BANGKALAN, RadarMadura.id – Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) terus melebarkan sayapnya di kancah internasional.
Langkah konkret itu diwujudkan lewat penandatanganan nota kesepahaman dengan Kedutaan Besar (Kedubes) Republik Indonesia untuk Tunisia.
Momentum strategis tersebut tersaji dalam gelaran Kuliah Umum Dubes RI untuk Tunisia sekaligus peluncuran Program Studi (Prodi) Magister Ekonomi Syariah Fakultas Keislaman (FKIS) UTM di Aula Syaikhona Muhammad Kholil Lantai 10 Gedung Rektorat UTM.
Dubes RI untuk Tunisia Zuhairi Misrawi mengatakan, kesiapan membangun jejaring internasional merupakan kunci utama untuk memenangi kompetisi global.
Baca Juga: Resep Bihun Kuah Tomat yang Segar dan Gurih untuk Menu Makan Siang
Terlebih, potensi ekonomi syariah global saat ini menembus angka fantastis, yakni 3 triliun USD, hampir dua kali lipat APBN Indonesia.
"UTM sudah mulai go international melalui MoU ini. Kita harus siap dalam kompetisi global dan membangun jejaring dunia," tuturnya.
Pria yang dikenal vokal menyuarakan diplomasi ekonomi tersebut menyoroti wacana Kabupaten Bangkalan yang diproyeksikan menjadi salah satu sentra ekonomi syariah internasional.
Menurutnya, respons cepat UTM melalui FKIS membuktikan bahwa kampus negeri di Madura itu telah siap mengambil peran vital.
Kendati demikian, alumnus Al-Azhar Kairo itu memberi catatan penting untuk penguatan sumber daya manusia (SDM).
Kecakapan bahasa internasional menjadi nilai plus yang wajib dikuasai sivitas akademika agar mampu menjadi pemain utama di kancah internasional, bukan sekadar penonton.
"Kalau sudah masuk pergaulan global, bahasa itu kuncinya. Tanpa penguasaan bahasa internasional, sulit bagi kita untuk menjadi aktor penting," ucapnya.
Baca Juga: Resep Tahu Kukus Ayam Udang, Ide Menu Sehat Tanpa Digoreng yang Praktis Dibuat
Isu diplomasi ekonomi, lanjut dia, bakal menjadi panglima dalam interaksi antarnegara di masa depan.
Hubungan internasional yang kian erat dan tanpa sekat menuntut kesiapan sektor ekonomi untuk bergerak lebih lincah.
"Selamat untuk Fakultas Keislaman UTM yang terus melakukan terobosan dalam pengembangan ekonomi. Ini langkah progresif," tandasnya.
Sementara itu, Rektor UTM Prof. Dr. Safi' mengungkapkan, kolaborasi internasional itu menjadi batu pijakan penting untuk mengangkat derajat dan ekosistem pendidikan di UTM.
Sehingga, mampu duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dengan perguruan tinggi ternama lain.
"Dubes RI untuk Tunisia ini sahabat kita sendiri. Kami minta kesediaan beliau untuk MoU agar program internasionalisasi UTM menyentuh Tunisia. Harapannya, ke depan ada mahasiswa asing asal Tunisia yang menimba ilmu di UTM," ulasnya.
Di usianya yang ke-12 tahun, FKIS UTM yang awalnya hanya memiliki dua program studi (prodi) S-1 kini resmi menambah program magister Ekonomi Syariah.
Langkah tersebut akan disusul pembukaan prodi baru lainnya, misalnya Hukum Keluarga Islam (HKI) dan Pendidikan Agama Islam (PAI), serta penyesuaian nomenklatur Hukum Bisnis Syariah (HBS) menjadi Hukum Ekonomi Syariah di bawah naungan Kemenag.
"Semoga rencana pembukaan dua prodi lainnya bisa direalisasikan dan segera terbit izinnya," harapnya.
Baca Juga: Bahlil Mini Soccer Zona Madiun Raya Dapat Sambutan Luar Biasa, Potensi Pemain Muda Bermunculan
Diterangkan, meski izin operasional Magister Ekonomi Syariah baru terbit dan langsung membuka pendaftaran, animo pendaftar tergolong tinggi.
Saat ini tercatat sudah ada 12 mahasiswa yang resmi diterima dan 3 calon mahasiswa lainnya masih dalam proses.
"Peminatnya cukup banyak, meski baru dibuka jumlah calon mahasiswa yang mendaftar sudah 12 orang," tuturnya.
Kendati terus menggenjot kuantitas dengan target melesat dari 51 prodi menjadi 59 prodi pada tahun ini, Prof. Safi' berkomitmen untuk terus menjaga kualitas pembelajaran.
Dia tidak ingin penambahan prodi justru mengorbankan mutu pendidikan.
"Harapannya dengan penambahan prodi baru ini kualitas pendidikan kami semakin baik," imbuhnya.
Mantan Dekan FH UTM itu meminta seluruh civitas akademika berikhtiar untuk menjaga capaian pembelajaran lulusan (CPL) dan indikator kinerja utama (IKU) perguruan tinggi.
Poin utamanya bermuara pada mutu dan daya saing para alumni. "Insyaallah kualitas lulusan UTM tidak akan kalah dari lulusan kampus besar di Indonesia," paparnya.
Dekan FKIS UTM Dr. Abdur Rohman mengatakan, kehadiran Dubes RI untuk Tunisia dalam forum kuliah umum tersebut akan menjadi suntikan motivasi bagi mahasiswa.
Dia juga berharap mahasiswa Magister Ekonomi Syariah tidak hanya memahami teori secara dangkal, namun juga harus mampu membedah tantangan ekonomi global.
"Banyak ilmu dan pengalaman yang bisa dipelajari dari Dubes RI untuk Tunisia ini," paparnya. (za/yan)
Editor : Hera Marylia