BANGKALAN, RadarMadura.id – Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) menggelar diskusi kesiapan Kabupaten Bangkalan dalam pengembangan industrialisasi, Selasa (1/9).
Acara yang mengusung tema "Madura Episentrum Baru Pertumbuhan Industri Jawa Timur" itu bertempat di Ruang Jamuan Lantai 9 Gedung Rektorat UTM.
Hadir dalam forum strategis tersebut Bupati Bangkalan Lukman Hakim. Dalam acara itu, dia memaparkan langkah konkret Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan dalam menyambut gelombang investasi.
Tak sekadar wacana, pergerakan di lapangan rupanya sudah berjalan jauh sebelum isu tersebut menjadi perbincangan publik.
Baca Juga: Diciduk saat Beri Pakan Ayam, Polisi Sita 15 Paket Sabu dari Pria Asal Socah
Lukman menegaskan bahwa peran pemerintah daerah berfokus pada karpet merah kemudahan akses dan regulasi, sementara eksekusi lapangan didorong penuh oleh pihak swasta.
"Posisi kami hanya mempermudah regulasi dan perizinan. Pihak swasta bahkan sudah menurunkan tim ahli untuk mengecek kondisi lahan dan penataan posisi," ujarnya.
Rencana besar penataan kawasan industri itu dipastikan tetap berada di koridor hukum yang sah, yakni mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 80 Tahun 2019 serta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bangkalan.
Pihak swasta diberi kewenangan membebaskan lahan, namun wajib tunduk pada zonasi tata ruang yang telah ditetapkan.
"Secara birokrasi dan administrasi sudah masuk PSN (Program Strategis Nasional)," katanya.
Tak main-main, sederet industri raksasa diproyeksikan bakal membuka industri di Kota Salak. Mulai dari pabrik poliester, pupuk, furnitur, hingga Kawasan Industri Halal (KIH).
Baca Juga: Alat CT Scan RSUD Smart Pamekasan Kurang Optimal, Rencanakan Pengadaan Tahun Depan
Bahkan, investor asal Korea Selatan dan Uni Emirat Arab (UEA) dikabarkan siap masuk, dengan potensi pengembangan hingga sektor data center.
"Banyak industri yang nantinya akan dibangun di Kota Salak, seperti pabrik poliester," katanya.
Mengenai target pengerjaan, seluruh persiapan administratif, perizinan, hingga pembebasan lahan kini terus dikebut. Pemkab Bangkalan menargetkan sektor industrialisasi tersebut bisa terwujud tahun depan.
"Target dari kami maupun pihak swasta, tahun 2027 mendatang harapannya sudah bisa dilakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama pembangunan," paparnya.
Rektor UTM Prof. Dr. Safi’ menegaskan, pihaknya ingin membedah lebih jauh rancangan konsep dan kesiapan pemkab terkait gelombang masuknya investor.
UTM berkomitmen mengambil peran aktif untuk mendorong serta mengakselerasi implementasi kawasan industri di Kota Dzikir dan Salawat.
"Kami ingin tahu lebih jauh rancangan konsep dari Pemkab Bangkalan," tuturnya.
Idealnya, kata Safi’, industri yang masuk memprioritaskan pengolahan bahan baku lokal Madura. Namun, dia menyadari penuh bahwa peta bisnis berada di tangan investor.
Dia berharap hadirnya industri bisa menyerap tenaga kerja lokal, kemudian taat hukum nasional serta selaras dengan syariat agama, baik dari segi pasokan bahan baku hingga produk akhir.
Serta memiliki komitmen menjaga ekosistem agar tetap sehat dan aman bagi warga sekitar.
Baca Juga: BPRS Bhakti Sumekar Jemput Bola, Sasar Pusat Ekonomi hingga Lembaga Pendidikan
"Mau bahan bakunya dari Madura atau luar seperti kabar masuknya industri cokelat tetap akan berdampak menggerakkan roda ekonomi lain. Pemkab harus serius, jangan berhenti di wacana," tegas Prof. Dr. Safi’.
Usulan memasukkan kawasan industri Madura ke dalam Program Strategis Nasional (PSN) lewat surat Menko Perekonomian kini telah disetujui.
Penetapan status PSN itu diyakini akan mempercepat realisasi pembangunan di Madura, khususnya di Bangkalan.
"Intinya UTM siap mendukung dan mem-backup sepenuhnya apa yang dibutuhkan oleh Pemkab Bangkalan," paparnya.
Menanggapi gejolak penolakan dari segelintir elemen masyarakat, Prof. Safi’ menyikapi dingin.
Menurutnya, perbedaan pendapat adalah hal wajar dalam demokrasi, namun tidak boleh melumpuhkan kesepakatan yang telah terbangun dengan para investor.
"Kita hormati penolakan itu karena itu hak individu," sambungnya.
Dia menegaskan, tugas Pemkab Bangkalan saat ini adalah menjelaskan secara komprehensif dan utuh mengapa kawasan industri tersebut penting untuk dibangun di Kota Dzikir dan Salawat.
"Jika dipahami secara menyeluruh, saya yakin masyarakat akan menerima karena manfaatnya akan dirasakan bersama," tandasnya. (za/yan)
Editor : Hera Marylia