Serapan Pupuk Bersubsidi Anomali, Meski Bukan Musim Tanam, Permintaan Tetap Tinggi

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 08:15 WIB
KUNJUNGAN: AE Penjualan PT Pupuk Indonesia (Persero) Wilayah Bangkalan Yoppy Sandy J (kaus dongker) berdialog dengan Kabid Sarpras Pertanian DP2KP Bangkalan Abu Said dan Bagian Pokja Abdullah, Kamis (27/8). (INA HERDIYANA/JPRM)
KUNJUNGAN: AE Penjualan PT Pupuk Indonesia (Persero) Wilayah Bangkalan Yoppy Sandy J (kaus dongker) berdialog dengan Kabid Sarpras Pertanian DP2KP Bangkalan Abu Said dan Bagian Pokja Abdullah, Kamis (27/8). (INA HERDIYANA/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.idSerapan pupuk bersubsidi di Kabupaten Bangkalan tinggi. Selama Agustus, angkanya mencapai ribuan ton.

Kondisi itu sangat anomali karana saat ini  musim kemarau dan sebagian besar petani tak bercocok tanam.

Kebutuhan pupuk bersubsidi di Bangkalan dipastikan aman menghadapi musim tanam mendatang.

Meski permintaan pupuk NPK terus meningkat, stok di gudang saat ini masih sekitar 2.000 ton.

Baca Juga: Hamil, Polisi Tangguhkan Penahanan Tersangka Kasus Penganiayaan

Kabid Sarpras Pertanian Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DP2KP) Bangkalan Abu Said menyatakan, distribusi pupuk bersubsidi di Kota Salak terus berlangsung. Ketersediaannya juga diklaim aman.

Kondisi tersebut tidak lepas dari pemetaan lahan yang dilakukan pemerintah, sehingga kebutuhan pupuk dapat disesuaikan dengan luas dan kondisi lahan.

”Kalau petak lahannya sudah diketahui, otomatis kebutuhan pupuknya bisa disesuaikan,” ujarnya.

Abu Said menjelaskan, tata kelola distribusi yang berjalan saat ini dinilai cukup efektif.

Lembaganya juga telah melakukan sosialisasi kepada kelompok tani mengenai mekanisme penebusan pupuk.

Jenis pupuk yang paling banyak digunakan petani adalah urea dan NPK.

Baca Juga: Sekdes Bungkeng Dibui, Diduga Palak Warga Sambil Acungkan Sajam

Namun, penggunaan NPK terus meningkat karena makin banyak petani yang memahami tentang kompleksitas manfaat dan kegunaannya.

Dia mengeklaim tingginya serapan pupuk bersubsidi saat musim kemarau wajar.

Sebab, selama ini lembaganya mengimbau petani tidak menunggu musim tanam untuk menebus pupuk. 

Agar tidak kesulitan mendapat pupuk bersubsidi saat musim tanam tiba.

Abdullah, bagian pokja DP2KP menyampaikan, berdasarkan data serapan hingga Juli, Kecamatan Arosbaya menjadi wilayah dengan serapan pupuk NPK subsidi tertinggi, yakni mencapai 878 ton.

Sementara untuk pupuk urea, serapan tertinggi tercatat di Kecamatan Burneh dengan 688 ton.

Account Executive (AE) Penjualan PT Pupuk Indonesia Wilayah Bangkalan Yoppy Sandy J menyebut alokasi pupuk subsidi untuk Bangkalan dalam setahun mencapai 33.771 ton.

Hingga Agustus, realisasi penyaluran urea mencapai sekitar 45 persen, sedangkan NPK 61 persen dan pupuk organik 22 persen.

Baca Juga: Permainan MU Makin Agresif, Menang Laga Uji Coba Melawan Borneo FC

”Untuk stok saat ini sampai tingkat kios aman. Di gudang ada sekitar 2.000 ton. Aman untuk musim tanam tahun depan, tetapi tetap ada tambahan. Penebusan pada Agustus saja mencapai sekitar 3.000 ton,” tuturnya.

Dia menerangkan, distribusi pupuk bersubsidi dilakukan mulai dari pabrik, distributor, kios, hingga petani.

Di Bangkalan terdapat 112 kios yang tersebar di 18 kecamatan. Pupuk yang disalurkan terdiri atas urea, NPK, dan organik.

”Untuk harga, pupuk urea dipatok sekitar Rp 1.800 per kilogram atau Rp 90 ribu per sak (50 kilogram), NPK sekitar Rp 1.840 per kilogram atau Rp 92 ribu per sak (50 kilogram), sedangkan pupuk organik Rp 640 per kilogram atau Rp 25.600 per sak (40 kilogram),” jelasnya. (ina/jup)

Editor : Hera Marylia
permintaan pupuk pupuk bersubsidi Kebutuhan Pupuk musim tanam anomali