BANGKALAN, RadarMadura.id – Ketika mendengar kata literasi, kemungkinan yang pertama terlintas di benak adalah perpustakaan dan buku.
Namun bagi Zhafira Zila Qonita, jejak pengetahuan bisa hidup di banyak tempat. Di ruang publik, sekolah, komunitas, hingga peninggalan sejarah.
Pandangan itulah yang dituangkan Zhafira dalam konten videonya yang berjudul Jejak Literasi di Bangkalan.
Karya tersebut mengantarkannya menjadi peraih Juara I Lomba Video Konten Literasi yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Bangkalan tingkat kabupaten 2026.
Mahasiswi Universitas Ciputra Surabaya jurusan informatika itu memang memiliki ketertarikan terhadap dunia content creator.
Dia ingin membuat konten yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan manfaat bagi orang lain.
Sejak awal, Zhafira tidak ingin membuat video yang hanya berpusat pada perpustakaan.
Dia mencoba mencari berbagai bentuk literasi yang tumbuh di tengah masyarakat. Proses pencarian ide pun dilakukan secara bertahap.
Setelah menemukan perpustakaan, muncul pertanyaan tentang lokasi lain yang juga menjadi ruang tumbuhnya literasi.
Pencarian itu membawanya ke Taman Baca di Taman Paseban. Dia juga menemukan aktivitas mahasiswa yang membawa buku dan mengenalkan kegiatan literasi di ruang terbuka.
Dari sana, Zhafira mengenal komunitas Morteka yang memiliki kegiatan menceritakan kembali buku yang telah dibaca kepada anggota lain secara rutin sekitar dua minggu sekali.
Baginya, kegiatan sederhana itu menunjukkan bahwa literasi bisa tumbuh menjadi kebiasaan melalui komunitas.
”Jadi, melalui video Jejak Literasi di Bangkalan, saya ingin menunjukkan bahwa literasi itu sebenarnya hidup di banyak tempat, dilakukan oleh banyak orang, dan bukan hanya tentang perpustakaan atau membaca buku saja,” katanya Jumat (14/8).
Dalam video itu, Zhafira juga membawa penonton menelusuri jejak literasi dari sosok Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.
Baginya, keberadaan karya dan manuskrip peninggalan Syaikhona Kholil menunjukkan bahwa tradisi membaca, menulis, belajar, dan menyebarkan ilmu telah menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Bangkalan sejak dahulu.
Selain itu, dia memasukkan sekolah sebagai salah satu ruang literasi. Sebab, proses belajar di sekolah pada dasarnya merupakan bagian dari upaya membangun rasa ingin tahu, memahami sesuatu, dan mencari pengetahuan.
Untuk mendapatkan cerita yang utuh, Zhafira melakukan riset sebelum menentukan lokasi dan materi yang akan ditampilkan.
Dia berdiskusi dengan sejumlah pihak serta mencari informasi mengenai berbagai tempat dan komunitas yang berkaitan dengan literasi. Proses tersebut tidak berlangsung singkat.
Mulai menemukan ide, mengembangkan konsep, riset, mengambil gambar, hingga menyelesaikan proses editing membutuhkan waktu sekitar satu bulan.
Dalam penyusunan naskah, Zhafira sempat membuat materi yang cukup panjang. Setelah dievaluasi, naskah beberapa kali direvisi.
Informasi yang dianggap penting dipertahankan, sedangkan bagian yang terlalu padat disederhanakan. Semua disesuaikan dengan batas durasi maksimal tujuh menit.
Tantangan terbesar bagi Zhafira ketika harus menentukan konsep. Dia harus memikirkan cara membuat video berdurasi lima hingga tujuh menit tetap menarik di tengah kebiasaan masyarakat yang akrab dengan konten pendek.
Oleh karena itu, dia memberikan perhatian khusus pada pembuka video. Beberapa detik pertama dianggap penting untuk memancing rasa penasaran penonton.
Visual, musik, dan storytelling juga dipadukan agar video tidak terasa monoton. Zhafira ingin penonton bukan sekadar menerima informasi, tetapi ikut masuk ke dalam cerita yang dibangun.
Konsep tersebut diperkuat dengan wawancara bersama sejumlah orang yang terlibat langsung dalam kegiatan literasi.
Di antaranya pengelola Taman Baca Paseban, ketua IKMS, dan pendiri komunitas Morteka.
Dalam pengerjaannya, Zhafira menggunakan kamera Fujifilm untuk merekam gambar.
Sementara proses editing dilakukan menggunakan laptop dan perangkat lunak yang disesuaikan dengan kebutuhan video.
Menjelang batas akhir pengumpulan, Zhafira masih harus memastikan footage yang diambil cukup untuk kebutuhan video.
Masalah teknis juga sempat muncul ketika file video dipindahkan ke flashdisk. Ukuran file yang cukup besar membuat beberapa bagian video sempat mengalami kerusakan atau corrupt.
Dia pun harus kembali mengecek file secara keseluruhan untuk memastikan video dapat diputar dengan baik sebelum dikumpulkan.
Di tengah proses tersebut, dukungan sang ibu menjadi bagian yang sangat penting.
Bukan hanya memberi informasi mengenai lomba dan mendorong Zhafira untuk ikut, sang ibu juga menemani proses pengambilan gambar di sejumlah lokasi.
Baca Juga: Bawa Focal Length 100-400mm, Ini Alasan Sony FE 100-400mm F5.6-8 OSS Menarik
Bahkan ketika Zhafira harus menjadi panitia di kampus dan tidak bisa melakukan pengumpulan secara langsung, sang ibu membantu memindahkan file dan mengurus pengumpulan karya melalui flashdisk.
”Dukungan ibu bukan hanya dalam bentuk memberikan semangat, tetapi juga benar-benar terlibat dalam prosesnya dari awal sampai video tersebut akhirnya dikumpulkan,” ujarnya.
Sejak awal, Zhafira cukup percaya diri dengan konsep yang dibuat. Dia berusaha menghadirkan video yang fun, tidak monoton, serta memperlihatkan banyak tempat dan orang yang menghidupkan literasi di Bangkalan.
Namun, rasa minder sempat muncul ketika melihat karya peserta lain. Menurut dia, karya peserta lain bagus-bagus.
”Saat dinyatakan sebagai juara pertama, rasa senang, terharu, dan bangga bercampur menjadi satu. Ada kepuasan ketika pesan yang ingin saya sampaikan melalui video ternyata mendapatkan apresiasi dan diterima dengan baik,” ucapnya.
Jika kembali diberi kesempatan membuat video literasi, dia ingin mengangkat pertanyaan sederhana.
Yakni, mengapa ketika akses terhadap buku semakin mudah, masih banyak orang yang belum tertarik membaca?
”Saya tidak ingin sekadar mengajak masyarakat ”Ayo membaca”. Namun, saya ingin membuat orang berpikir, kalau saya belum suka membaca, apa yang bisa membuat saya mau membuka halaman pertama?” pungkasnya. (ina/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti