Cerita Dua Srikandi UTM Bentangkan Merah Putih di Dinding Gedung Rektorat, Bawa Bendera Jumbo Lebih Sulit daripada Menaklukkan Tebing Terbuka di Alam Bebas

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 19:35 WIB
BERANI: Sekar Ayu Widyaratri (kiri) dan Indah Fitria membentangkan bendera Merah Putih di atas ketinggian 15 meter Gedung Rektorat UTM Senin (17/8). (ZEINAL ABIDIN/JPRM)
BERANI: Sekar Ayu Widyaratri (kiri) dan Indah Fitria membentangkan bendera Merah Putih di atas ketinggian 15 meter Gedung Rektorat UTM Senin (17/8). (ZEINAL ABIDIN/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan RI selalu menghadirkan hal baru.

Di Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) misalnya, dua mahasiswa membentangkan bendera Merah Putih di dinding gedung rektorat kampus yang terletak di Desa Telang, Kecamatan Kamal.

Aksi heroik Sekar Widyaratri dan Indah Fitria dilakukan di tengah-tengah upacara peringatan HUT kemerdekaan yang berlangsung khidmat.

Aksi teatrikal penuh nyali yang dipertontonkan kedua srikandi tersebut menuai decak kagum dari ratusan pasang mata yang menyaksikan.

Baca Juga: Mau Foto Konser dari Jauh Tetap Tajam? Ini 5 HP Zoom Terbaik 2026 Lengkap dengan Harga dan Keunggulan Kamera Telefoto Masing-Masing

Dua mahasiswi yang tergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa Pencinta Alam (MPA) Ghubatras itu menyebut, aksi memicu adrenalin itu dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas kemerdekaan yang saat ini dirasakan.

Sementara aksi yang dilakukan tak sebanding dengan perjuangan para pejuang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. 

Berbekal nyali baja dan keahlian khusus, Sekar Widyaratri dan Indah Fitria membuktikan semangat cinta tanah air bisa diejawantahkan melalui berbagai tindakan.

Salah satunya dengan membentangkan bendera Merah Putih berukuran 10x7 meter dari atas ketinggian 15 meter. 

Bendera berukuran jumbo tersebut berkibar menutupi sebagian fasad gedung rektorat UTM.

Tepatnya, di detik-detik upacara pengibaran bendera dilangsungkan di halaman kampus terbesar di Pulau Garam tersebut.

Baca Juga: Kampus Harus Menjadi Garda Terdepan, Dalam Memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Bagi Sekar dan Indah, aksi yang dilakukan tidak akan pernah terhapus dari catatan hidupnya.

Sebab, aksi memanjat dinding gedung rektorat merupakan pengalaman pertama kalinya. 

Saat keduanya merayap meniti dinding kaca gedung rektorat, embusan angin di sekitar kawasan kampus terpantau bersahabat dan stabil.

Kondisi cuaca yang bersahabat membuat proses pengibaran bendera berjalan mulus tanpa hambatan berarti.

Hebatnya lagi, untuk menuntaskan misi itu, keduanya tidak membutuhkan waktu berjam-jam.

Sekar dan Indah hanya butuh waktu singkat, yakni seratus detik atau setara dengan 1 menit 40 detik, untuk sampai ke titik sasaran dan membentangkan Sang Saka Merah Putih.

”Angin hari ini cukup stabil sehingga mempermudah kami saat memanjat,” timpal Indah Fitria, menambahkan penjelasan Sekar.

Baca Juga: Earbuds Transparan Nothing Ear (3a) Punya Cara Unik Menyimpan Percakapan, Bisa Rekam Meeting hingga Dua Jam dan Sinkron ke Aplikasi Nothing X

SEMANGAT MEMBARA: Sekar Widyaratri dan Indah Fitria seusai memanjat dinding Gedung Rektorat UTM untuk membentangkan bendera Merah Putih berukuran 10x7 meter. (ZEINAL ABIDIN/JPRM)
SEMANGAT MEMBARA: Sekar Widyaratri dan Indah Fitria seusai memanjat dinding Gedung Rektorat UTM untuk membentangkan bendera Merah Putih berukuran 10x7 meter. (ZEINAL ABIDIN/JPRM)

Sebagai pencinta alam sejati, keputusan Sekar bergabung dengan Unit Kegiatan MPA Ghubatras dilandasi oleh panggilan jiwa.

Dia ingin mengenal dan meraba alam secara lebih luas. 

Di organisasi kemahasiswaan tersebut, dia ditempa tidak hanya untuk membaca tanda-tanda alam, melainkan juga menumbuhkan rasa cinta yang mendalam terhadap kelestarian lingkungan sekitar.

Hal senada juga diungkapkan oleh Indah Fitria.

Mahasiswi berdarah petualang itu dikenal sebagai pribadi yang menyukai tantangan berbau adrenalin tinggi. 

Salah satu kegemarannya yang paling mencolok adalah olahraga ekstrem panjat tebing atau wall climbing.

”Walaupun tantangannya ekstrem, tapi tetap aman, itulah sebabnya saya memutuskan ikut Ghubatras,” tegas Indah meyakinkan.

Rekam jejaknya di dunia panjat tebing pun tidak bisa dipandang sebelah mata.

Tercatat, sudah ada dua tebing terjal di luar kampus berhasil dia taklukkan dengan sempurna. 

Yakni, tebing di wilayah Kabupaten Sampang dan kawasan Tebing Arosbaya yang terkenal eksotis sekaligus menantang.

Baca Juga: Semarak HUT ke-81 RI, Imigrasi Pamekasan Ajak Masyarakat Donor Darah dan Cek Kesehatan Gratis

Namun demikian, momentum pengibaran bendera di gedung rektorat UTM kali ini memberikan sensasi yang berbeda bagi Sekar dan Indah.

Yakni bukan sekadar menaklukkan batu karang, melainkan mempersembahkan keringat untuk Sang Merah Putih di hari jadi bumi pertiwi.

”Inilah cara kami merayakan kemerdekaan, tentu perjuangan memanjat dinding tidak seberapa jika dibanding dengan perjuangan pendahulu kita,” paparnya.

Di balik suksesnya pengibaran bendera raksasa tersebut, tersimpan cerita perjuangan fisik yang tidak ringan.

Menurut pengakuan Indah, memanjat dinding gedung bertingkat dengan membawa beban bendera berukuran jumbo ternyata jauh lebih sulit ketimbang menaklukkan tebing terbuka di alam bebas.

”Cukup menyulitkan saat naik karena tekanan angin cukup kencang,” tandasnya. (za/jup) 

Editor : Hera Marylia Damayanti
MPA Ghubatras membentangkan bendera Merah Putih bendera berukuran jumbo utm gedung rektorat