TANJUNGBUMI, RadarMadura.id – Musim kemarau menjadi tantangan tersendiri bagi petani di Kecamatan Tanjungbumi. Ketersediaan air sangat dibutuhkan untuk menjaga tanaman tetap tumbuh. Petani bahkan harus mengeluarkan biaya jutaan rupiah untuk mengaliri lahan agar tanaman tidak kekeringan.
Muhammad Sadik menuturkan, kebutuhan air sangat menentukan hasil pertanian. Menurut dia, jika air mencukupi, petani bisa menanam berbagai jenis tanaman. Misalnya, jagung, padi, kacang hijau, dan kacang tanah. Sebaliknya, jika kekurangan air berpotensi membuat tanaman tidak berkembang.
”Bagi petani, yang paling dibutuhkan saat ini air. Tak ada air, jagung tak jadi (tumbuh),” kata warga Dusun Larangan Barat, Desa Tagungguh, Kecamatan Tanjungbumi itu.
Dia menerangkan, untuk memenuhi kebutuhan air, petani harus melakukan bor untuk mencari sumber mata air. Biaya yang harus dikeluarkan sekitar Rp 5,5 juta sekali bor. Besaran biaya tersebut menjadi beban tambahan bagi petani, terutama ketika kondisi kemarau berlangsung panjang.
Sadik menjelaskan, pemupukan juga harus disesuaikan dengan kondisi air. Tanaman yang kekurangan air tidak boleh terlalu banyak diberi pupuk. Sebab, kondisi tersebut justru dapat membuat tanaman berubah warna menjadi merah, hingga akhirnya mengering.
Untuk kebutuhan bibit, petani tidak selalu mengandalkan bantuan pemerintah. Sadik mengaku bibit yang digunakan sebagian berasal dari hasil simpanan sendiri. Cara tersebut dilakukan untuk menekan biaya produksi sekaligus memastikan ketersediaan bibit ketika memasuki musim tanam.
Hasil panen, kata dia, biasanya langsung dibeli pedagang yang datang ke lahan pertanian. Namun, sebagian petani juga membawa hasil panen ke pasar. Kondisi tersebut membuat keberadaan air menjadi persoalan penting karena berpengaruh langsung terhadap produktivitas dan pendapatan petani.
”Kalau kurang air, jangan terlalu banyak pasang pupuk. Tanaman bisa merah dan kering,” ujar Sadik.
Kabid Sarpras Pertanian Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DP2KP) Bangkalan Abu Said menyampaikan, saat musim kemarau pemerintah pusat memiliki program Irpom (Irigasi Perpompaan). Program ini nantinya untuk memfasilitasi petani dan mengantisipasi dampak Elnino.
Menurut dia, sarana tersebut biasanya untuk petani yang menanam padi. ”Untuk mendapat sarana ini ya harus melalui kelompok tani yang ber-SKT (surat keterangan terdaftar) dan mengajukan melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL) setempat,” tukasnya. (ina/bil)
Editor : Amin Bashiri