Kisah dr Anastasia Mulyadi sebagai Tenaga Kesehatan di Kabupaten Bangkalan

Amin Basiri • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:25 WIB
NAKES: dr Anastasia saat ditemui di ruang kerjanya.
NAKES: dr Anastasia saat ditemui di ruang kerjanya.

BANGKALAN, RadarMadura.id - Menjadi dokter bukanlah cita-cita yang sejak awal tumbuh dari keinginan Anastasia Mulyadi. Profesi itu justru merupakan harapan yang disematkan orang tuanya sejak kecil. Sesuai dengan namanya, Anastasia diharapkan kelak menjadi dokter anestesi.

Anastasia menyadari bahwa menjadi dokter bukan sekadar menjalani profesi di bidang kesehatan. Lebih dari itu, profesi tersebut menjadi kesempatan untuk membantu orang lain sekaligus memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat.

”Awalnya dari keinginan orang tua. Alhamdulillah diberi kelancaran. Akhirnya, sejalan dengan keinginan pribadi karena tujuannya menyembuhkan orang sakit dan bisa bermanfaat buat sesama,” ucapnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran, Anastasia mengabdikan diri di dunia pelayanan kesehatan. Kariernya terus berkembang hingga dipercaya memimpin sejumlah fasilitas kesehatan (faskes).

Dia pernah menjadi kepala Puskesmas Tongguh, kemudian kepala Puskesmas Tanah Merah. Hingga akhirnya, dia dipercaya memimpin Puskesmas Bangkalan.

Bagi Anastasia, memimpin puskesmas bukan hanya tentang melayani pasien yang datang untuk berobat. Upaya menjaga kesehatan masyarakat juga harus dilakukan dari hulu. Mulai pencegahan penyakit, deteksi dini, hingga pemberdayaan masyarakat.

Di Puskesmas Bangkalan, berbagai kegiatan rutin maupun inovasi terus dijalankan. Di antaranya, mini lokakarya lintas sektor (linsek), mini lokakarya puskesmas, pemberdayaan kader, hingga penguatan kegiatan posyandu.

Sejumlah inovasi juga dikembangkan untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Di antaranya Gema Bang Afik dan Si Cecep. Berbagai program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pelayanan sekaligus meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kesehatan.

”Pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Bangkalan berjalan baik,” ujarnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi salah satu penyakit yang banyak ditangani. Sementara itu, kelompok usia dewasa tercatat sebagai salah satu kelompok yang paling banyak membutuhkan pelayanan kesehatan.

Tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan tersebut terlihat dari jumlah kunjungan ke Puskesmas Bangkalan. Dalam sehari, kunjungan bisa mencapai 150 hingga 200 orang.

Namun, tingginya angka kunjungan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sejak dini sudah optimal. Anastasia masih menemukan masyarakat yang baru datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisi penyakit sudah cukup parah.

Salah satu penyakit yang kerap dianggap sepele adalah hipertensi. Padahal, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat memperburuk kondisi kesehatan dan meningkatkan risiko berbagai penyakit lainnya.

Karena itu, upaya pencegahan menjadi bagian penting dalam pelayanan kesehatan. Masyarakat didorong menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Puskesmas Bangkalan juga terus memperkuat pelayanan berbasis masyarakat. Saat ini terdapat 88 posyandu yang memiliki jadwal kegiatan setiap bulan. Pelayanannya menyasar berbagai kelompok usia.

Balita dan ibu hamil mendapat pemantauan melalui posyandu. Sementara itu, kelompok lanjut usia (lansia) mendapat perhatian melalui Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis). Untuk remaja, salah satu intervensi yang dilakukan adalah pemberian tablet tambah darah.

Deteksi dini juga dilakukan melalui skrining penyakit menular maupun tidak menular. Langkah tersebut penting agar penyakit dapat diketahui lebih awal sehingga penanganan bisa segera dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi lebih berat.

Upaya menjaga kesehatan masyarakat juga tidak hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan. Koordinasi dengan pemerintah desa dan kelurahan terus diperkuat, salah satunya melalui musyawarah masyarakat desa (MMD).

Kerja sama lintas sektor dinilai penting karena persoalan kesehatan di masyarakat tidak dapat diselesaikan hanya oleh tenaga kesehatan. Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar program kesehatan dapat berjalan secara optimal.

Bagi Anastasia, pengalaman mengabdi sebagai dokter juga tidak hanya diperoleh di ruang pemeriksaan. Salah satu pengalaman paling berkesan dalam perjalanan kariernya terjadi ketika dirinya menjadi bagian dari Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) untuk mendampingi jemaah asal Bangkalan pada 2024.

Saat itu, Anastasia bertugas dalam Kloter 100. Dia harus mendampingi jemaah selama menjalankan rangkaian ibadah haji sekaligus memastikan kondisi kesehatan mereka tetap terpantau.

Tantangannya tidak ringan. Terdapat dua jemaah yang sejak sebelum keberangkatan sudah mengalami sakit. Bersama tim, Anastasia harus melakukan pemantauan secara intensif sekaligus memberikan pelayanan kesehatan selama berada di Tanah Suci.

Sebagai petugas kesehatan haji, dia tidak bekerja seorang diri. Koordinasi dengan ketua kloter, tim medis, serta pihak terkait menjadi kunci agar pelayanan kepada jemaah berjalan maksimal.

”Harus kerja sama dengan kloter, tim medis, dan lainnya. Alhamdulillah semua jemaah selamat,” ucapnya.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen yang paling membekas bagi Anastasia. Selain menjadi kesempatan untuk mengabdikan keahlian sebagai dokter, tugas tersebut juga mempertemukannya dengan tantangan pelayanan kesehatan dalam situasi dan lingkungan yang berbeda.

Kini, sebagai dokter sekaligus kepala Puskesmas Bangkalan, Anastasia berharap masyarakat tidak hanya datang ke fasilitas kesehatan ketika sudah sakit. Kesadaran untuk menjaga kesehatan dan melakukan pemeriksaan secara rutin perlu ditanamkan sejak dini.

Dia mengingatkan masyarakat agar lebih peduli terhadap kondisi tubuh. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan program cek kesehatan gratis (CKG).

”Masyarakat harus lebih care terhadap kesehatan. Minimal satu kali dalam satu tahun melaksanakan cek kesehatan gratis,” sarannya. (*/han)

Editor : Amin Basiri
bangkalan tenaga kesehatan dokter