BANGKALAN, RadarMadura.id – Ribuan warga tumpah ruah di Masjid Syaikhona Kholil, Desa Martajasah, pada Rabu (9/9) malam.
Di tengah lantunan ratib dan salawat, gunungan buah diarak, sebagai penanda semaraknya tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW.
Bukan hanya warga Bangkalan yang hadir dalam acara itu. Sejumlah rombongan juga datang dari luar daerah.
Di antaranya dari Sumenep, Surabaya, Probolinggo, dan sejumlah kota lain.
Sebagian mengaku penasaran dengan tradisi Maulid Nabi yang digelar di kompleks makam ulama besar Madura, Syaikhona Kholil.
Baca Juga: Bertahun-tahun Tak Dapat Perbaikan, Tiga Ruang Disekat Jadi Enam Kelas
Sebelum pembacaan ratib dimulai, suasana semakin semarak dengan arak-arakan gunungan.
Beragam bentuk gunungan dibawa menuju halaman masjid. Ada yang disusun menjulang dari aneka buah.
Ada pula yang dibuat menyerupai perahu dengan muatan jajanan, makanan ringan, dan uang.
Gunungan tersebut bukan hanya pelengkap kemeriahan.
Bagi masyarakat, kirab menjadi bagian dari ungkapan syukur yang diwujudkan secara bersama-sama.
Hasil bumi dan berbagai sajian dikumpulkan, dihias, kemudian diarak untuk dinikmati bersama setelah seluruh rangkaian doa selesai.
Ferdi Ansyah, panitia Ratib Syaikhona Kholil, menuturkan, yang berpartisipasi dalam kirab berasal dari sejumlah wilayah.
Baca Juga: Investor Jadi Solusi Atasi Pengangguran, CEO Wiraraja Group Ajak Semua Elemen Mendukung
Antara lain dari Desa Telang, Langkap, Jaddih, Langgar Demangan, Junok, dan Gili.
Mereka datang bersama-sama untuk mengikuti acara sekaligus merasakan langsung suasana Maulid Nabi di Masjid Syaikhona Kholil.
Memasuki pukul 21.00, suasana yang sebelumnya ramai perlahan lebih khidmat.
Pembacaan ratib Syaikhona Kholil dimulai. Lantunan doa dan zikir menggema di tengah ribuan warga.
Setelah itu, dilanjutkan dengan pembacaan salawat Nabi Muhammad SAW dan doa bersama.
Ferdi menuturkan, pembacaan ratib Syaikhona Kholil bukan hanya agenda rutin, melainkan ruang kepulangan spiritual.
”Ada rasa bangga dan haru yang bergetar saat ribuan suara menyatu dalam doa. Menegaskan kembali identitas kami sebagai warga Kota Zikir dan Salawat yang senantiasa meneladani jejak sang guru bangsa,” ucap Ferdi.
Tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi itu menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi.
Baca Juga: Bahlil Mini Soccer Sarana Cetak Pemimpin Bangsa, Bentuk Generasi Muda Disiplin dan Percaya Diri
Juga menghidupkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dan Syaikhona Kholil.
Setelah doa bersama selesai, suasana jadi riuh. Warga yang sejak awal menunggu di sekitar lokasi mulai bersiap rebutan buah.
Gunungan yang sebelumnya berdiri kokoh perlahan dikerumuni warga.
Buah-buahan yang tersusun rapi kemudian dibagikan dan diperebutkan. Tawa dan antusiasme warga pecah.
Di tengah keramaian itu, tak ada lagi sekat antara warga lokal dan pendatang.
Ferdi menjelaskan, gunungan yang menjulang ke atas dapat dimaknai sebagai simbol hubungan vertikal manusia dengan Tuhan.
Sementara buah dan sajian yang kemudian dibagikan merefleksikan kebersamaan, solidaritas sosial, serta harapan agar keberkahan dapat dirasakan bersama.
Ferdi berharap, kegiatan serupa dapat dikemas semakin inklusif dan inovatif tanpa menghilangkan kesakralan tradisi.
Pelibatan generasi muda juga penting agar rangkaian Ratib Syaikhona Kholil tidak hanya menjadi tradisi yang diwariskan, tetapi terus hidup dan dipahami maknanya.
Baca Juga: Apple Siap Gulirkan iOS 27 dan iPadOS 27 pada 14 September, Cek Sekarang Apakah iPhone dan iPad Kamu
Sementara itu, Ketua MUI Bangkalan KH Makki Nasir berharap momentum Ratib Syaikhona Kholil sekaligus Maulid Nabi tersebut menjadi jalan turunnya keberkahan bagi masyarakat.
Terutama bagi Kabupaten Bangkalan agar senantiasa aman dan damai.
Dia juga mendoakan para petugas yang tengah berjibaku menangani kebakaran hutan dan lahan.
”Harapannya, semoga Allah memberikan kelancaran kepada petugas sehingga kebakaran segera dipadamkan,” ucapnya. (*/han)
Editor : Hera Marylia