BANGKALAN, RadarMadura.id – Menjadi dokter bukan sekadar tentang menguasai ilmu kedokteran dan meraih prestasi akademik. Profesi tersebut membawa tanggung jawab besar karena berhadapan langsung dengan kehidupan dan penderitaan manusia.
Karena itu, selain kompetensi, calon dokter membutuhkan karakter, integritas, empati, dan kekuatan spiritual sebagai bekal dalam menjalankan profesinya.
Perspektif tersebut menjadi pesan utama dalam Kuliah Tamu Spiritual Coaching Fakultas Kedokteran Universitas Trunodjoyo Madura (FK UTM) bertema “Ilmu, Iman, dan Integritas: Bekal Menempuh Pendidikan Kedokteran”, yang digelar Kamis, 17 September 2026.
Sebagai fakultas yang baru berdiri, FK UTM tidak hanya berfokus pada pencapaian kompetensi akademik, namun mahasiswa juga didampingi dan dikawal sepanjang perjalanan pendidikannya.
Baca Juga: Praktisi Minta Pemkab Bangkalan Pertimbangkan Industrialisasi secara Matang
Dekan FK UTM Prof. Dr. dr. Sri Andarini, M.Kes., Sp.KKLP, Subsp. FOMC menyampaikan, 50 mahasiswa yang diterima pada angkatan awal diharapkan dapat menyelesaikan pendidikan bersama-sama dan tepat waktu.
Untuk mendukung target tersebut, FK UTM membangun lingkungan pembelajaran yang menyenangkan dengan dukungan penuh dari dosen dan institusi, sekaligus mendorong mahasiswa berprestasi.
”Mahasiswa angkatan pertama ini diharapkan menyelesaikan pendidikan tepat waktu,” ujarnya.
Kegiatan tersebut menghadirkan dr. Yusfik Helmi Hidayat, Sp.B., FINACS, FICS, M.Kes. sebagai narasumber.
Dokter kelahiran Bangkalan itu menyelesaikan pendidikan dokter di Universitas Airlangga pada 2005–2010, kemudian melanjutkan pendidikan dokter spesialis bedah di universitas yang sama pada 2012–2018.
Baca Juga: Mobil Rust Disopiri Anggota TNI Terlibat Laka di Sampang, Diduga Bawa Rokok Ilegal
Saat ini, dr. Yusfik menjalankan praktik sebagai dokter spesialis bedah di UOBK RSUD Syamrabu Bangkalan sejak 2018 dan di RSKB Heart and Surgery sejak 2024.
Sebelumnya, dia juga berpengalaman di sejumlah fasilitas kesehatan di Madura, antara lain RSU Lukas Bangkalan, RSU Anna Medika Madura, dan Klinik Utama Heart and Surgery.
Dalam pemaparannya, dr. Yusfik mengajak mahasiswa melihat kedokteran dari perspektif yang lebih luas.
Kedokteran bukan sekadar profesi, namun amanah untuk menjaga kehidupan, meringankan penderitaan, dan memberikan manfaat bagi manusia.
Karena itu, ilmu menjadi fondasi profesionalisme yang harus dibangun melalui penguasaan ilmu dasar dan klinis, kemampuan berpikir kritis berbasis bukti, keberanian mengakui keterbatasan, serta komitmen untuk terus belajar.
Pada saat yang sama, iman menjadi kompas yang membantu mahasiswa meluruskan niat belajar, menjaga ibadah di tengah kesibukan, dan menempatkan profesi sebagai bagian dari kemaslahatan.
Baca Juga: Dispendik Sediakan Anggaran Miliaran, Ribuan Guru Honorer Bakal Terima Insentif Rp 1,5 Juta
Aspek ketiga yang ditekankan adalah integritas, mengajak mahasiswa untuk tetap melakukan hal yang benar meskipun tidak ada yang mengawasi.
Dalam konteks pendidikan kedokteran, integritas tercermin dalam kejujuran akademik, tidak menyontek atau memalsukan data, kejujuran dalam logbook dan laporan kasus, tidak mengeklaim keterampilan yang belum dikuasai, serta keberanian mengakui dan memperbaiki kesalahan.
”Pasien bukan sekadar kasus, melainkan manusia yang memiliki kehormatan. Karena itu, menjaga privasi, meminta persetujuan sebelum tindakan, mendengarkan dengan empati, dan menghormati latar belakang pasien merupakan bagian dari adab sekaligus profesionalisme seorang dokter,” paparnya.
Pesan tentang pentingnya kekuatan diri juga disampaikan Kepala Puskesmas Kamal Khadijah, S.Keb., Bd., M.Kes.
Dia mengingatkan bahwa perjalanan pendidikan kedokteran tidak hanya membutuhkan kecerdasan akademik, tapi kematangan emosional dan ketangguhan mental.
Padatnya proses pembelajaran dapat membuat mahasiswa maupun tenaga kesehatan mengalami kelelahan, baik secara fisik maupun emosional.
Dalam kondisi tertentu, seseorang yang sehari-hari memberikan pelayanan kesehatan pun dapat berada pada posisi membutuhkan pertolongan.
Baca Juga: Wamen Dikdasmen Apresiasi Bupati Lukman, Dianggap Kolaboratif dan Terbuka
Karena itu, mengenali rasa lelah, mengakui ketika sedang berada dalam kondisi sulit, dan berani mencari dukungan bukanlah tanda kelemahan.
”Kemampuan menjaga diri, membangun jejaring dukungan, dan terus bangkit menjalani proses merupakan bagian dari ketangguhan yang perlu dipupuk sejak masa pendidikan,” pesannya.
Pesan tersebut relevan dengan berbagai tantangan yang dihadapi mahasiswa selama menempuh pendidikan kedokteran, mulai dari beban belajar, tekanan lingkungan, persaingan, hingga ketidakpastian dalam perjalanan akademik dan karier.
Dalam menghadapi situasi tersebut, mahasiswa didorong untuk tidak takut mengakui keterbatasan, mencari evidence, berkonsultasi, dan membangun kerendahan hati sebagai kekuatan.
Pendidikan dokter, bukan hanya proses mengumpulkan pengetahuan, tetapi juga proses membentuk manusia yang mampu menggunakan pengetahuannya secara bertanggung jawab.
Melalui kuliah tamu tersebut, FK UTM menegaskan komitmennya untuk membangun pendidikan kedokteran yang menyentuh head, heart, and soul. Mahasiswa diharapkan tumbuh menjadi dokter yang berilmu, beriman, berintegritas, berakhlak, dan bermanfaat.
”Menjadi dokter yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang diketahui, tetapi juga tentang siapa diri kita ketika menggunakan ilmu tersebut,” pungkasnya. (za)
Editor : Hera Marylia