BANGKALAN, RadarMadura.id – Anak-anak duduk tidak jauh dari lokasi. Sesekali mereka mendongak.
Memastikan hadiah yang diincarnya masih tergantung. Orang dewasa pun tak kalah antusias.
Suasana semakin ramai ketika lantunan doa dan surah Yasin yang dipimpin tokoh agama mulai mendekati akhir.
Begitu bacaan selesai, warga langsung berdiri. Dalam sekejap, berbagai pernak-pernik yang sebelumnya menghiasi tali berubah menjadi barang rebutan.
Pemandangan itu terlihat dalam tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Kampung Agung, Desa Langkap, Kecamatan Burneh, kemarin (24/8) sore.
Baca Juga: Ramaikan Madura Culture Fest #4, Diskop UKM Perindag Buka Layanan Kejar Target UMKM Naik Kelas
Bagi masyarakat setempat, maulid bukan sekadar momentum untuk berkumpul dan membaca doa bersama.
Ada tradisi yang membuat perayaan terasa lebih semarak.
Hadiah-hadiah kecil sengaja digantung untuk diperebutkan warga setelah rangkaian doa selesai.
Tak hanya orang dewasa. Anak-anak pun ikut nimbrung. Sebagian bahkan nekat memanjat tiang tenda demi mendapatkan hadiah yang diincar.
Riuh warga semakin pecah ketika panitia menaburkan uang kertas ke tengah kerumunan.
Tangan-tangan spontan terulur. Anak-anak dan orang dewasa berebut lembaran uang yang jatuh di antara kerumunan.
Baca Juga: Resep Sayur Asem Segar Pedas Manis dengan Kuah Gurih yang Kaya Rasa
Panitia juga menyiapkan kejutan lain. Sejumlah unggas seperti ayam, angsa, dan bebek ditempatkan di bagian atas tenda.
Hewan-hewan tersebut menjadi hadiah yang juga diperebutkan warga.
Tradisi itu sengaja dipertahankan untuk membuat perayaan Maulid Nabi semakin menarik. Terutama bagi anak-anak.
Mulyono, tokoh agama setempat, mengatakan, tradisi tersebut telah berlangsung sejak puluhan tahun.
Bahkan, sejak dirinya masih kecil, kegiatan serupa sudah menjadi bagian dari perayaan Maulid Nabi di kampung tersebut.
”Unggas itu memang sengaja disiapkan agar banyak warga yang datang, terutama anak-anak. Sehingga, anak-anak nantinya bisa gemar merayakan Maulid Nabi Muhammad,” ujarnya.
Menurut pria yang akrab disapa Ustad Yono tersebut, kemeriahan bukan tujuan utama.
Baca Juga: Klinik Ar-Rahman Melayani dengan Profesional, Peduli, dan Penuh Kasih
Di balik tradisi berebut hadiah, terdapat pesan yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.
Maulid menjadi ruang bagi warga untuk berkumpul, bersilaturahmi, dan menanamkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sejak usia dini.
”Ini sebagai bentuk cinta kami kepada Nabi. Semoga kelak di hari akhir kita semua mendapat syafaat dari beliau,” ucapnya.
Setelah prosesi berebut hadiah selesai, warga kembali mengikuti rangkaian acara hingga pengundian hadiah.
Setiap orang yang datang sebelumnya telah memperoleh nomor undian. Hadiah yang disiapkan pun beragam.
Mulai sembako, peralatan rumah tangga, burung, unggas, hingga kambing.
Tahun ini kemeriahan tersebut terasa berbeda karena bertepatan dengan momentum peringatan kemerdekaan.
Panitia pun menyelipkan semangat kebangsaan dalam perayaan tersebut.
Baca Juga: BRI Perkuat Ekosistem Diaspora di Taiwan, Bekali PMI Keterampilan dan Literasi Keuangan
”Di momen kemerdekaan ini juga semoga kita semua bisa mengenang perjuangan pahlawan dan bisa menjadi anak bangsa yang unggul,” ungkapnya.
Salah satu warga yang beruntung mendapatkan hadiah kambing adalah Hasbi.
Dia mengaku sama sekali tidak menyangka nomor undiannya keluar sebagai pemenang.
Kambing tersebut tidak langsung disembelih. Hasbi berencana memeliharanya hingga besar sebelum menjualnya.
”Saya tidak menyangka bisa menang. Karena baru tahun ini ada undian. Tadi selain kambing juga ada undian blender, angsa, dan burung,” tuturnya. (ina/jup)
Editor : Hera Marylia