BANGKALAN, RadarMadura.id - Semangat memperkuat tata kelola perguruan tinggi negeri (PTN) terus dipacu Universitas Trunodjoyo Madura (UTM).
Kali ini, kampus negeri yang berada di ujung barat Pulau Madura itu menjadi jujukan studi banding dan silaturahmi kelembagaan Senat Universitas Borneo Tarakan (UBT), Kalimantan Utara.
Rombongan UBT dipimpin Rektor Prof. Dr. Yahya Ahmad dan Ketua Senat Rukisah Saleh.
Kedatangan mereka diterima langsung oleh Rektor UTM Prof. Dr. Safi’ di Aula Syaichona Muhammad Kholil, Lantai 10 Graha Utama UTM, Jumat (28/8).
Baca Juga: Narsun Raih Mobil Setelah Sukses Daftarkan Ribuan Pekerja Informal melalui BRILink Agen
Pertemuan tersebut tidak sekadar silaturahmi biasa. Kedua kampus yang memiliki historis manis sama-sama berawal dari perguruan tinggi swasta (PTS) sebelum beralih status menjadi PTN.
Pembahasan kunjungan tersebut antara lain terkait penguatan regulasi, tata kelola kelembagaan, hingga fungsi senat akademik.
Sejumlah poin krusial dibahas hangat. Mulai dari statuta kampus, tata cara pemilihan anggota senat dan dekan, mekanisme pemilihan rektor (pilrek), kode etik dosen dan tendik, hingga urusan atribut akademik seperti toga kehormatan dan almamater.
Rektor UTM Prof. Dr. Safi’ menyampaikan apresiasi mendalam atas kepercayaan UBT menjadikan Kampus Trunodjoyo sebagai mitra diskusi strategis.
Baca Juga: Skrining Riwayat Kesehatan di Mobile JKN, Cara Diah Ariani Peduli Kesehatan Sejak Usia Muda
Dia berharap, diskusi tersebut bisa memberikan manfaat nyata bagi kedua instansi tersebut.
”Alhamdulillah kita semua bisa berkumpul di sini dalam rangka silaturahmi dan diskusi. Semoga pertemuan ini diridai Allah SWT dan membawa kemanfaatan, kebaikan, serta kemajuan bagi UBT dan UTM,” tuturnya.
Mantan Dekan Fakultas Hukum UTM itu membeberkan perkembangan pesat kampus yang kini membina sekitar 23 ribu mahasiswa dari seluruh pelosok Nusantara hingga mancanegara.
Tahun ini saja, terdapat 28 mahasiswa asing dari 11 negara yang menimba ilmu di kampus yang dia nakhodai.
Tak lupa, Prof. Safi’ mengenalkan Fakultas Keislaman (FKis) sebagai salah satu ciri khas keunggulan UTM yang disesuaikan dengan kultur masyarakat Madura yang kental dengan tradisi pesantren.
FKis menaungi prodi berbasis syariah, mulai Ekonomi Syariah hingga Hukum Bisnis Syariah.
Keberadaan FKis rupanya memikat perhatian Rektor UBT Prof. Dr. Yahya Ahmad. Menurutnya, pengalaman UTM mengembangkan pendidikan keagamaan sangat relevan bagi UBT yang berada di wilayah perbatasan Indonesia.
Baca Juga: Honor Play 20A Andalkan Layar Sekunder dan Kamera 13MP dalam Desain yang Berbeda
”Kami sekarang sedang berupaya untuk membuka program studi Pendidikan Agama Islam. Mungkin nanti kita belajar dari UTM,” ucap Prof. Yahya.
Di tempat yang sama, Ketua Senat UBT Rukisah Saleh menegaskan bahwa kedatangannya memboyong jajaran senat adalah untuk menyiapkan fondasi regulasi secara matang, termasuk menghadapi Pilrek UBT dua tahun mendatang.
”Kami datang ke sini untuk belajar dan membuka diri. Kesiapan regulasi sejak awal sangat penting agar proses kelembagaan berjalan tertib dan sesuai aturan,” paparnya.
Agenda silaturahmi itu kemudian dilanjutkan dengan pemaparan teknis dari Ketua Senat UTM Prof. Dr. Mohammad Nizarul Alim bersama Sekretaris Senat Prof. Dr. Yudi Widagdo Harimurti.
Sesi diskusi interaktif tersebut diharapkan menjadi pijakan awal kerja sama yang lebih luas, tak hanya di bidang tata kelola, tetapi juga tridarma perguruan tinggi. (za)
Editor : Hera Marylia Damayanti