BANGKALAN, RadarMadura.id – Bangkalan sudah kita sebut setiap hari. Namun, berapa banyak di antara kita yang tahu bagaimana asal-usul terbentuknya nama itu?
Pertanyaan itulah yang menggerakkan UKM Seni Nanggala UTM untuk menggarap Bangkala’an di hari ulang tahunnya yang ke-25.
Sebuah pertunjukan yang tidak hanya bercerita, tetapi juga mengajak penonton ”jalan” bersama Ke Lesap dari Sumenep menuju Bangkalan.
Pertunjukan ini disutradarai oleh Mahmud Kamsuri dengan ketua Sonda Slewa Warna dan komposer musik Basori.
Baca Juga: Yang Disayangkan dan Yang Dirindukan, Kembalinya Pementasan Teater ke Pantura
Di atas panggung, ada 10 pemain drama dan 12 pemain musik. Sebanyak 22 orang itu menggambarkan peristiwa-peristiwa penting dalam kisah Ke Lesap.
Dari keberangkatan, konflik di perjalanan, hingga jejak yang akhirnya membentuk Bangkalan hari ini.
Bagian Koordinator Pengkaryaan UKM Seni Nanggala UTM D. I. Virnando menceritakan, Bangkala’an lahir dari satu kegelisahan.
Yakni, sejarah lokal yang makin jauh dari orang yang tinggal di dalamnya.
”Kegelisahan kami adalah ketika sejarah dan cerita lokal semakin jauh dari generasi yang hidup di dalamnya. Kita mengenal banyak cerita dari luar, tetapi terkadang justru tidak mengenal cerita dari tempat kita sendiri,” katanya Senin (7/9).
Karena itu, dia bersama tim mengangkat tema Ke Lesap. Bukan sebagai legenda yang ditaruh di buku, melainkan sebagai tubuh, gerak, dan suara di atas panggung.
”Dalam pertunjukan ini, kami mencoba membawa kembali cerita yang menjadi bagian dari ingatan dan sejarah masyarakat Madura. Kemudian, menerjemahkannya ke dalam bahasa pertunjukan,” jelas Virnando.
Baca Juga: Perkembangan Konvensi Teater pada Era Digitalisasi
Menurut dia, cerita asal-usul bukan urusan masa lalu, tetapi juga tentang identitas.
Di tengah generasi yang semakin dekat dengan budaya modern, cerita perjalanan Ke Lesap penting untuk kembali diperkenalkan agar masyarakat, terutama generasi muda, tidak kehilangan hubungan dengan sejarah dan akar daerahnya.
Proses pertunjukan dimulai dari membaca ulang kisah Ke Lesap.
Lalu, mencari adegan-adegan yang punya kekuatan dramatik.
Setelah itu, diterjemahkan ke dalam karakter, gerak, musik, dan visual.
”Kami tidak sekadar menceritakan kembali perjalanan tersebut, tetapi mencoba membuat penonton mengalami perjalanan itu bersama tokoh-tokohnya,” ujar Virnando.
Tantangan terbesar dalam pertunjukan ini, membuat sejarah tetap jujur, tapi juga menarik bagi penonton.
”Kami harus menjaga hubungan dengan cerita aslinya. Namun, di sisi lain juga mencari bentuk artistik yang bisa diterima dan dirasakan oleh generasi sekarang,” ucapnya.
Untuk itu, para pemain berlatih karakter, tubuh, adegan, dan musik.
Karakter dibangun dari pemahaman siapa tokoh itu, lalu diwujudkan lewat suara, gestur, dan hubungan antartokoh.
Dalam pertunjukan Bangkala’an, unsur Madura tidak hanya dijadikan hiasan.
Ia hadir lewat bahasa, karakter masyarakat, musik, gerak, nilai-nilai sosial, serta cerita dan sejarah lokal.
Ada juga simbol, musik, dan properti khusus untuk merepresentasikan perjalanan Ke Lesap.
Pendekatan inilah yang membuat sutradara tetap percaya pada kesenian lokal di tengah gempuran hiburan modern.
”Menurut saya, kesenian lokal tidak harus bersaing dengan hiburan modern dengan cara menjadi sama. Justru kekuatannya ada pada cerita dan identitas yang dimilikinya sendiri. Yang perlu dilakukan adalah mencari cara baru untuk menyampaikannya agar tetap relevan bagi penonton hari ini,” ucap Mahmud.
Menurut dia, Bangkala’an adalah sebuah upaya untuk pulang kepada ingatan.
”Bukan hanya pulang kepada tempat bernama Bangkalan, tetapi juga kepada cerita, sejarah, dan identitas yang membentuk tempat tersebut,” terangnya.
Dia berharap, penonton mengingat bahwa Bangkalan memiliki cerita dan perjalanan panjang yang layak untuk dikenali dan diceritakan kembali.
”Jangan sampai kita tinggal di sebuah tempat, tetapi tidak pernah mengenal cerita tentang bagaimana tempat itu terbentuk,” tuturnya.
Dia berharap, Bangkala’an tidak berhenti sebagai sebuah pertunjukan. Semoga ia menjadi pintu bagi penonton untuk kembali mencari tahu tentang sejarah Bangkalan, Ke Lesap, dan cerita-cerita lokal lainnya.
”Karena ketika sebuah cerita terus diceritakan, sebenarnya kita sedang menjaga ingatan agar tidak hilang,” ujarnya.
Benang merahnya, Bangkala’an bukan hanya pertunjukan tentang Ke Lesap. Ia adalah perjalanan menuju lahirnya sebuah identitas. Yakni, Bangkalan. (*/jup)
Editor : Hera Marylia