Peluang Kerja bagi Lulusan SMA Tipis

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 10:55 WIB
PENGHASILAN TAMBAHAN: Moh. Lailur Rachman tengah meracik kopi di tempat kerjanya, Jalan RE Martadinata, Kelurahan Mlajah Bangkalan, Minggu (16/8). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/JPRM)
PENGHASILAN TAMBAHAN: Moh. Lailur Rachman tengah meracik kopi di tempat kerjanya, Jalan RE Martadinata, Kelurahan Mlajah Bangkalan, Minggu (16/8). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Asa Moh. Lailur Rachman untuk menembus dunia kerja harus kandas di tengah jalan.

Pemuda asal Kelurahan Mlajah, Kabupaten Bangkalan, itu kesulitan mencari pekerjaan di perusahaan karena hanya tamatan sekolah menengah atas (SMA).

Meski memiliki kompetensi, pintu perusahaan di Kota Zikir dan Salawat seolah tertutup rapat bagi lulusan tingkat menengah.

Bagi Lilur, sapaan akrabnya, ijazah sarjana kini menjadi harga mati di hampir setiap bursa kerja lokal.

Baca Juga: Tren Konten Makin Besar, Canon EOS R50 V Hadir Membawa Konsep Mirrorless Video yang Lebih Praktis untuk Vlogger dan Kreator Media Sosial

”Lamaran saya tidak ada yang diterima hanya karena saya lulusan SMA dan tengah kuliah,” ujarnya.

Bukan hanya soal selembar ijazah, bayang-bayang budaya orang dalam atau ordal turut memperkeruh iklim pencarian kerja di daerah.

Menurutnya, jejaring dan koneksi kerap kali mengalahkan takaran kemampuan atau skill seseorang dalam memikat hati HRD perusahaan.

”Kalau tidak punya ordal, meskipun punya skill, susah juga mendapatkan pekerjaan,” keluhnya.

Kondisi tersebut sempat memupus niatnya untuk bersandar pada pekerjaan kantoran konvensional.

Padahal, tekad pemuda yang kini tercatat sebagai mahasiswa aktif di Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) itu sudah bulat, ingin mandiri secara finansial tanpa membebani keluarga.

Namun, dia tak patah semangat demi menyambung hidup dan meraup pundi-pundi rupiah. Lilur memilih banting setir melakoni ragam profesi informal.

Saat ini dia aktif meracik kopi sebagai barista di salah satu kafe di Kota Salak. Tak jarang, pekerjaan serabutan dilakoni demi mendapatkan uang tambahan.

Baca Juga: Di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Nelayan Masih Berperang dengan Harga BBM

”Apa pun yang bisa menghasilkan uang saya kerjakan, tidak boleh pilih-pilih pekerjaan,” imbuhnya.

Menurutnya, lulusan SMA masih kerap dipandang sebelah mata di bursa kerja lokal.

Peluang kerja lebih berpihak kepada para pemilik gelar sarjana. Padahal, secara kapasitas, lulusan SMA tidak kalah saing.

Pada momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia membawa secercah harapan bagi Lilur.

Dia berharap ke depannya regulasi maupun iklim ketenagakerjaan di Bangkalan lebih berpihak pada potensi dan kemampuan yang dimiliki pencari kerja.

Menurutnya, kompetensi dan keahlian harus menjadi variabel utama dalam rekrutmen tenaga kerja, bukan sekadar melihat formalitas ijazah semata.

Sehingga, masyarakat yang memiliki skill juga mendapatkan perhatian.

”Mungkin skill juga jadi pertimbangan dalam mencari kerja, tidak hanya soal lulusan saja,” pungkasnya. (za/bil)

Editor : Hera Marylia Damayanti
Moh. Lailur Rachman mencari kerja lulusan sma ordal KESULITAN