BANGKALAN, RadarMadura.id – Bahasa Madura bukan hanya susunan kata yang diujarkan sehari-hari atau diajarkan di ruang kelas.
Di dalamnya ada tengka, penghormatan, dan identitas yang harus terus dijaga, terutama oleh generasi muda.
Kecintaan Nanik Virgiana Ningsih terhadap bahasa Madura tumbuh seiring dengan kegemarannya pada dunia seni.
Sejak lulus SMA, tepatnya 2004, dia bergabung dengan Komunitas Masyarakat Lumpur (KML). Saat itulah bakatnya mulai terasah.
Selain menjadi guru bahasa Madura di SMPN 7 Bangkalan, dia aktif menulis puisi, cerpen, naskah teater, dan bermain drama.
Baca Juga: Akses JKN Makin Luas, BPJS Kesehatan Dorong Peningkatan Mutu Layanan Faskes
Bahkan, dia pernah tampil dalam film layar lebar Foufo yang disutradarai oleh Bayu Skak.
Menurut Nanik, menjadi guru bahasa Madura merupakan panggilan hati sekaligus bentuk kepedulian terhadap kelestarian bahasa daerah.
Dia melihat, anak muda mulai meninggalkan bahasa Madura dalam percakapan sehari-hari.
Terutama di lingkungan perkotaan, bahasa Indonesia dan istilah-istilah dari media sosial dinilai semakin mendominasi.
Kondisi itu membuat perempuan kelahiran Bangkalan, 16 April 1985, tersebut tidak ingin pembelajaran bahasa Madura berhenti pada hafalan kosakata dan aturan ondhâgghâ bhâsa.
Menurut dia, bahasa Madura membawa nilai yang jauh lebih besar.
Baca Juga: BRI Raih Penghargaan Sports Industry of the Year 2026, Konsisten Dukung Ekosistem Olahraga Indonesia
”Jika generasi muda kehilangan kemampuan berbahasa Madura, yang ikut tergerus bukan hanya kosakata, melainkan juga identitas, karakter, dan tengka atau tata krama,” ucapnya.
Karena itu, Nanik berusaha membuat pembelajaran lebih dekat dengan keseharian siswa.
Salah satunya melalui komunikasi langsung, bermain peran, dan pemberian apresiasi bagi siswa yang berani menggunakan bahasa Madura.
Drama menjadi salah satu media yang dianggap efektif untuk membangun keberanian siswa berbicara tanpa takut salah.
Nanik menceritakan, cerita rakyat, tembang, dan budaya Madura juga sering dipraktikkan saat mengajar.
Siswa diajak membaca cerita rakyat, menyanyikan tembang atau lagu daerah seperti Panjhâr Lagghu, kemudian menggali nilai moral yang terkandung di dalamnya.
Baca Juga: Perencanaan Disebut Tak Sesuai, Dinkes KB Sampang Revisi Perencanaan Pagar Labkesmas
Bagi Nanik, cara itu membuat bahasa tidak terasa sebagai pelajaran yang kaku, melainkan bagian dari kehidupan dan kebudayaan mereka sendiri.
Kecintaan Nanik terhadap sastra menjadi keistimewaan tersendiri.
Dia pernah menulis naskah drama Kota Penuh Luka dan Marbhu’ah, dongeng cerita rakyat Madura, cerpen Jejak-Jejak Perih, dan sejumlah puisi berbahasa Madura.
Puisinya, Kotta Bhâbbhâran, pernah masuk antologi Nemor Kara yang diterbitkan Balai Bahasa Surabaya pada 2006.
Karya lainnya juga dimuat dalam antologi Madura, Aku Pernah Jauh yang terbit pada Juli 2026.
Namun, perjuangan merawat bahasa ibu tidak bisa dibebankan hanya kepada guru.
Nanik menilai, keluarga memiliki peran paling mendasar. Sebab, rumah merupakan tempat pertama anak mengenal bahasa.
Baca Juga: Resep Peach Crumble Cheesecake Rumahan yang Cocok untuk Teman Kopi dan NgeTeh Bareng
Sekolah hanya memiliki waktu terbatas. Pembelajaran bahasa Madura di sekolah umumnya sekitar dua jam pelajaran dalam sepekan.
Kini tantangan itu semakin besar. Pembiasaan bahasa Madura di rumah berkurang, sedangkan media sosial dan tontonan digital menawarkan begitu banyak konten berbahasa Indonesia maupun asing.
Di sisi lain, buku ajar bahasa Madura dinilai masih terbatas dan terkadang terlalu formal.
Karena itu, guru dituntut lebih kreatif mencari bahan pembelajaran yang sesuai dengan karakter generasi sekarang.
Di tengah tantangan tersebut, Nanik memilih tetap bertahan. Menurut dia, bahasa Madura harus dibuat dekat, menyenangkan, sekaligus membanggakan.
”Ketika seorang anak berani menggunakan bahasa Madura dengan percaya diri, saat itulah bahasa tidak hanya diajarkan, tetapi benar-benar diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” jelasnya. (ina/han)
Editor : Hera Marylia