BANGKALAN. RadarMadura.id - Arsitektur bukan sekadar perkara menggambar bangunan. Seorang arsitek dituntut mampu melahirkan gagasan dan mencari solusi atas berbagai kebutuhan manusia melalui ruang yang dirancang.
Pemikiran tersebut tumbuh dari perjalanan panjang Abdul Adhim. Dia berasal dari lingkungan pedesaan di Kecamatan Galis. Kemudian, dia menempuh pendidikan SMA di Blega. Saat itu, pengetahuannya mengenai dunia di luar lingkungan tempat tinggal masih terbatas.
Namun, keluarga yang banyak berkecimpung dalam dunia konstruksi membuatnya perlahan mengenal bangunan. Dari sana, ketertarikannya terhadap arsitektur mulai tumbuh. ”Bicara soal bangunan, keluarga memang banyak yang kerja di bidang konstruksi,” tuturnya.
Ketertarikan itu kemudian membawanya menempuh S-1 Arsitektur di Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS). Kemudian, Abdul Adhim melanjutkan pendidikan S-2 Teknik Sipil di Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG).
Menurut Adhim, menjadi arsitek berarti harus mampu menghasilkan karya yang memiliki gagasan. Karya tersebut tidak selalu berupa bangunan. Konsep arsitektur juga dapat diterapkan pada kawasan dan koridor jalan.
Misalnya, dalam merancang bangunan, arsitek harus memikirkan sirkulasi manusia di dalam ruangan tersebut. Karena itu, ketika menerima proyek, Adhim tidak langsung memikirkan bentuk bangunan. Hal pertama yang dilakukan ialah memahami calon penggunanya.
Profesi klien, lokasi bangunan, fungsi ruang, aktivitas penghuni, hingga kebutuhan ruang menjadi hal yang harus dipelajari. Menurut dia, memahami karakter dan aktivitas penghuni merupakan bagian paling penting dalam proses perancangan. ”Nomor satu itu memahami karakter dan aktivitas penghuni,” tegasnya.
Adhim menjelaskan, ide desain tidak selalu muncul dari bentuk bangunan yang sudah ada. Dia biasanya banyak mengambil inspirasi dari kebiasaan manusia dan kondisi lingkungan sekitar. Kebiasaan yang kurang baik, misalnya, dapat menjadi persoalan yang kemudian dicari solusinya melalui desain.
”Contohnya, kebiasaan membuang sampah sembarangan atau trotoar yang digunakan kendaraan bermotor,” terangnya.
Karena itu, seorang arsitek menurut Abdul Adhim harus memiliki wawasan luas. Desain tidak boleh dilepaskan dari konteks lokasi dan persoalan yang ada di dalamnya.
Baginya, arsitek juga tidak seharusnya membuat daerah kehilangan identitasnya. Nilai-nilai lokal justru penting diangkat dan diterjemahkan dalam desain dengan pendekatan yang lebih modern.
Prinsip tersebut terlihat dalam salah satu proyek yang pernah dikerjakannya, yakni Perpustakaan Daerah (Perpusda) Bangkalan.
Konsep bangunan tersebut mengadopsi nilai dari taneyan lanjang. Yakni, lingkungan permukiman tradisional masyarakat Madura.
Nilai tersebut tidak hanya diterjemahkan dalam bentuk fisik bangunan. Ada ruang di bagian tengah yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang komunal. Ruang itu bisa digunakan pengunjung untuk berbagai aktivitas sosial, termasuk pameran karya.
Saat ditanya karakter desainnya, Abdul Adhim menyebut gaya yang digunakan cenderung kontemporer, tetapi tetap mengambil nilai-nilai dari bangunan tradisional dan menerapkannya dengan cara yang lebih mutakhir.
Menurut dia, bangunan yang baik bukan hanya bangunan yang sedap dipandang mata. Kenyamanan menjadi salah satu ukuran penting. ”Bangunan yang nyaman itu harus dirasakan semua indra manusia,” ujarnya.
Adhim menerangkan, fungsi, kenyamanan, dan estetika sebenarnya tidak perlu dipertentangkan. Jika sebuah bangunan nyaman, fungsi ruang dapat berjalan dengan baik. Dari sana, nilai estetika juga akan mengikuti.
Dalam praktiknya, rancangan tetap harus disesuaikan dengan kemampuan finansial klien. ”Desain yang ideal bukan berarti harus mahal. Kebutuhan penghuni dan anggaran menjadi pertimbangan dalam menentukan rancangan,” terangnya.
Hal tersebut juga berlaku ketika merancang rumah tinggal. Rumah yang ideal, menurut Adhim, yakni rumah yang mampu menyesuaikan kebutuhan penghuni dan lingkungan di sekitarnya.
Proyek pertama yang ditangani Abdul Adhim adalah rumah tinggal milik pamannya di Galis. Saat itu, fokusnya masih banyak tertuju pada bentuk dan keindahan bangunan. Seiring bertambahnya pengalaman dan pengetahuan, cara pandangnya terhadap arsitektur berubah.
Keindahan bukan lagi satu-satunya tujuan. Kenyamanan, keamanan, kesehatan, fungsi, hingga kebutuhan pengguna harus menjadi bagian dari pertimbangan.
Perubahan cara pandang tersebut pula yang membuat Adhim melihat arsitektur bukan sebagai pekerjaan untuk sekadar membuat gambar bangunan. Salah satu tantangan yang dihadapinya adalah pemahaman masyarakat mengenai profesi tersebut. ”Arsitek masih kerap dianggap sama dengan pemborong,” katanya.
Padahal, menurut Adhim, keduanya memiliki fungsi berbeda. Arsitek berperan sebagai perancang sekaligus problem solver yang memberikan pertimbangan terhadap berbagai persoalan dalam sebuah proyek.
Karena itu, ketika berhadapan dengan klien, arsitek tidak harus selalu mengikuti seluruh keinginan yang disampaikan. Ada pertimbangan profesional yang harus diberikan agar bangunan dapat berfungsi secara optimal.
”Kita bukan hanya tukang gambar. Harus memberikan pertimbangan-pertimbangan. Tidak melulu ikut keinginan klien,” ungkapnya.
Bagi Adhim, perjalanan menjadi arsitek juga tidak lepas dari dukungan keluarga, terutama sang ibu. Dari lingkungan keluarga itulah ketertarikannya terhadap dunia konstruksi pertama kali tumbuh.
Kini, setelah menekuni profesinya, Adhim ingin arsitektur tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang eksklusif.
Arsitek seharusnya hadir untuk membantu masyarakat menciptakan ruang yang sesuai kebutuhan, nyaman, aman, dan memiliki identitas.
”Sebab, bangunan bukan hanya tentang bagaimana ia terlihat. Namun, bagaimana ruang tersebut digunakan, dirasakan, dan memberikan manfaat bagi manusia dan lingkungan sekitarnya,” ucapnya. (*/han)
Editor : Amin Basiri