Irzadi Fijri Febriyanto Hobi Tanam Buah sejak SMA, Kini Serius Kembangkan Pertanian Melon

Hera Marylia • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 06:50 WIB
BERANI MECOBA: Irzadi Fijri Febriyanto berswafoto di lahan melonnya, di Desa Gili Anyar, Kecamatan Kamal, Bangkalan. (IRZADI FIJRI FEBRIYANTO UNTUK JPRM)
BERANI MECOBA: Irzadi Fijri Febriyanto berswafoto di lahan melonnya, di Desa Gili Anyar, Kecamatan Kamal, Bangkalan. (IRZADI FIJRI FEBRIYANTO UNTUK JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Ketertarikan Irzadi Fijri Febriyanto terhadap tanaman muncul sejak duduk di bangku SMA.

Saat itu dia gemar menanam berbagai jenis buah. Hobi tersebut berlanjut hingga dirinya berstatus mahasiswa.

Menariknya, Irzadi bukan berasal dari keluarga petani. Namun, kegemarannya bercocok tanam membuatnya perlahan tertarik untuk menekuni pertanian lebih serius.

Kini dia mengelola lahan sekitar 2.200 meter persegi dengan sistem sewa dan kerja sama. Komoditas yang dipilih adalah melon.

Menurut Irzadi, melon memiliki masa budi daya relatif singkat. Jenis melon yang ditanamnya dapat dipanen sekitar 60 sampai 65 hari setelah tanam.

Baca Juga: Waktu Terbaik Makan Buah Pepaya agar BAB Lancar Pagi

Salah satu musim tanam terakhir dimulai pada Juni. Dua bulan kemudian, tepatnya Agustus, tanaman tersebut memasuki masa panen.

Irzadi menuturkan, proses budi daya diawali dengan menyiapkan lahan dan memberikan pupuk dasar.

Setelah itu, dibuat bedengan, dipasang instalasi pengairan dan plastik mulsa, serta bambu sebagai lanjaran.

Kemudian, tanaman melon diarahkan merambat pada lanjaran tersebut.

Ketika buah mulai tumbuh, dilakukan penggantungan agar buah tidak langsung menyentuh tanah.

”Selama masa pertumbuhan, tanaman harus dirawat secara rutin. Mulai penyiraman, pemupukan, hingga pengendalian hama dan penyakit,” terangnya.

Bagi Irzadi, bagian tersulit bukan sekadar menanam. Namun, memastikan tanaman mampu bertahan hingga menghasilkan buah dengan kualitas yang sesuai permintaan pasar.

Sebab, kata dia, berbagai ancaman bisa datang sewaktu-waktu.

Baca Juga: Khasiat Rebusan Daun Salam untuk Kolesterol dan Asam Urat

”Pernah ingin berhenti ketika sudah membasmi hama semaksimal mungkin, tetapi masih terserang lagi. Contohnya tikus, serangga, dan kutu-kutuan,” ujarnya.

Pada panen pertama, dia mendapatkan omzet Rp 26,9 juta.

Hasil tersebut belum dapat disebut keuntungan bersih karena masih harus dikurangi biaya operasional.

Biaya pupuk yang dikeluarkan mencapai Rp 15 juta. Sementara biaya pekerja sekitar Rp 5 juta.

Selain biaya produksi, hasil panen juga sangat dipengaruhi harga jual dan kualitas buah.

”Seberapa pun hasilnya, disyukuri, yang penting tetap berusaha maksimal,” ucapnya.

Dia menerangkan, harga pembelian ditentukan berdasarkan grade.

Baca Juga: Honda BeAT Karbu Boros Bensin? Cek 3 Komponen Ini!

Melon grade A dihargai sekitar Rp 7 ribu per kilogram, grade B Rp 5 ribu per kilogram, sedangkan grade C hanya sekitar Rp 1.500 per kilogram.

Untuk menambah pengetahuan, dia juga bergabung dengan komunitas Bosston Melon di Kecamatan Ketapang, Sampang.

Dari komunitas itu, dia bisa bertukar pengalaman mengenai teknik budi daya, perawatan tanaman, hingga pemasaran.

Dia memanfaatkan media sosial untuk memasarkan buahnya. Sementara untuk menunjang proses budi daya, Irzadi masih menggunakan peralatan sederhana.

"Di antaranya sprayer elektrik dan alat untuk mengocorkan pupuk secara manual. Belum menerapkan teknologi karena modalnya masih besar,” katanya.

Menurut dia, penggunaan teknologi dapat meningkatkan efisiensi. Namun, investasi alat pertanian modern membutuhkan modal besar.

PRODUK LOKAL: Irzadi Fijri Febriyanto menunjukkan hasil panen pertamanya pada Agustus lalu. (IRZADI FIJRI FEBRIYANTO UNTUK JPRM)
PRODUK LOKAL: Irzadi Fijri Febriyanto menunjukkan hasil panen pertamanya pada Agustus lalu. (IRZADI FIJRI FEBRIYANTO UNTUK JPRM)

Di tengah berbagai tantangan tersebut, ada satu momen yang selalu membuatnya merasa puas. Yakni, ketika tanaman memasuki masa panen.

Buah yang sebelumnya hanya berupa tanaman kecil akhirnya bisa dipetik setelah melalui proses perawatan selama puluhan hari.

Baca Juga: Pilihan Oli Mesin Honda BeAT 10W-30 Murah dan Bikin Enteng

"Semua usaha, waktu, biaya, dan tenaga yang dikeluarkan akhirnya membuahkan hasil,” ucapnya.

Pilihan Irzadi terjun ke dunia pertanian juga tidak selalu mendapat pandangan positif.

Sebagian orang mendukung karena melihatnya sebagai anak muda yang mau menggeluti sektor pertanian.

Namun, ada pula yang menganggap pekerjaan itu kurang menjanjikan.

Cibiran semacam itu pernah diterimanya. Namun, Irzadi memilih tidak menjadikannya sebagai alasan untuk berhenti.

Dia ingin membuktikan bahwa pertanian dapat menjadi usaha yang menghasilkan apabila dikelola secara serius.

"Produktivitas, kualitas hasil, biaya produksi, hingga pemasaran harus diperhitungkan," paparnya.

Ke depan, Irzadi ingin mengembangkan budi daya yang lebih modern, efisien, dan mampu menghasilkan produksi yang stabil.

Baca Juga: Cara Atasi Rem Depan Honda BeAT Berdecit Tajam Saat Hujan

Dia juga berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada petani muda.

"Dukungan itu bisa berupa bantuan pupuk, pestisida, benih, teknologi, maupun sarana produksi pertanian," ulasnya.

Irzadi berharap semakin banyak generasi muda melihat pertanian dari sudut pandang berbeda. Bukan sekadar pekerjaan tradisional, tetapi juga sebagai peluang bisnis.

”Jangan melihat pekerjaan petani sebagai pekerjaan kuno, kotor, dan melelahkan. Makanan adalah kebutuhan pokok sehari-hari. Kalau pertanian dikelola dengan baik dan menggunakan teknologi, hasilnya bisa lebih maksimal,” pungkasnya. (*/yan)

Editor : Hera Marylia
pertanian melon Melon kecamatan kamal hobi budi daya