BANGKALAN, RadarMadura.id – Tujuan Awal masuk Fakultas Kedokteran ingin menyembuhkan orang lain. Namun setelah masuk, baru sadar bahwa yang perlu disembuhkan terlebih dahulu adalah diri sendiri. Misalnya dari kurang tidur, overthinking, dan trauma melihat materi pelajaran.
Pertanyaan tersebut disampaikan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FK UTM Andharini Dwi Cahyani, S.Kom., M.Kom., PhD, dalam Kuliah Tamu Spiritual Coaching bertema “Ilmu, Iman, dan Integritas: Bekal Menempuh Pendidikan Kedokteran” di Fakultas Kedokteran Universitas Trunodjoyo Madura (FK UTM), Kamis (17/9).
Pertanyaan tersebut kemudian diarahkan kepada narasumber dr. Yusfik Helmi Hidayat, Sp.B., FINACS, FICS, M.Kes., untuk menggali bagaimana mahasiswa dapat tetap menjaga iman, ilmu, dan integritas ketika menghadapi padatnya proses pendidikan kedokteran.
Pertanyaan tersebut menggambarkan salah satu sisi pendidikan kedokteran yang sering tidak terlihat dari luar. Di satu sisi, mahasiswa dituntut menguasai ilmu dan mencapai kompetensi profesional.
Baca Juga: Laptop Lenovo IdeaPad Vibe Bikin Tampilan Makin Personal dengan 7 Warna Pantone
Namun di sisi lain, mereka merupakan individu yang sedang belajar mengelola emosi, tekanan, kegagalan, dan berbagai tuntutan kehidupan.
Materi kuliah tamu menekankan bahwa pendidikan kedokteran memang menghadirkan beban belajar yang berat, tekanan dari sekitar, persaingan, serta tantangan dalam perjalanan karier.
Karena itu, mahasiswa perlu mengenali batas kemampuan, tidak malu mengakui ketidaktahuan, mencari bukti ilmiah, berkonsultasi, dan menjadikan kerendahan hati sebagai kekuatan.
Pesan pentingnya kekuatan diri juga disampaikan Kepala Puskesmas Kamal, Khadijah, S.Keb., Bd., M.Kes. Dia mengingatkan bahwa perjalanan pendidikan kedokteran tidak hanya membutuhkan kecerdasan akademik, tetapi juga kematangan emosional dan ketangguhan mental.
Padatnya proses pembelajaran dapat membuat mahasiswa maupun tenaga kesehatan mengalami kelelahan, baik secara fisik maupun emosional.
Dalam kondisi tertentu, seseorang yang sehari-hari memberikan pelayanan kesehatan pun dapat berada pada posisi membutuhkan pertolongan.
Baca Juga: Menjadi Dokter Tidak Cukup Hanya Pintar, FK UTM Tekankan Ilmu, Iman, dan Integritas
Karena itu, mengenali rasa lelah, mengakui ketika sedang berada dalam kondisi sulit, dan berani mencari dukungan bukanlah tanda kelemahan.
”Kemampuan menjaga diri, membangun jejaring dukungan, dan terus bangkit menjalani proses merupakan bagian dari ketangguhan yang perlu dipupuk sejak masa pendidikan,” ujarnya.
Mahasiswa juga didorong untuk tidak menutupi ketidaktahuan, mengenali batas kompetensi, mencari evidence, berkonsultasi, serta menjadikan kerendahan hati sebagai kekuatan.
Pada saat yang sama, calon dokter perlu memahami bahwa pasien bukan sekadar kasus, tetapi manusia yang memiliki kehormatan.
Menjaga privasi, meminta persetujuan, mendengarkan dengan empati, dan menghormati latar belakang pasien merupakan bagian dari adab sekaligus profesionalisme seorang dokter.
Melalui kegiatan Spiritual Coaching ini, FK UTM berkomitmen membangun pendidikan kedokteran yang menyentuh head, heart, and soul.
Mahasiswa diharapkan tumbuh menjadi dokter yang berilmu, beriman, berintegritas, berakhlak, dan bermanfaat bukan hanya kompeten dalam menjalankan profesi, tapi juga matang dalam menghadapi kehidupan dan mampu memberikan pelayanan dengan kemanusiaan.
Baca Juga: Target 80 Diler, Geely Percepat Ekspansi di Indonesia Resmikan Dua Jaringan Baru di Bekasi dan PIK 2
”Ilmu membentuk kompetensi kita, iman memberi kita arah, dan integritas membuat kita layak. Sebab, menjadi dokter yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang diketahui, tetapi juga tentang siapa diri kita ketika menggunakan ilmu tersebut,” paparnya.
Dalam konteks inilah, iman menjadi salah satu sumber kekuatan. Materi yang disampaikan dr. Yusfik mengajak mahasiswa meluruskan niat belajar karena Allah dan untuk kemaslahatan, menjaga ibadah di tengah kesibukan, serta memandang profesi kedokteran sebagai amanah.
Sementara ilmu menjadi fondasi kompetensi dan integritas menjadi penjaga agar seorang calon dokter tetap jujur dalam proses pendidikan.
Misalnya tidak menyontek, tidak memalsukan data, jujur dalam logbook, tidak mengeklaim keterampilan yang belum dikuasai, serta berani mengakui dan memperbaiki kesalahan.
Khadijah juga mengingatkan bahwa di balik perjuangan mereka terdapat harapan dan pengorbanan keluarga. ”Kalau rasa lemah itu datang, ingat orang tua yang sudah mengeluarkan biaya tidak sedikit. Jadi tetap semangat berjuang,” pesannya.
Pesan tersebut menguatkan mahasiswa agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi masa-masa sulit. Pesan tersebut bukan sekadar dorongan untuk bertahan, tetapi juga pengingat bahwa perjalanan menjadi dokter merupakan proses panjang yang membutuhkan ketekunan, dukungan, dan kemampuan untuk menjaga diri.
Sebagai fakultas yang masih berada pada tahap awal pengembangan, FK UTM juga menempatkan pendampingan mahasiswa sebagai bagian penting dari proses pendidikan.
Baca Juga: Mobil Rust Disopiri Anggota TNI Terlibat Laka di Sampang, Diduga Bawa Rokok Ilegal
Dekan FK UTM Prof. Dr. Dr. Sri Andarini, M.Kes., Sp. KKLP., Subsp. FOMC menegaskan bahwa fakultas ingin terus menjaga dan mengawal perjalanan mahasiswa sejak awal pendidikan hingga menyelesaikan seluruh tahapan pendidikan dokter.
”Tahun ini kami menerima 50 mahasiswa. Semoga nanti 50 mahasiswa ini dapat lulus bersama-sama dan tepat waktu,” ujarnya.
Komitmen tersebut harus diwujudkan melalui lingkungan pembelajaran yang menyenangkan, dukungan penuh dari dosen dan institusi, serta ruang yang luas bagi mahasiswa untuk mengembangkan prestasi akademik maupun nonakademik.
FK UTM menanamkan pemahaman bahwa menjadi dokter tidak berarti harus selalu terlihat kuat.
Menjadi dokter juga berarti mampu mengenali keterbatasan diri, berani meminta bantuan, terus belajar, dan tetap memegang nilai ketika berada dalam situasi sulit.
Sebab pada akhirnya, calon dokter tidak hanya dituntut cerdas ilmunya, tetapi juga kuat mental, kokoh iman, dan teguh integritas.
Seperti pesan utama kuliah tamu tersebut, ilmu membentuk kompetensi kita, iman memberi kita arah, dan integritas membuat kita layak. (za)
Editor : Hera Marylia