Rokat Tase’ Kampung Bandaran Meriah, Larungkan Sesaji sebagai Bentuk Syukur Limpahan Rezeki

Hera Marylia • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 09:33 WIB
UNGKAPAN SYUKUR: Warga menabur sesaji ke tengah laut saat rokat tase’ di Kampung Bandaran, Kelurahan Pejagan, Bangkalan, Minggu (30/8). (HENDRI TEMALA UNTUK JPRM)
UNGKAPAN SYUKUR: Warga menabur sesaji ke tengah laut saat rokat tase’ di Kampung Bandaran, Kelurahan Pejagan, Bangkalan, Minggu (30/8). (HENDRI TEMALA UNTUK JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Suasana Kampung Bandaran, Kelurahan Pejagan, Bangkalan, Minggu (30/8) pagi, berbeda dari biasanya.

Warga berkumpul dengan mengenakan busana khas Sakera-Marlena. Mereka berbondong-bondong mengikuti ritual rokat tase’.

Rokat tase’ bukan sekadar kegiatan tahunan bagi masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dari hasil laut. 

Tetapi, juga menjadi ruang kebersamaan sekaligus upaya merawat warisan budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Baca Juga: Delapan Bulan Capai 86 Kasus, AKI-AKB di Pamekasan Menuai Sorotan DPRD

Nelayan asal Kampung Bandaran, Kelurahan Pajagan, melaksanakan kegiatan tersebut dengan diawali acara seremoni, yaitu selamatan (tawasul).

Setelah itu, warga mengikuti kirab budaya dengan mengenakan beragam kostum karnival.

Barisan kirab semakin semarak dengan penampilan penari yang diiringi musik daul Lanceng Pesisir dari Kelurahan Pangeranan.

Hadrah jidor Nurul Anshor dari Bandaran serta kelompok kasidah perempuan turut mengiringi pawai keliling kampung.

Panitia rokat tase’ Hendri Temala menyatakan, kirab budaya menjadi salah satu bagian penting dalam acara tersebut. Rute pawai dimulai dari Kampung Bandaran menuju Jalan KH Hasyim Asyari.

Kemudian bergerak ke kawasan Pecinan sebelum kembali ke Kampung Bandaran. 

Pelajar, warga, hingga staf kelurahan turut ambil bagian dalam acara tersebut. Bahkan, para tamu undangan ikut mengenakan pakaian khas Marlena-Sakera.

”Tujuannya, mempererat kebersamaan dan merawat tradisi secara turun-temurun. Kami juga ingin budaya yang ada di Kampung Bandaran semakin dikenal,” tutur Hendri.

Setelah kirab, kegiatan berlanjut ke arung laut. Sekitar 100 perahu disiapkan untuk mengikuti prosesi tersebut.

Baca Juga: Warga Sumenep Keluhkan BBM Sering Kosong, Kouta SPBU Setiap Bulan Ditata

Perahu-perahu dihias dengan bendera Merah Putih sebelum bergerak dari Sungai Bandaran menuju muara.

Di lokasi itu, dua kepala sapi digantung dipancang sebagai bagian dari prosesi rokat tase’.

Sejumlah ancak berisi nasi kuning, lauk-pauk, bunga, dupa, dan jajanan tradisional turut disiapkan.

Sekitar 10 tumpeng terlebih dahulu didoakan bersama-sama sebelum dilarung. Setibanya di laut, doa kembali dipanjatkan. Masyarakat kemudian makan bersama.

Sebagian isi ancak berisi umbi-umbian dan jajanan tradisional dilarung ke laut sebagai bagian dari tradisi masyarakat setempat yang dimaknai sebagai bentuk memberi makan ikan di laut.

LARUNG LAUT: Warga memancangkan kepala sapi ke tiang di tengah laut saat rokat tase’ di Kampung Bandaran, Kelurahan Pejagan, Bangkalan, Minggu (30/8). (HENDRI TEMALA UNTUK JPRM)
LARUNG LAUT: Warga memancangkan kepala sapi ke tiang di tengah laut saat rokat tase’ di Kampung Bandaran, Kelurahan Pejagan, Bangkalan, Minggu (30/8). (HENDRI TEMALA UNTUK JPRM)

Prosesi juga diwarnai pelepasan ancak kedua berupa perahu berbahan gabus. Bentuknya menyerupai perahu yang diyakini masyarakat sebagai buatan Syaikhona Kholil, yakni perahu Sarimuna.

Kehadirannya menjadi simbol upaya warga mempertahankan identitas budaya sekaligus mengenalkan tradisi Kampung Bandaran kepada masyarakat yang lebih luas.

Sejumlah tamu undangan seperti Dandim, anggota DPRD, camat, lurah, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan warga sekitar turut memeriahkan kegiatan itu. Mereka bahkan mengikuti prosesi larung hingga ke tengah laut.

Bagi warga Kampung Bandaran, keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi gambaran bahwa rokat tase’ bukan hanya milik kelompok tertentu, melainkan tradisi bersama yang perlu dilestarikan.

Hendri berharap perhatian terhadap tradisi tersebut tidak berhenti pada partisipasi masyarakat.

Baca Juga: Gus Kikin Gaungkan NU Kembali ke Qonun Asasi, Jadi Pijakan NU Menapaki Abad Kedua

Dia berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan, khususnya dinas kebudayaan dan pariwisata (disbudpar), memberikan dukungan terhadap pelaksanaan rokat tase’ di Kampung Bandaran.

Lokasi tersebut memiliki posisi strategis sehingga berpotensi dikembangkan sebagai salah satu ruang pengenalan budaya pesisir Bangkalan. 

”Semoga Pemkab Bangkalan, terutama disbudpar, bisa memberikan support terhadap acara ini,” harapnya. 

Sekretaris Disbudpar Hendra Gemma Dominant menyampaikan, tradisi rokat tase’ di Kampung Bandaran selaras dengan kehidupan masyarakat pesisir.

Hal itu terlihat dari rangkaian kegiatan yang melibatkan warga. Salah satunya kirab budaya yang diarak keliling kampung.

Menurut dia, rokat tase’ merupakan bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang diperoleh dari hasil laut.

Tradisi tersebut sekaligus menjadi gambaran perpaduan antara kebudayaan Islam dan tradisi masyarakat pesisir yang telah diwariskan secara turun-temurun.

”Pemkab Bangkalan tentu sangat mengapresiasi tradisi ini. Ke depan, kami akan mengakomodasi rokat tase’ ini sebagai warisan budaya tak benda yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Bangkalan,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya berencana memasukkan rokat tase’ dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Bangkalan.

Dengan demikian, tradisi tersebut diharapkan tidak hanya dikenal sebagai sedekah laut, tetapi juga dipahami sebagai pertemuan antara tradisi leluhur dan nilai-nilai keagamaan yang terus hidup di tengah masyarakat Bangkalan. (ina/jup) 

Editor : Hera Marylia
Kampung Bandaran kekayaan budaya Bangkalan rokat tase’ kirab budaya tradisi