BANGKALAN, RadarMadura.id – Ketekunan lima siswa Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Ar-Raudlah Langkap, Kecamatan Burneh, Bangkalan, dalam meneliti energi terbarukan tidak sia-sia.
Karya mereka berhasil meraih medali emas pada ajang World Invention Competition and Exhibition (WICE).
Ide penelitian siswa berawal dari tradisi masyarakat Madura menggunakan obor berbahan biji nyamplung saat Ramadan.
Kemudian, mereka mengembangkan penelitian tentang energi terbarukan. Riset yang berawal dari hal sederhana tersebut ternyata tidak sia-sia.
Riset tersebut membawa mereka meraih medali emas dalam World Invention Competition and Exhibition (WICE) di Malaysia.
Baca Juga: Kisah Mantri BRI Blusukan di Pegunungan Garut, Dampingi Nasabah hingga Pelosok
Penelitian itu bermula dari ketertarikan Izza Wardati, pembimbing siswa, terhadap kebiasaan masyarakat di Madura yang menggunakan obor berbahan biji camplong atau nyamplung saat Ramadan.
Dari tradisi tersebut, muncul gagasan untuk meneliti kandungan biji nyamplung sebagai salah satu sumber energi terbarukan.
Buah yang memiliki nama latin Calophyllum inophyllum itu kemudian diteliti. Sebagai pembanding, tim juga meneliti biji kelompang untuk melihat potensinya sebagai bahan baku biodiesel.
”Kami meneliti biji camplong ini karena terinspirasi dari tradisi keliling menggunakan obor,” jelas Izza penuh semangat.
Menurut dia, biji nyamplung yang biasa digunakan masyarakat sebagai bahan obor harus melalui proses pengolahan.
Biji tersebut biasanya disangrai hingga berubah warna menjadi hitam. Setelah itu, dicampur dengan kain untuk digunakan sebagai obor.
”Kami berpikir berarti buah camplong itu mengandung minyak atau bahan bakar,” ujarnya.
Baca Juga: Rival di Lapangan, Di Luar Tetap Salam Settong Dhere, 16 Tim Pelajar Adu Skill di Bahlil Mini Soccer
Karya ilmiah bertajuk Applied Physics and Engineering itu dikerjakan lima siswa MIS Ar-Raudlah.
Mereka adalah Sinta Qonita, Eriva Aqla Mahira, Ariyana Gita El Zahara Asyari, Nala Fitriyani, dan Rajwa Rizqiyatul Aini. Selama penelitian, mereka dibimbing langsung oleh Izza Wardati.
Penelitian tersebut tidak dilakukan secara instan. Tim yang diberi nama Team Terang Madura itu memulai penelitian sejak Desember 2025 hingga September 2026.
Hampir sepuluh bulan mereka berkutat dengan riset tentang potensi biji nyamplung sebagai salah satu sumber energi.
Tahap awal, para siswa difokuskan membaca berbagai jurnal ilmiah, termasuk jurnal internasional tentang energi terbarukan.
Mereka mempelajari kandungan buah nyamplung sekaligus berbagai penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.
”Kami bekali siswa untuk membaca banyak jurnal, agar tahu kandungan dan kelebihan dari apa yang diteliti,” bebernya.
Penelitian tersebut belum sampai pada tahap menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) dari buah nyamplung.
Baca Juga: UTM Gelar Diskusi Hilirisasi Migas, Kawal Potensi Migas dari Bumi Pulau Garam
Tim lebih dahulu berfokus mengidentifikasi potensi dan kandungan buah yang relatif mudah ditemukan tersebut.
Izza mengatakan, penelitian itu akan terus dikembangkan. Tahap selanjutnya, tim berencana meneliti proses pengolahan buah nyamplung menjadi bahan bakar.
Salah satunya dengan memanfaatkan katalis untuk membantu mempercepat proses produksi.
”Dalam proses katalis ini kami menyarankan menggunakan bio katalis yang berbahan tumbuhan seperti kandungan enzim fase,” paparnya.
Setelah penelitian rampung, tim MIS Ar-Raudlah berangkat ke Malaysia untuk mengikuti kompetisi di SEGi University Malaysia. Mereka harus bersaing dengan sekitar 300 kelompok peserta dari 12 negara.
Tidak hanya dituntut menguasai penelitian, para siswa juga harus mampu mempresentasikan karya mereka menggunakan bahasa Inggris.
Mereka juga harus menjawab berbagai pertanyaan dari juri terkait penelitian yang dilakukan.
”Anak-anak butuh konsentrasi yang kuat karena booth antarpeserta sangat berdekatan,” paparnya.
Baca Juga: Ubaid Jadi Penyelamat Timnas Saat Bersua dengan Wakil Malaysia
Kepala MIS Ar-Raudlah Abd. Kowi mengaku bangga atas capaian anak didiknya.
Menurut dia, prestasi tersebut merupakan buah dari kerja keras dan ketekunan siswa selama menjalani proses penelitian.
”Anak-anak kami didik secara intens, jadi capaian ini berkat kegigihan mereka,” ucapnya.
Sepulang sekolah, para siswa yang tergabung dalam tim memanfaatkan waktu untuk belajar dan mencari bahan penelitian.
Pada malam hari, mereka kembali mempelajari berbagai karya ilmiah internasional terkait buah nyamplung sebelum melakukan penelitian.
”Buah nyamplung ini banyak digunakan sebagai bahan pembuatan obor di daerah saya,” katanya.
Kepulangan lima siswa tersebut disambut Wakil Bupati (Wabup) Moch. Fauzan Ja’far di Pendopo Agung Bangkalan, Kamis (24/9).
Pemkab Bangkalan mengaku bangga atas prestasi yang diraih siswa MIS Ar-Raudlah di ajang internasional tersebut.
”Kami bangga, ternyata anak-anak kami berhasil mendapatkan medali emas di kompetisi internasional di Malaysia,” ucapnya.
Fauzan menyebut capaian tersebut layak diapresiasi. Karena itu, pemkab menerima langsung kepulangan mereka sebagai bentuk kebanggaan atas prestasi yang ditorehkan.
Baca Juga: Bosan dengan Kue Manis? Coba Resep Bolo Salgado yang Gurih dan Empuk, Isi Keju serta Presunto
Dia berharap prestasi tersebut dapat menjadi motivasi bagi para siswa untuk terus mengembangkan kemampuan dan memperluas wawasan.
”Mereka kami minta untuk terus semangat belajar, termasuk terus membuka wawasan ilmu pengetahuan,” tukasnya.
Menurut Fauzan, penelitian tentang nyamplung tersebut menarik karena berkaitan dengan pengembangan energi alternatif.
Bahan baku yang diteliti dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari energi baru terbarukan.
Pemkab Bangkalan menyatakan siap memfasilitasi pengembangan hasil penelitian tersebut agar dapat diperkenalkan ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
”Kami siap memfasilitasi agar banyak alternatif tentang bahan bakar,” janjinya. (za/han)
Editor : Hera Marylia