaman tentang sejarah. Syukur-syukur, ke depan Trunodjoyo bisa diusulkan dan diakui sebagai pahlawan nasional,” ucapnya. (ina/jup)

Editor : Hera Marylia
Raden Trunodjoyo Raden Trunodjoyo: Jejak Kepahlawanan Madura bedah buku catatan sejarah literasi