BANGKALAN, RadarMadura.id – Tenang, tidak tergesa-gesa. Itulah karakter Sadira Arsyfa Khalisa, siswa SDIT Mutiara Ilmu Bangkalan.
Sikap itu pula yang jadi modal saat mengikuti berbagai perlombaan menggambar hingga meraih juara.
Terbaru, Sadira meraih juara I lomba menggambar dalam Islamic Youth Festival tingkat daerah yang berlangsung di SDIT Multazam Pamekasan, Sabtu (19/9). Tema yang diusung Aku Anak Indonesia.
Di balik kemenangan itu, ada latihan yang cukup intensif. Dina Qurrota Aini, guru pembina SDIT Mutiara Ilmu Bangkalan, mendampingi Sadira hampir setiap hari selama 12 hari.
”Latihan meliputi teknik menggambar, pewarnaan, detail, hingga manajemen waktu,” terang Dina.
Dina menuturkan, Sadira terbiasa menggambar dengan santai sehingga perlu dilatih agar mampu menyelesaikan karya sesuai batas waktu lomba.
Bahkan, dina sengaja memberi batas waktu lebih singkat saat latihan.
”Harusnya waktu menggambar sisa 30 menit, saya bilang sisa 10 menit. Supaya ananda tidak terlalu santai. Alhasil, dia berhasil menyelesaikan gambar sesuai waktu yang ditentukan,” ujar Dina.
Menurut Dina, kelebihan Sadira, hasil gambarnya rapi. Kemampuan membuat gradasi warna juga cukup menonjol.
Saat menggambar, dia cenderung tenang sehingga dapat menuangkan detail tanpa terburu-buru.
Kegemaran Sadira dalam menggambar tumbuh sejak TK. Selain mengikuti les, Sadira juga terbiasa menggambar berbagai objek di rumah.
Namun, dari sekian banyak objek, menggambar manusia menjadi bagian yang dianggap paling sulit.
Piala dari Pamekasan menambah daftar prestasinya. Sebelumnya, Sadira pernah meraih juara I lomba menggambar dan mewarnai tingkat SDIT Mutiara Ilmu.
Baca Juga: Resep Green Chili Chicken Curry, dari Cabai Hijau yang Menyatu dengan Kuah Rempah nan Gurih
Saat kelas I, dia juga menjadi juara I lomba tahfiz Al-Qur’an di Aceh dan juara I lomba mewarnai ketika kelas III.
Menariknya, Sadira sempat ingin menyerah dalam proses persiapan lomba.
Rasa lelah membuatnya berharap tidak menjadi juara agar tidak kembali dipilih mewakili sekolah ke tingkat provinsi.
Namun, dukungan gurunya membuat Sadira kembali berlatih hingga akhirnya membawa pulang juara pertama.
Dina berharap, prestasi tersebut tidak membuat Sadira cepat puas. Kemampuan yang sudah dimiliki akan terus dikembangkan.
Salah satunya dengan mencoba melukis menggunakan cat akrilik untuk mengikuti perlombaan berikutnya.
Sadira sendiri menyimpan cita-cita menjadi pelukis. Menurut dia, setiap perlombaan bukan hanya soal piala, melainkan kesempatan untuk terus mengasah kemampuan yang telah menjadi kegemarannya sejak kecil.
Ramalida Yanti, ibunda Sadira, turut bersyukur putrinya menjadi juara menggambar tingkat daerah.
”Harapan kami untuk Sadira, semoga bisa terus mengembangkan bakatnya dan bisa membawa kebaikan untuk dirinya dan lingkungannya,” ucapnya. (ina/han)
Editor : Hera Marylia